Sport Tourism Kian Moncer, Event Lari Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Yogyakarta

Senin, 20 Juli 2026 | 17:50 WIB
Sport Tourism Kian Moncer, Event Lari Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Yogyakarta

ILUSTRASI. Event Lari Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Yogyakarta (KONTAN/Daniel Prabowo).


Reporter: Shintia Rahma Islamiati  | Editor: shintia rahma

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Event lari tak lagi sekadar menjadi ajang olahraga, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi daerah. Salah satu daerah yang turut merasakan dampak ini adalah Provinsi Daerah Istimewa (D.I.) Yogyakarta. 

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi D.I. Yogyakarta Imam Pratanadi mengatakan, penyelenggaraan event lari menjadi salah satu strategi pemerintah daerah dalam mengembangkan sport tourism sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurut Imam, Yogyakarta memiliki perpaduan budaya, keindahan alam, dan keramahan masyarakat yang menjadi daya tarik bagi para pelari. 

"Event lari berskala besar terbukti menjadi stimulan ekonomi yang efektif karena mendatangkan wisatawan nusantara maupun mancanegara dalam jumlah besar sekaligus mempromosikan gaya hidup sehat," ujarnya kepada KONTAN baru-baru ini.

Dalam beberapa tahun terakhit, penyelenggaraan event lari di Yogyakarta berkembang pesat. Sejumlah ajang yang rutin digelar antara lain Mandiri Jogja Marathon, Malioboro Run, Coast to Coast, hingga berbagai event trail run di kawasan Gunung Merapi dan Pantai Selatan.

 

Mandiri Jogja Marathon 2026

 

Baca Juga: Resmi! WFH ASN Setiap Jumat di Yogyakarta: Siapa yang Tetap Wajib Masuk Kantor?

 

Untuk mendukung penyelenggaraan event tersebut, pemerintah daerah memberikan fasilitasi mulai dari kemudahan perizinan, perbaikan infrastruktur jalur lari, pengamanan dan rekayasa lalu lintas bersama kepolisian, hingga promosi melalui kanal resmi Dinas Pariwisata Yogyakarta.

Dampak ekonomi dari penyelenggaraan event lari pun dinilai cukup besar, misalnya saja, pada tingkat okupansi hotel saat acara berlangsung.

"Pada akhir pekan saat event berlangsung, tingkat okupansi hotel di pusat kota hingga area penyangga, seperti Sleman dan Bantul, seringkali mencapai 80%,” kata Imam.

Selain itu, lama tinggal wisatawan juga meningkat karena banyak peserta datang bersama keluarga dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berlibur di Yogyakarta.

Tak hanya sektor akomodasi, berbagai usaha lokal juga ikut merasakan manfaatnya. Permintaan jasa transportasi seperti rental mobil, ojek daring, kereta api hingga penerbangan meningkat selama event berlangsung. Sementara sektor kuliner dan pusat oleh-oleh dipadati pengunjung.

Pemerintah Yogyakarta juga mendorong penyelenggara menyediakan area khusus bagi pelaku UMKM lokal di lokasi race expo maupun garis finis agar produk kerajinan dan makanan khas Jogja bisa dipasarkan langsung kepada peserta.

Baca Juga: Garmin Run Indonesia Bergabung di Marathon Series, Apa Beda dengan Tahun Sebelumnya?

Imam menilai, sport tourism menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah karena tidak mengenal musim sepi wisatawan.

Ribuan peserta yang datang dalam satu waktu menciptakan perputaran uang mulai dari biaya pendaftaran, akomodasi, konsumsi hingga belanja yang turut berkontribusi terhadap pendapatan daerah.

Meski demikian, penyelenggaraan event lari juga berpotensi menimbulkan gangguan lalu lintas.

Untuk meminimalkan dampaknya, pemerintah melakukan sosialisasi jauh hari sebelum pelaksanaan, menerapkan sistem buka-tutup jalan secara dinamis, menyiapkan jalur alternatif, serta mengarahkan perlombaan dimulai sejak pagi hari pada akhir pekan agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat.

Ke depan, Pemerintah Yogyakarta juga berupaya memperluas manfaat ekonomi dengan melibatkan masyarakat secara langsung.

Salah satunya melalui penampilan kelompok seni dan komunitas lokal sebagai penyemarak di sepanjang rute serta mengarahkan lintasan melewati desa wisata sehingga homestay milik warga ikut memperoleh manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru