Peristiwa

Godzilla El Nino 2026 Mengancam Indonesia, Ini Sektor Paling Terdampak

Minggu, 05 April 2026 | 03:50 WIB
Godzilla El Nino 2026 Mengancam Indonesia, Ini Sektor Paling Terdampak

ILUSTRASI. BMKG prediksikan potensi El Nino kuat 2026, berpotensi memicu kekeringan parah di Indonesia. (ANTARA/ARNAS PADDA)


Sumber: Kompas.com  | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Istilah Godzilla El Nino tengah ramai di media sosial X. Penyebutan ini digunakan untuk menggambarkan intensitas El Nino yang diprediksi sangat kuat pada 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengklarifikasi bahwa istilah "Godzilla" tidak termasuk terminologi ilmiah dalam klimatologi.

Dikutip dari laman resminya, BMKG menjelaskan bahwa El Nino hanya terbagi menjadi tiga kategori, yakni, lemah, moderat, dan kuat.

Istilah "Godzilla" muncul setelah BRIN menyebut kemungkinan adanya kombinasi El Nino Southern Oscillation (ENSO) positif dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan NASA, Bill Patzert, pada 2015.

Ia menggunakan kata “Godzilla” untuk menggambarkan kekuatan El Nino yang luar biasa besar, salah satu yang terkuat sejak 1950.

Ini artinya, Godzilla El Nino bukan hal baru, melainkan fenomena El Nino yang dikhawatirkan berkembang sangat besar dan membawa dampak luas, terutama kekeringan, berkurangnya air, gangguan pertanian, dan tekanan pada pangan.

Lantas, apa dampak El Nino 2026?

Dampak El Nino 2026

Guru Besar bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, mengatakan El Nino adalah fenomena tahunan yang biasa terjadi.

Namun, tahun ini berpotensi terjadi lebih kuat dari biasanya karena perubahan iklim global. Hal ini memicu terjadi kekeringan yang berdampak pada sektor-sektor tertentu.

Baca Juga: Pramono Wajibkan Gedung Lebih dari Empat Lantai Terhubung CCTV Pemprov DKI

"El Nino itu sebenarnya siklus alami, sudah lama terjadi. Tapi sekarang polanya terasa makin cepat karena pemanasan global," kata Bayu, dikutip dari laman resmi UGM.

"Nah, kalau intensitasnya sudah sangat kuat, dampaknya pasti terasa ke pertanian, terutama dari sisi produksi,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, komoditas pangan utama yang membutuhkan pasokan air akan sangat terdampak fenomena ini.

Tanaman seperti padi dan jagung menjadi sangat rentan karena fase pertumbuhannya bergantung pada kecukupan air.

Bayu menerangkan, ketika suplai air menurun, tanaman tidak dapat berkembang secara optimal.

Dalam kondisi ekstrem, tanaman bahkan berpotensi mengalami kerusakan permanen.

“Padi dan jagung ini paling terasa dampaknya karena butuh air cukup banyak. Kalau airnya kurang, pertumbuhannya terganggu, bahkan bisa berujung gagal panen,” ungkapnya.

Kerentanan ini bisa berlanjut pada risiko jangka pendek yang dihadapi langsung oleh petani. Misalnya, risiko penurunan hasil panen hingga gagal panen.

Menurut Bayu, situasi ini berimbas pada pendapatan petani yang sangat bergantung pada hasil panen. Di sisi lain, biaya produksi yang telah dikeluarkan berpotensi tidak kembali sehingga petani merugi.

“Kalau kekeringan terjadi setelah tanam, petani bisa gagal panen. Artinya, biaya yang sudah dikeluarkan itu tidak kembali dan jadi kerugian,” ungkapnya.

 

Baca Juga: Semakin Mahal, Ini Harga iPhone 14, 15, 16, 17 Terbaru April 2026

Mitigasi El Nino 2026

Menindaklanjuti potensi tersebut, Bayu menyarankan langkah mitigasi di tingkat petani untuk menekan risiko kerugian.

Salah satunya dengan memperkuat komunikasi antara petani dan penyuluh pertanian.

Dia mengatakan, akses mengenai kondisi cuaca dan pilihan varietas tanaman menjadi faktor penentu dalam strategi budidaya.

Selain itu, pendampingan yang intensif juga membantu petani menyesuaikan praktik di lapangan.

“Kuncinya ada di komunikasi petani dan penyuluh. Kalau informasinya jelas, petani bisa ambil keputusan yang lebih tepat di lapangan,” terangnya.

Upaya adaptasi ini, menurut Bayu, sebenarnya sudah didukung oleh pengalaman Indonesia dalam menghadapi fenomena El Nino pada periode sebelumnya.

Bahkan berbagai program telah dijalankan untuk mengantisipasi dampak kekeringan, termasuk penguatan infrastruktur dan teknologi pertanian.

Inovasi seperti irigasi hemat air dan pengembangan varietas tahan kekeringan terus dikembangkan.

Selain itu, informasi cuaca kini semakin mudah diakses secara real time.

“Sebenarnya kita sudah punya pengalaman di tahun 2024, misalnya lewat pompanisasi dan inovasi irigasi tetes. Varietas tahan kekeringan juga sudah dikembangkan, tinggal dimanfaatkan dengan baik,” kata Bayu.

Tonton: Jet Tempur AS Berjatuhan! Konflik Meledak, Harga Minyak Naik & Dunia Terancam Krisis

Potensi fenomena El Nino di Indonesia

Pada dasarnya, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih hangat dari biasanya.

Dalam kondisi normal, angin di wilayah khatulistiwa mendorong air laut hangat ke arah barat, termasuk ke Indonesia, sehingga mendukung pembentukan awan dan hujan.

Namun, saat El Niño terjadi, angin ini melemah, sehingga air hangat bergeser ke tengah dan timur Pasifik.

Akibatnya, pusat pembentukan awan dan hujan ikut bergeser menjauh dari Indonesia, sehingga curah hujan di wilayah ini cenderung berkurang.

Dampak El Nino tak hanya dirasakan satu negara, tetapi juga pada cuaca global.

Ada wilayah yang menjadi lebih kering, sementara daerah lain justru mengalami peningkatan hujan atau cuaca ekstrem.

Oleh karena itu, fenomena ini selalu dipantau serius oleh lembaga iklim dunia karena dampaknya bisa meluas ke sektor pertanian, air, lingkungan, kesehatan, hingga ekonomi.

Untuk tahun 2026, BMKG memprediksi bahwa El Nino masih dalam tahap potensi dan belum pasti terjadi.

Outlook NOAA per 12 Maret 2026 menyebutkan bahwa kondisi ENSO-netral kemungkinan bertahan hingga Mei–Juli 2026, dengan peluang El Nino meningkat sekitar 62 persen pada Juni–Agustus 2026.

Ini artinya, istilah “Godzilla” saat ini lebih tepat dipahami sebagai peringatan dini agar masyarakat bersiap, bukan sebagai kepastian akan terjadinya kejadian ekstrem.

Di Indonesia, dampak utama El Nino biasanya berupa penurunan curah hujan.

Hal ini bisa menyebabkan berkurangnya air di waduk dan sungai, sumur mengering, gangguan irigasi, penurunan hasil pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan mulai menghemat air dan menyiapkan cadangan sejak dini.

(Alinda Hardiantoro, Irawan Sapto Adhi)

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/04/04/100000365/godzilla-el-nino-2026-ancam-ri-ini-sektor-paling-terdampak?page=all#page1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 Tampilkan Semua

Video Terkait


Terbaru