Hujan meteor Geminid menjadi penutup fenomena astronomi pekan ke-2 bulan Desember

Selasa, 14 Desember 2021 | 10:01 WIB   Penulis: Arif Budianto
Hujan meteor Geminid menjadi penutup fenomena astronomi pekan ke-2 bulan Desember

ILUSTRASI. Hujan meteor Geminid menjadi penutup fenomena astronomi pekan ke-2 bulan Desember

KONTAN.CO.ID - Hujan meteor Geminid menjadi penutup fenomena astronomi pekan ke-2 bulan Desember 2021 ini. Puncaknya terjadi dari tanggal 14-15 Desember 2021, dapat disaksikan di wilayah Indonesia.

Di akhir pekan ke-2 bulan Desember 2021 ini ditutup dengan fenomena astronomi hujan meteor. Hujan meteor yang dimaksud adalah Geminid, yang termasuk dalam kategori hujan meteor utama atau besar.

Berbeda dengan beberapa hujan meteor sebelumnya yang terjadi sepanjang pekan ke-2 bulan ini, Geminid diketahui satu-satunya hujan meteor yang tidak berasal dari komet. Mengikuti timeline, hujan meteor Geminid ini pertama kali diamati pada tahun 1862, jauh lebih baru dari hujan meteor lainnya, seperti: Perseid (36M) dan Leonid (902M).

Mengutip dari laman resmi Edukasi Sains Antariksa LAPAN, hujan meteor Geminid memiliki titik radian (asal kemunculan) yang berada di dekat bintang Alfa Geminorum (Castor) konstelasi Gemini. Asal muasal hujan meteor Geminid bersumber dari sisa debu asteroid 3200 Phaethon (1983TB) yang mengorbit Matahari dengan periode 523,6 hari.

Bila Anda ingin menyaksikan hujan meteor, bisa kok. Menurut LAPAN, puncak hujan meteor Geminid dapat disaksikan sejak pukul 20:30 waktu setempat (14 Desember) hingga keesokan harinya (15 Desember) saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbenam Matahari). Untuk menyaksikan hujan meteor tersebut, Anda dapat berfokus ke arah Timur Laut hingga Barat Laut.

Berbicara tentang hujan meteor Leonid, intensitas di wilayah Indonesia berbeda-beda. Di wilayah Sabang, intensitas meteor berkisar 86 meteor/jam, sementara itu di wilayah Pulau Rote intensitasnya hingga 107/jam.

Perbedaan tersebut dikarenakan titik radian berkulminasi pada ketinggian 46-63 derajat arah utara, sedangkan intensitas hujan meteor saat di zenit (titik di angkasa yang berada persis di atas pengamat) mencapai 120 meteor/jam.

Baca Juga: Puncak hujan meteor Monocerotid 9-10 Desember 2021, bagaimana cara melihatnya?

ILUSTRASI: Hujan Meteor Geminids

Baca Juga: Puncak hujan meteor Sigma-Hydrid berlangsung sampai hari ini (13 Desember 2021)

Lalu bagaimana cara menyaksikan hujan meteor Geminid? 

Menurut LAPAN, hujan meteor Geminid dapat dilihat bila cuaca cerah dan berada di lokasi yang bebas dari penghalang maupun polusi cahaya di sekitar medan pandang.

Mengutip dari Earthsky, tak perlu peralatan khusus untuk menyaksikan hujan meteor Geminid ini. Sambil menikmati pemandangan di langit malam sambil bersantai menikmati segelas kopi dan camilan.

Apakah hujan meteor ini berbahaya?

Mengutip dari laman resmi Space Palce NASA, meteoroid umumnya berukuran kecil, berasal dari partikel debu hingga ukuran batu besar. Mereka hampir selalu cukup kecil untuk cepat tebakar di atmosfer planet kita (Bumi).

Oleh karena itu, kecil kemungkinan salah satu dari meteor ini akan berdampak pada permukaan Bumi ini. 

Selanjutnya: Unilever Indonesia Rayakan 88 Tahun Komitmen dan Kolaborasi dalam Wujudkan Kebaikan

Editor: Arif Budianto
Terbaru