Jabodetabek

Cakupan Pemberian Obat Pencegahan TBC di DKI Jakarta Sudah 26%

Selasa, 03 November 2026 | 12:37 WIB
Cakupan Pemberian Obat Pencegahan TBC di DKI Jakarta Sudah 26%

ILUSTRASI. Kemenkes mencatat cakupan pemberian obat pencegahan TBC atau Terapi Pencegahan Tuberkulosis di DKI Jakarta meningkat lebih dari lima kali lipat.(Dok/Kementerian Kesehatan)


Reporter: Aura Putri  | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat cakupan pemberian obat pencegahan tuberkulosis (TBC) atau Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di DKI Jakarta meningkat lebih dari lima kali lipat. Cakupan yang sebelumnya di bawah 5% dalam dua hingga tiga tahun lalu, kini telah mencapai lebih dari 26%.

Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) merupakan pemberian obat kepada orang yang berisiko terinfeksi TBC, terutama mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien. Upaya ini dilakukan untuk mencegah infeksi berkembang menjadi penyakit TBC aktif.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, peningkatan tersebut menjadi salah satu kemajuan dalam upaya mempercepat eliminasi TBC. Namun, pemerintah masih perlu memperkuat pencegahan agar penularan penyakit tersebut dapat ditekan.

Baca Juga: Kenali 5 Ciri Ayam Petelur yang Sudah Tidak Produktif

"Selama ini kita cukup baik dalam mengobati pasien TBC. Tantangan kita adalah pencegahan. Jika ditemukan kontak erat yang berisiko tertular, mereka harus segera dilacak dan diberikan obat pencegahan, sementara pasien yang sudah sakit langsung diobati. Dengan begitu, kasus baru bisa dicegah sebelum berkembang menjadi penyakit," ujar Benjamin dikutip dari laman resmi Kemenkes, Selasa (3/11/2026).

Benjamin mengapresiasi peningkatan cakupan pemberian TPT di DKI Jakarta yang kini telah melampaui 26%. Meski demikian, ia menilai pelacakan kontak erat masih menjadi tantangan, terutama karena banyak masyarakat di Jakarta memiliki aktivitas pekerjaan di luar rumah.

Karena itu, Kemenkes mendorong penguatan kerja sama antara pemerintah daerah, Puskesmas, rumah sakit, hingga pemerintah wilayah agar pelacakan kontak erat dan pemberian obat pencegahan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan, dukungan Kemenkes dan program penelusuran TBC menjadi momentum untuk mempercepat pengendalian TBC di Jakarta.

Baca Juga: Waspada Hujan Lebat! BMKG Peringatkan Hujan di Jabodetabek 3/11/2026, Cek Wilayahnya

Menurut Ani, tantangan berikutnya adalah memperkuat upaya pencegahan agar kasus TBC tidak terus bermunculan pada tahun-tahun berikutnya.

Asal tahu saja, mengutip laman publikasi pada laman Kemenkes (28/10), Indonesia menempati peringkat kedua dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia.

Indonesia menyumbang sekitar 10% kasus global, dengan perkiraan 1,08 juta orang jatuh sakit dan 126.000 orang meninggal akibat TBC setiap tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru