Warga Panic Buying BBM Dipicu Konflik Iran, Stok di Indonesia Bisa Cepat Habis?

Minggu, 08 Maret 2026 | 04:33 WIB
Warga Panic Buying BBM Dipicu Konflik Iran, Stok di Indonesia Bisa Cepat Habis?


Sumber: Kompas.com  | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Warga berbondong-bondong mengantre di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) di Kota Banda Aceh, Kamis (5/3/2026).

Mereka mengaku ketakutan tak mendapat BBM di tengah konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz, jalur di Teluk Persia yang dilalui untuk pengiriman seperlima minyak dunia.

Salah satu warga yang ikut mengantree adalah Saiful Kamar. Dia mengaku ikut mengantree pada Kamis malam karena melihat warga lain yang juga melakukannya.

“Budaya masyarakat kita ini sering ikut-ikutan. Ada orang yang antre, yang lain juga ikut. Nanti kalau tidak ikut antre takut minyaknya habis, padahal sebenarnya stok dari Pertamina aman,” katanya, dikutip dari Antara.

Selain itu, dia trauma jika kelangkaan BBM kembali terjadi setelah bencana banjir bandang di Aceh lalu.

“Mungkin juga orang-orang panik karena pengalaman bencana kemarin. Jadi ketika melihat situasi seperti ini mereka langsung mengantisipasi," tuturnya.

Petugas kebersihan SPBU Maujul Bahri mengatakan, antrean kendaraan mulai memadati SPBU sejak pukul 10.00 WIB.

Baca Juga: Cuaca Sumut Minggu (8/3): Berawan Dominan, Wilayah Ini Diguyur Hujan Ringan!

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa stok BBM nasional masih bisa bertahan hingga 20 hari ke depan.

Meski terdengar singkat, tapi stok tersebut sesuai dengan penyimpanan maksimal Indonesia sehingga ketersediaan BBM di Indonesia dipastikan aman.

Lantas, apakah fenomena panic buying justru membuat persediaan BBM di Indonesia semakin menipis?

Panic buying bisa menyebabkan kelangkaan BBM

Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan panic buying BBM di tengah konflik Timur Tengah.

Dia mengatakan, fenomena panic buying justru bisa menyebabkan kelangkaan BBM di Indonesia.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak melakukan panic buying, tidak melakukan penimbunan yang nantinya justru bisa menyebabkan kelangkaan,” kata Anggia, dikutip dari Antara.

Ia menyampaikan, sejauh ini stok BBM nasional dipastikan aman.

Distribusi BBM ke sejumlah daerah juga masih berjalan lancar menjelang Lebaran 2026.

Kementerian ESDM turut memastikan bahwa harga BBM bersubsidi tidak naik di tengah dinamika konflik Timur Tengah.

Anggie berkata, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah menyampaikan pesan bahwa harga BBM bersubsidi, seperti Pertalite, tidak akan mengalami kenaikan di tengah dinamika harga minyak dunia saat ini.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jabar Minggu, 8 Maret 2026: Siapkan Payung Agar Aktivitas Lancar

Sebagai informasi, harga minyak dunia melonjak tajam di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah, Brent naik 4,93% ke US$ 85,41 per barel.

Sementara US WTI melonjak 8,51% ke US$ 81,01 per barel.

Harga tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dollar AS per barel, dan US WTI berada di angka 57,87 dollar AS per barel.


Terbaru