KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kasus keracunan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali bermunculan. Terbaru, ribuan pelajar di Semarang, Jawa Tengah dan Jayapura, Papua keracunan makanan MBG. Simak cara pertolongan pertama mengatasi korban keracunan makanan.
Hingga Kamis (6/8/2026), total korban keracunan makanan MBG di Jayapura mencapai 527 orang, terdiri dari balita, pelajar, hingga orang dewasa.
Program MBG tersebut didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur yang dikelola Yayasan Kasih Iman Samuel Papua.
Kasus ini kini ditangani oleh Badan Gizi Nasional (BGN) bersama aparat kepolisian untuk mengungkap penyebab dugaan keracunan sekaligus mengevaluasi penyelenggaraan program MBG di wilayah tersebut.
Kemudian, sebanyak 707 orang yang terdiri dari 693 siswa dan 14 guru SMKN 6 Semarang mengalami gejala keracunan massal setelah mengonsumsi menu MBG dari pemasok SPPG Karangturi pada awal Agustus 2026. Sebagian besar korban mengalami mual, muntah, pusing, dan diare, dengan belasan orang sempat mendapat perawatan medis
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Berii Wopari, mengatakan jumlah pasien yang diduga mengalami keracunan sejak 4 hingga 6 Agustus 2026 mencapai 527 orang.
"Ini terdiri dari balita, siswa PAUD, SD, SMP dan sejumlah orang tua," ujar Berii, Kamis (6/8/2026).
Para pasien datang ke puskesmas dan rumah sakit dengan berbagai keluhan, antara lain:
- Sakit perut.
- Mual dan muntah.
- Diare.
- Demam.
- Badan lemas.
Menurut Berii, angka tersebut merupakan akumulasi pasien rawat jalan maupun rawat inap yang mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.
"Ini adalah akumulasi baik yang rawat jalan dan rawat inap. Semuanya kita berikan penanganan medis secara maksimal di sejumlah puskesmas dan rumah sakit," katanya.
Baca Juga: Kebakaran Hutan Gunung Bromo Hanguskan 60 Hektare, Angin Kencang Hambat Pemadaman
Kondisi Pasien Mulai Membaik
Dinas Kesehatan Papua menyebut sebagian besar pasien menunjukkan perkembangan yang positif.
Meski demikian, sejumlah pasien masih menjalani observasi sehingga belum diperbolehkan pulang guna memastikan kondisi kesehatan mereka benar-benar pulih.
Berii juga mengungkapkan bahwa sejak Rabu malam tidak lagi terjadi lonjakan pasien baru yang datang ke fasilitas kesehatan.
Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa kasus dugaan keracunan mulai melandai.
Meski begitu, Dinas Kesehatan tetap melakukan pemantauan terhadap seluruh pasien dan mengimbau mereka untuk tetap mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga medis serta memperbanyak asupan cairan guna mencegah dehidrasi.
Tonton: Dana Cukai Tak Hanya untuk Daerah, Kini Diperkuat untuk Berantas Rokok Ilegal
BGN Hentikan Operasional Dapur MBG
Sebagai tindak lanjut, Badan Gizi Nasional menghentikan sementara operasional dapur MBG yang dikelola Yayasan Kasih Iman Samuel Papua.
Wakil Kepala BGN, Mayjen TNI Trenggono, mengatakan hasil evaluasi awal menemukan sejumlah kekurangan pada dapur penyedia makanan tersebut.
Temuan itu meliputi aspek kebersihan hingga fasilitas pendukung yang dinilai belum memenuhi standar penyelenggaraan program MBG.
Penghentian operasional dilakukan untuk mendukung proses investigasi sekaligus memastikan seluruh standar keamanan pangan dipenuhi sebelum layanan kembali dijalankan.
Tonton: Insentif EV Masih Abu-Abu, Pemerintah Kembali Minta Publik Bersabar
Investigasi Masih Berlangsung
Selain evaluasi dari BGN, aparat kepolisian juga masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan juga menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menemukan adanya bakteri Escherichia coli (E. coli) pada kasus keracunan MBG di Semarang dan Jayapura. Namun, penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan sumber kontaminasi pada masing-masing kasus.
Hasil investigasi tersebut nantinya akan menjadi dasar pemerintah dalam memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di berbagai daerah.
Tonton: 13.000 Dapur MBG? Begini Penjelasan Resmi Kepala BGN
Cara mengatasi keracunan makanan
Dilansir dari website Puskesmas Penimbung, Lombok Barat, keracunan makanan sebaiknya memperoleh penanganan secara optimal dari dokter atau layanan kesehatan. Bila seseorang mengalami keracunan makanan, penting untuk mengetahui langkah pertolongan pertama pada keracunan makanan yang bisa dilakukan sebelum mendapatkan penanganan medis:
1. Istirahat dan Hidrasi
Korban keracunan makanan harus beristirahat dan menghindari aktivitas berat. Minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi, terutama jika mengalami muntah atau diare. Cairan yang baik meliputi air, larutan elektrolit atau rehidrasi oral.
2. Hindari Makanan dan Minuman Tertentu
Hindari makanan tertentu, seperti makanan padat, pedas, berminyak sampai dan diare berhenti. Hindari juga minuman berkafein, minuman beralkohol, susu dan minuman asam. Dan carilah makanan yang mudah dicerna dan rendah lemak seperti bubur, kentang atau pisang. Disarankan untuk mengomsumsi air jahe, karena dapat membantu meredakan gejala keracunan yang dialami serta air jahe dapat menenangkan saluran pencernaan.
3. Jangan Memaksa Muntah
Jika korban tidak muntah secara alami, jangan memaksanya untuk muntah karena dapat memperburuk kondisi.
Bila korban muntah secara alami, pastikan untuk menghindarai korban muntah dalam posisi berbaring. Tegakkan badan korban keracunan agar muntah tidak masuk ke saluran pernapasan serta tundukkan kepala untuk mencegah tersedak dan muntah kembali ke tenggorokan.
Tonton: Selat Hormuz Mulai Ditembus! Kapal LNG Jepang Berhasil Lolos di Tengah Perang Iran
4. Hindari Korban Dehidrasi
Segera tingkatkan asupan cairan bila muncul tanda-tanda dehidrasi dari korban keracunan. Biasanya tanda dehidrasi tersebut dapat berupa bibir kering, rasa sangat haus dan jarang buang air kecil.
5. Gunakan Obat yang Tersedia
Obat anti-diare atau anti-mual dapat digunakan untuk meredakan gejala keracunan. Namun akan lebih baik untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum dikonsumsi.
Keracunan makanan atau minuman merupakan salah satu kondisi yang berbahaya. Walaupun sudah dilakukan upaya pertolongan pertama pada korban keracunan makanan, tetap bawa korban ke layanan kesehatan agar mendapatkan penanganan medis profesional yang optimal.
Apalagi bila korban mengalami beberapa kondisi, seperti diare berlangsung lebih dari 48 jam, terdapat darah dalam muntah atau tinja, demam tinggi (di atas 38,5°C atau 101,3°F), muncul gejala dehidrasi parah serta gejala neurologis seperti penglihatan kabur, kelemahan otot atau kesulitan bicara.
Sebagian artikel telah tayang di https://regional.kompas.com/read/2026/08/07/050000278/kasus-keracunan-mbg-di-jayapura--korban-tembus-527-orang-dapur-disuspend.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News