KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mempertegas strategi investasi sosialnya di sektor kesehatan sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan.
Melalui payung Bakti BCA, perseroan mengarahkan program pada pencegahan stunting dari hulu, dengan fokus pada kesehatan ibu hamil dan penguatan layanan deteksi dini di fasilitas kesehatan.
Langkah ini bukan sekadar kegiatan filantropi, melainkan bagian dari pendekatan bisnis berkelanjutan BCA dalam membangun kualitas sumber daya manusia sejak awal.
Perusahaan melihat isu stunting dan kesehatan ibu sebagai faktor krusial yang berdampak langsung terhadap produktivitas ekonomi jangka panjang.
Baca Juga: Cegah Stunting Lewat Konsumsi Telur
Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono menegaskan, upaya menekan angka kematian ibu dan risiko stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk sektor swasta.
"Kami ingin mendorong deteksi dini risiko kehamilan agar penanganan bisa lebih cepat dan tepat," ujarnya dalam keterangan tertulis seperit dikutip, Rabu (22/4/2026).
Dalam implementasinya, BCA tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga memperkuat ekosistem layanan kesehatan. Salah satunya melalui pemberian perangkat deteksi dini preeklamsia ke Puskesmas Cisompet, Garut.
Bantuan tersebut mencakup USG, patient monitor, tablet Android, serta aplikasi Cexup yang memungkinkan tenaga kesehatan melakukan analisis risiko secara lebih akurat dan efisien.
Preeklamsia sendiri menjadi perhatian karena berkontribusi pada kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah—dua faktor utama pemicu stunting.
Dengan intervensi di fase kehamilan, BCA menargetkan dampak jangka panjang berupa penurunan angka stunting sekaligus peningkatan kualitas generasi mendatang.
Baca Juga: 3 Cara Deteksi Dini Penyakit Jantung untuk Pastikan Jantung Tetap Sehat
Selain penguatan fasilitas, BCA juga menjalankan program berbasis kolaborasi. Melalui program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia), perusahaan bersama organisasi filantropi dan sektor swasta mendukung percepatan penurunan stunting secara nasional.
Program ini berlangsung selama 2023–2026 dengan total donasi mencapai US$1 juta.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan, pendekatan yang dilakukan bersifat menyeluruh dari hulu ke hilir. Hingga 2025, sebanyak 6.070 anak usia di bawah dua tahun telah menerima intervensi gizi melalui program tersebut.
“Pencegahan stunting harus dimulai sejak sebelum kelahiran, termasuk kesiapan keluarga dan kesehatan ibu selama kehamilan,” kata Hera.
BCA juga sebelumnya telah menggulirkan inisiatif lain seperti program “Ayo Cegah Stunting” yang menitikberatkan pada edukasi dan intervensi dini. Konsistensi ini menunjukkan arah strategis perusahaan dalam menjadikan isu kesehatan sebagai bagian dari agenda ESG (Environmental, Social, and Governance).
Di sisi lain, kegiatan sosialisasi dan deteksi dini preeklamsia yang digelar bersama Kementerian Kesehatan di Gedung Prof. Sujudi, Selasa (21/4), menjadi bagian dari implementasi program tersebut.
Baca Juga: Siloam Hospitals TB Simatupang Perkuat Layanan Deteksi Dini Kanker Saluran Cerna
Dalam kegiatan ini, BCA turut melibatkan 31 ibu hamil dari Klinik Bakti Medika Mangga Dua untuk mendapatkan edukasi serta layanan pemeriksaan dini, termasuk Mini Medical Check-Up gratis.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk penguatan kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah dalam menekan angka kematian ibu dan prevalensi stunting di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News