Inilah Model Peta Kawasan Rawan Tsunami 1-8 Meter di Kota Pariaman dari PVMBG

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:40 WIB Sumber: Kompas.com
Inilah Model Peta Kawasan Rawan Tsunami 1-8 Meter di Kota Pariaman dari PVMBG

Namun, PVMBG juga membagi beberapa risiko dampak dan kawasan rawan bencana tsunami tinggi ini dalam beberapa tingkatan. Berikut ulasannya. 

1. Kawasan rawan bencana tsunami tinggi 

Kawasan rawan bencana tsunami tinggi (high tsunami hazard zone) merupakan daerah yang akan berpotensi dilanda tsunami dengan ketinggian lebih dari 3 meter dengan skala intensitas tsunami VII MMI atau lebih, berdasarkan skala intensitas tsunami yang diusulkan pada tahun 2001 oleh Gerassimos Papadopoulos dan Fumihiko Imamura. 

Jika tsunami terjadi dengan ketinggian 4 meter, maka dapat menyebabkan kapal kecil rusak, kapal besar terdorong ke darat, dan banyak bangunan kayu rusak. Tidak hanya itu, material tsunami berukuran pasir hingga bongkah juga akan terendapkan di pantai. 

"Ketika tinggi tsunami lebih dari 8 meter, dapat mengakibatkan kerusakan sangat parah pada daerah terlanda bahkan dapat mengakibatkan kerusakan pada tanggul pantai, pemecah ombak dan jalur hijau," jelas PVMBG dalam keterangan resminya melalui akun Instagram @pvmbg_ yang diunggah Rabu (12/1/2022). 

Baca Juga: Peringatan dini tsunami di NTT dicabut, masyarakat diminta kembali ke rumah

2. Kawasan rawan bencana tsunami menengah 

Kawasan rawan bencana tsunami menengah (moderate tsunami hazard zone) merupakan daerah yang berpotensi dilanda tsunami dengan ketinggian genangan sekitar 1-3 meter. 
Umumnya, ketinggian tsunami dengan kisaran tersebut merupakan akibat dari gempa dengan skala intensitas V-VI MMI (skala Papadopoulos dan Imamura, 2001). PVMBG menjelaskan, tsunami dengan ketinggian 3 meter dapat menyebabkan banyak orang ketakutan dan lari ke tempat yang lebih tinggi. 

Selain itu, tsunami dengan ketinggian 3 meter juga berpeluang membuat kapal-kapal terdorong arus dan saling bertabrakan, kerusakan pada sebagian bangunan kayu dan sebagian besar bangunan masih bertahan. 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Terbaru