Mitigasi El Nino 2026
Menindaklanjuti potensi tersebut, Bayu menyarankan langkah mitigasi di tingkat petani untuk menekan risiko kerugian.
Salah satunya dengan memperkuat komunikasi antara petani dan penyuluh pertanian.
Dia mengatakan, akses mengenai kondisi cuaca dan pilihan varietas tanaman menjadi faktor penentu dalam strategi budidaya.
Selain itu, pendampingan yang intensif juga membantu petani menyesuaikan praktik di lapangan.
“Kuncinya ada di komunikasi petani dan penyuluh. Kalau informasinya jelas, petani bisa ambil keputusan yang lebih tepat di lapangan,” terangnya.
Upaya adaptasi ini, menurut Bayu, sebenarnya sudah didukung oleh pengalaman Indonesia dalam menghadapi fenomena El Nino pada periode sebelumnya.
Bahkan berbagai program telah dijalankan untuk mengantisipasi dampak kekeringan, termasuk penguatan infrastruktur dan teknologi pertanian.
Inovasi seperti irigasi hemat air dan pengembangan varietas tahan kekeringan terus dikembangkan.
Selain itu, informasi cuaca kini semakin mudah diakses secara real time.
“Sebenarnya kita sudah punya pengalaman di tahun 2024, misalnya lewat pompanisasi dan inovasi irigasi tetes. Varietas tahan kekeringan juga sudah dikembangkan, tinggal dimanfaatkan dengan baik,” kata Bayu.
Tonton: Jet Tempur AS Berjatuhan! Konflik Meledak, Harga Minyak Naik & Dunia Terancam Krisis
Potensi fenomena El Nino di Indonesia
Pada dasarnya, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih hangat dari biasanya.
Dalam kondisi normal, angin di wilayah khatulistiwa mendorong air laut hangat ke arah barat, termasuk ke Indonesia, sehingga mendukung pembentukan awan dan hujan.
Namun, saat El Niño terjadi, angin ini melemah, sehingga air hangat bergeser ke tengah dan timur Pasifik.
Akibatnya, pusat pembentukan awan dan hujan ikut bergeser menjauh dari Indonesia, sehingga curah hujan di wilayah ini cenderung berkurang.
Dampak El Nino tak hanya dirasakan satu negara, tetapi juga pada cuaca global.
Ada wilayah yang menjadi lebih kering, sementara daerah lain justru mengalami peningkatan hujan atau cuaca ekstrem.
Oleh karena itu, fenomena ini selalu dipantau serius oleh lembaga iklim dunia karena dampaknya bisa meluas ke sektor pertanian, air, lingkungan, kesehatan, hingga ekonomi.
Untuk tahun 2026, BMKG memprediksi bahwa El Nino masih dalam tahap potensi dan belum pasti terjadi.
Outlook NOAA per 12 Maret 2026 menyebutkan bahwa kondisi ENSO-netral kemungkinan bertahan hingga Mei–Juli 2026, dengan peluang El Nino meningkat sekitar 62 persen pada Juni–Agustus 2026.
Ini artinya, istilah “Godzilla” saat ini lebih tepat dipahami sebagai peringatan dini agar masyarakat bersiap, bukan sebagai kepastian akan terjadinya kejadian ekstrem.
Di Indonesia, dampak utama El Nino biasanya berupa penurunan curah hujan.
Hal ini bisa menyebabkan berkurangnya air di waduk dan sungai, sumur mengering, gangguan irigasi, penurunan hasil pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan mulai menghemat air dan menyiapkan cadangan sejak dini.
(Alinda Hardiantoro, Irawan Sapto Adhi)
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/04/04/100000365/godzilla-el-nino-2026-ancam-ri-ini-sektor-paling-terdampak?page=all#page1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News