KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembangan ekowisata Kampung Sukagalih, Desa Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi, mulai diarahkan untuk memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan.
Selain menawarkan jalur trekking dan pengalaman menikmati alam, kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ini juga mengembangkan produk olahan warga serta potensi edukasi konservasi Owa Jawa.
Program pengembangan ekowisata berbasis masyarakat yang didukung Yayasan KEHATI melibatkan kelompok perempuan dan anak muda dalam menyiapkan fasilitas wisata, mengembangkan produk lokal, hingga memperkenalkan keanekaragaman hayati kepada pengunjung.
Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI Christian Natalie mengatakan, pengembangan ekowisata perlu menempatkan masyarakat sebagai bagian utama karena warga memahami potensi dan kehidupan di wilayahnya.
Baca Juga: Perkuat Wisata Berbasis Event, Labuan Bajo Dorong Ekonomi Kreatif Lokal
“Yang ingin dibangun bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, tetapi juga kegiatan wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat dan tetap menjaga alam. Berbasis konservasi, bukan eksploitatif, potensi yang ada di Sukagalih bisa dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang menarik, sekaligus mengenalkan pengunjung pada lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat,” ujar Christian dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
Salah satu potensi yang dikembangkan adalah jalur trekking yang sebelumnya telah dipetakan oleh Komunitas Sawala Leuweung. Sebanyak enam titik telah diidentifikasi untuk pemasangan papan informasi guna membantu pengunjung mengenali lingkungan dan keanekaragaman hayati di sepanjang jalur wisata.
Pengembangan fasilitas dasar juga dilakukan di area berkemah, antara lain melalui pembangunan dan perbaikan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) serta pemasangan jaringan perpipaan. Anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Kopel turut terlibat dalam pengerjaan fasilitas tersebut.
Di sisi lain, warga mulai mengembangkan produk olahan untuk menambah nilai ekonomi hasil pertanian dan potensi lokal. Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, misalnya, tengah menguji coba produksi manisan terong panjang dan dodol waluh.
Produk tersebut mulai ditawarkan melalui warung dan kedai kopi, serta diperkenalkan melalui berbagai saluran promosi lokal.
Penguatan kapasitas masyarakat juga dilakukan melalui pelatihan teknik entres dan sambung pucuk yang diikuti anggota KTH, KWT, dan Petani Milenial. Keterampilan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak tanaman secara vegetatif, mendukung pembibitan kelompok, serta mengembangkan agroforestri.
Sementara itu, Komunitas Sawala Leuweung mengembangkan ruang belajar dan diskusi mengenai isu sosial, ekonomi, serta lingkungan. Komunitas ini juga menginisiasi podcast Nyawala dan melakukan kunjungan belajar ke sejumlah destinasi wisata berbasis masyarakat untuk mempelajari pengelolaan wisata, homestay, pengenalan keanekaragaman hayati, hingga pemasaran produk lokal.
Baca Juga: Potensi Wisata Sumbawa Dibidik Masuk Pasar Digital Lewat OTA
Selain produk lokal dan fasilitas wisata, Sukagalih memiliki potensi untuk mengembangkan kegiatan edukasi mengenai Owa Jawa (Hylobates moloch), primata endemik Pulau Jawa yang berstatus terancam punah atau Endangered dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Di Kecamatan Kabandungan, Yayasan KEHATI turut mendukung program konservasi Owa Jawa melalui pemetaan sebaran, pendugaan populasi, dan kampanye edukasi. Dalam pemetaan awal, tim mengidentifikasi sedikitnya 39 kelompok Owa Jawa di delapan lokasi pengamatan. Temuan tersebut masih dianalisis lebih lanjut dan belum menjadi estimasi populasi final.
Informasi tersebut berpotensi menjadi materi edukasi bagi pengunjung untuk memahami keterkaitan antara kelestarian hutan dan habitat satwa liar. Pengenalan Owa Jawa dapat dikembangkan melalui papan informasi maupun kegiatan interpretasi alam, sehingga pengalaman wisata tidak hanya berfokus pada lanskap, tetapi juga pengetahuan mengenai konservasi.
Christian mengatakan, hasil pemetaan Owa Jawa dapat memperkaya materi edukasi dalam pengembangan ekowisata di Sukagalih.
“Informasi dari kegiatan pemetaan Owa Jawa bisa menjadi bahan yang menarik untuk memperkaya edukasi dalam pengembangan ekowisata. Pengunjung dapat mengenal satwa endemik yang hidup di sekitar mereka dan memahami pentingnya menjaga habitatnya. Dengan begitu, wisata juga bisa menjadi kesempatan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati,” kata Christian.
Ke depan, pengembangan ekowisata Sukagalih masih membutuhkan peningkatan kapasitas pengelola, pengembangan layanan, serta kerja sama berbagai pihak.
Penguatan produk lokal dan edukasi konservasi diharapkan dapat memperluas manfaat kegiatan wisata bagi masyarakat sekaligus mendukung pelestarian kawasan hutan di sekitar TNGHS.
Baca Juga: Sport Tourism Kian Moncer, Event Lari Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Yogyakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News