Hadapi lonjakan kasus Covid-19, Pemprov DKI Jakarta usulkan penambahan tracer

Rabu, 16 Juni 2021 | 16:42 WIB   Reporter: Ratih Waseso
Hadapi lonjakan kasus Covid-19, Pemprov DKI Jakarta usulkan penambahan tracer

ILUSTRASI. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti, di Balai Kota, Jakarta Pusat.

Seperti diketahui, terdapat peningkatan keterisian pasien Covid-19, per tanggal 31 Mei 2021 kapasitas tempat tidur isolasi di Jakarta sebesar 6.621 dan terpakai 2.176 atau 33% dan ICU sebesar 1.014 dan terpakai 362 atau 36%.

Lebih lanjut Widyastuti menyebut, BOR DKI Jakarta naik signifikan per tanggal 14 Juni. Dimana kapasitas tempat tidur isolasi sebanyak 7.341 terisi 5.752 atau sudah menyentuh 78% hanya dalam dua minggu. Kemudian ICU sebesar 1.086 sudah terisi 773 atau 71%.

Baca Juga: Puncak lonjakan Covid-19 diramal Juni, ini yang harus dilakukan

"Dari 78% keterisian tempat tidur tersebut 25%-nya merupakan warga luar DKI Jakarta dan komitmen kami tetap untuk tak membeda-bedakan pelayanan, tetapi ini menjadi peringatan bahwa virusnya tak mengenal batas wilayah,” terangnya.

Maka, hal tersebut terus diantisipasi dengan terus menambah jumlah BOR. Pemprov DKI Jakarta juga telah menggandeng berbagai pihak dan memanfaatkan berbagai sumber daya untuk menambah BOR.

"Kami berencana menambah fasilitas isolasi mandiri bekerja sama dengan pusat dengan BNPB, seperti Rusun Nagrak Cilincing, Wisma PMII, dan Wisma Ragunan yang nantinya akan digunakan sebagai fasilitas tambahan bila Wisma atlet mengalami lonjakan orang yang harus ditangani,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Provinsi Jakarta, Anies Baswedan, terus menguatkan sinergi dan kolaborasi dengan jajaran Forkopimda serta seluruh elemen masyarakat guna mengintervensi dan mengantisipasi agar Jakarta tak masuk ke fase genting.

Nantinya, penguatan ini akan diimplikasikan dalam berbagai kegiatan, seperti operasi gabungan guna membentuk pendisiplinan kolektif. Berdasarkan pengalaman pada tahun lalu, jika Jakarta masuk fase genting, maka Pemprov DKI harus menarik rem darurat yang akan berdampak pada perekonomian.

“Ibu Kota kini dalam kondisi yang memerlukan perhatian ekstra. Bila kondisi sekarang tak terkendali, kita akan masuk fase genting, dan jika fase itu terjadi, maka kita harus ambil langkah drastis seperti yang pernah dialami bulan September dan Februari tahun lalu. Kita inginkan peristiwa itu tak berulang," terang Anies.

Oleh karena itu, Anies menekankan perlu ada kolaborasi antara warga dengan pemerintah dan penegak hukum, dalam penerapan 3M, serta di lini pemerintahan akan terus memaksimalkan pelaksanaan 3T.

Selanjutnya: Siaga I, wisatawan terutama dari Jakarta dilarang pelesiran ke Bandung Raya

 

Editor: Herlina Kartika Dewi
Terbaru