Infrastruktur

Keterbatasan SDM menjadi tantangan pariwisata Belitung

Kamis, 17 Oktober 2019 | 19:05 WIB   Reporter: Kenia Intan
Keterbatasan SDM menjadi tantangan pariwisata Belitung

ILUSTRASI. jane.aprilyani-Kemenpar Kedepankan Pengembangan Geopark Belitung. Pantai Tanjung Tinggi adalah pantai terkenal di Belitung yang digunakan sebagai salah satu lokasi syuting film Laskar Pelangi

KONTAN.CO.ID - BELITUNG. Bukan hal mudah bagi Belitung beralih ke sektor pariwisata setelah puluhan tahun mengandalkan sektor tambang sebagai sumber pendapatannya.

Sebagaimana diutarakan oleh Wakil Bupati Belitung Isyak Meirobie ketika ditemui tim jelajah ekonomi pariwisata KONTAN di kantornya, Senin (7/10).

Isyak melihat, masyarakat Belitung masih perlu diyakinkan bahwa sektor yang baru ini bisa menjadi sumber penghidupan.

Baca Juga: Mengintip pembuatan kapal di pesisir Belitung

"Pembuktiannya harus lahir dari pemerintah," kata Wakil Bupati yang kurang lebih baru sembilan bulan menjabat itu.

Ia menambahkan, pemerintah yang harus bertindak sebagai stimulator sekaligus mengubah pola pikir masyarakat dari yang instan menjadi berkelanjutan.

Asal tahu saja, Belitung tengah serius menggarap pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas utama. Sektor pariwisata masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) di atas perikanan dan kelautan, perkebunan, pertanian.

Sejauh ini, berdasar keterangan dari Isyak, 65% Pendapatan Asli Daerah (PAD) Belitung dikontribusikan dari pariwisata.

Baca Juga: Pemerintah optimistis sebanyak 17 KEK akan diresmikan sampai akhir 2019

Bukan tanpa tantangan, pariwisata Belitung masih menghadapi kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) baik dari sisi ketersediaan maupun kesiapan.

Oleh karenanya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belitung mengadakan program sertifikasi profesi berkerjasama dengan berbagai kementerian dan asosiasi.

Program sertifikasi diharapkan bisa menyerap lebih banyak masyarakat Belitung menjadi tenaga kerja di sektor pariwisata. Diakui Isyak, saat ini tenaga kerja yang terserap ke sektor pariwisata, seperti perhotelan, masih sangat kecil.

Selain itu, Pemkab Belitung berkerjasama dengan kampus-kampus mendorong kapasitas SDM di bidang pariwisata.

Di antaranya dengan memberikan beasiswa kepada 10 orang per tahun, memberikan pelatihan keterampilan ke berbagai desa, serta melatih manajemen entrepreneur dan perizinan.

Baca Juga: Vivo Indonesia dan Tribunnews.com ajak pemenang online photo competion ke Belitung  

Adapun beberapa kampus yang digandeng seperti Sampoerna University, Podomoro University, Universitas Tarumanagara, dan Sekolah Tinggi Agama Islam.

Untuk memantapkan langkah di sektor pariwisata, Belitung kini juga memiliki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pariwisata. Sementara itu, bulan lalu pemerintah baru saja meresmikan Balai Latihan Kerja (BLK) Belitung.

Menurut Isyak, berbagai upaya di atas  tidak bisa langsung terlihat dampaknya dalam waktu dekat.  "Menurut hitungan kami, tahun 2021 baru bisa melihat bagaimana peningkatan SDM Belitung terserap di dunia kerja," ungkapnya.

Baca Juga: Memberi gincu 10 Bali Baru

Kesiapan SDM menjadi hal penting, apalagi saat ini di Belitung memiliki stimulus baru di sektor pariwisata yakni, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang.

KEK yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada Maret 2019 itu diproyeksikan akan menyerap 23.645 tenaga kerja.

Selain SDM, tantangan lain yang dihadapi Belitung yakni banyak regulasi yang tidak lagi menjadi kewenangan Pemkab. Sehingga, Pemkab harus berkoordinasi dengan Pemerintahan Provinsi terkait regulasi, sementara belum tentu pemerintah provinsi memiliki satu visi yang sama.

Ia mencontohkan, sekarang banyak pihak mengajukan izin untuk membangun hotel pinggir pantai atau floating resort. Akan tetapi, Peraturan Daerah (Perda) masih saja dibahas di tingkat provinsi setahun lamanya.

"Nah, bagaimana investasi ini bisa dilakukan kalau nggak punya dasar hukum. Padahal waiting list  sudah banyak, " tutupnya.

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Yudho Winarto


Terbaru