KONTAN.CO.ID - NGANJUK. Nilai ekspor nonmigas Jawa Timur mencatatkan kinerja solid sepanjang 2025.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan ekspor nonmigas provinsi ini mencapai US$ 29,77 miliar atau tumbuh 18,17% secara tahunan (year on year/YoY).
“Total ekspor nonmigas naik 18,17% YoY,” ujarnya saat media gathering di Nganjuk, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jabodetabek: Siapkan Payung Hari Ini Agar Aktivitas Tetap Lancar!
Dari sisi negara tujuan, Swiss menjadi pasar utama ekspor nonmigas Jawa Timur dengan nilai mencapai US$ 4,41 miliar atau naik 14,82% YoY.
Posisi berikutnya ditempati China dengan nilai ekspor US$ 4,08 miliar (tumbuh 13,72% YoY), disusul Amerika Serikat sebesar US$ 3,75 miliar yang juga meningkat 13,72% YoY.
Berdasarkan komoditas, perhiasan menjadi kontributor terbesar dengan nilai ekspor mencapai US$ 6,86 miliar.
Selanjutnya diikuti tembaga sebesar US$ 2,62 miliar, lemak dan minyak hewan atau nabati US$ 2,38 miliar, kayu dan produk turunannya US$ 1,71 miliar, serta produk perikanan US$ 1,34 miliar.
Secara keseluruhan, nilai ekspor Jawa Timur pada 2025 mencapai US$ 30,4 miliar atau tumbuh 16,61% dibandingkan realisasi 2024 sebesar US$ 26,07 miliar.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Bandung: Aktivitas Luar Ruang Perlu Antisipasi Ekstra
Awal 2026 Tertekan Gejolak Global
Memasuki 2026, kinerja ekspor mulai menghadapi tekanan. Hingga Februari 2026, total ekspor Jawa Timur tercatat US$ 4,02 miliar atau turun tipis 0,54% YoY.
“Memang dibanding tahun lalu masih ada penurunan, karena sedang terjadi gejolak global. Namun masih relatif terjaga,” kata Emil.
Secara sektoral, penurunan terdalam terjadi pada ekspor migas yang terkontraksi 27,16% YoY. Sementara itu, ekspor nonmigas relatif stabil dengan penurunan tipis sebesar 0,04% YoY.
Emil berharap kinerja ekspor tetap terjaga meski dibayangi ketidakpastian global.
Baca Juga: Cuaca Surabaya Jumat Ini: Cek Potensi Hujan & Suhu Ekstrem!
Kontribusi Signifikan ke Ekspor Nasional
Lebih lanjut, Emil mengungkapkan kontribusi ekspor gabungan dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sulawesi Tenggara mencapai 31,99% terhadap total ekspor nasional per Februari 2026.
Secara rinci, kontribusi Jawa Timur sebesar 8,33%, Jawa Barat sebesar 14,56%, dan Sulawesi Tenggara sebesar 9,10%.
“Artinya, tiga wilayah ini sudah menyumbang sekitar sepertiga ekspor nasional,” jelasnya.
Ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan terus mendorong penguatan sektor industri, khususnya manufaktur dan industri padat karya sebagai basis ekspor.
Dukungan juga diberikan melalui pembiayaan ekspor oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) serta insentif fiskal guna menjaga daya saing pelaku usaha di pasar global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News