KONTAN.CO.ID - Erupsi Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian pada 7 September 2026 setelah erupsi. Abu vulkanik terus menyebar ke sejumlah wilayah. Perlu diketahui bahwa abu vulkanik adalah partikel padat halus yang dapat terhirup dan menyebabkan iritasi hidung, tenggorokan, batuk hingga sesak napas. Karena itu, masyarakat perlu membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker yang tepat jika harus keluar.
Dampak Abu Vulkanik Bagi Masyarakat
Abu vulkanik berbeda dari asap yang biasa terlihat setelah pembakaran. Material ini merupakan partikel padat berukuran kurang dari 2 milimeter yang terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik.
Ukurannya yang sangat halus membuat abu vulkanik dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer. Ketika berada di udara, partikel tersebut dapat terhirup dan mengganggu saluran pernapasan.
Melansir dari akun Instagram @infobmkg, beberapa dampak yang dapat muncul akibat paparan abu vulkanik antara lain:
- Iritasi pada hidung dan tenggorokan.
- Batuk.
- Sesak napas.
- Mata terasa perih atau mengalami iritasi.
- Kualitas udara menurun akibat meningkatnya konsentrasi partikel.
- Jarak pandang dapat berkurang.
- Abu dapat menumpuk di rumah, kendaraan, jalan, dan fasilitas umum.
Karena itu, perlindungan saluran pernapasan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika masyarakat harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang terpapar abu vulkanik.
Masker KN95 Masker untuk Mencegah Paparan Abu Vulkanik
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah ketika terjadi paparan abu vulkanik. Pintu dan jendela juga perlu ditutup rapat agar abu dari luar tidak mudah masuk ke dalam rumah.
Namun, jika Anda harus keluar rumah, gunakan masker untuk mengurangi paparan abu vulkanik. Masker KN95 menjadi pilihan yang paling baik untuk mencegah paparan abu vulkanik sesuai anjuran dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, dalam postingan reels di akun Instagramnya.
Jika tidak memiliki KN95, Anda tetap dapat menggunakan masker lain yang tersedia dengan memastikan masker tersebut menutup hidung dan mulut secara rapat.
Hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan masker antara lain:
- Pastikan hidung dan mulut tertutup seluruhnya.
- Gunakan masker dengan posisi yang rapat sehingga celah di sekitar wajah seminimal mungkin.
- Hindari keluar rumah jika tidak ada keperluan mendesak.
- Segera kembali ke dalam ruangan setelah aktivitas di luar selesai.
Perlindungan tidak hanya diperlukan untuk saluran pernapasan. Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata karena partikelnya relatif kasar. Anda dapat menggunakan kacamata sebagai perlindungan tambahan dan sebaiknya melepas lensa kontak ketika berada di area yang terpapar abu.
Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Meluas, Tangsel hingga Bogor Terapkan PJJ
Jangan Sapu Abu Vulkanik dalam Kondisi Kering
Abu yang sudah menumpuk di sekitar rumah atau fasilitas umum juga perlu dibersihkan dengan cara yang tepat. Hindari langsung menyapu abu dalam kondisi kering karena partikel dapat kembali beterbangan dan berisiko terhirup.
Sebelum dibersihkan, basahi atau semprotkan air terlebih dahulu agar abu menjadi lembap. Setelah itu, abu dapat dibersihkan dengan lebih aman.
Perhatian juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Dalam situasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak panik. Kurangi aktivitas di luar rumah, gunakan masker KN95 atau masker lain yang menutup hidung dan mulut dengan rapat jika harus keluar, serta lindungi mata dengan kacamata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News