KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keuskupan Agung Merauke angkat bicara terkait film dokumenter Pesta Babi yang tengah ramai diperbincangkan publik.
Film garapan antropolog Cypri Paju Dale dan jurnalis investigasi Dandhy Laksono itu menyoroti deforestasi di Papua Selatan yang disebut berkaitan dengan proyek-proyek Proyek Strategis Nasional (PSN).
Uskup Agung Merauke, MGr Petrus Canisius Mandagi MSC, mengatakan film tersebut memiliki sisi positif karena mampu menggugah perhatian publik terhadap situasi di Papua.
Namun, ia meminta masyarakat tetap bersikap kritis dan tidak menerima seluruh isi film secara mentah-mentah.
Baca Juga: Sinopsis Film Dokumenter Pesta Babi, Ini Link Nonton Resmi di YouTube
Menurut Mandagi, film dokumenter memang dapat menjadi sarana refleksi, termasuk ketika isinya bersifat provokatif. Karena itu, ia mengaku tidak keberatan masyarakat menonton Pesta Babi.
Meski demikian, ia mempertanyakan sudut pandang film yang dinilai tidak melibatkan pihak-pihak yang telah lama hidup dan bekerja di Papua, termasuk Gereja Katolik di Merauke.
Mandagi menyoroti narasi dalam film yang dianggap menggambarkan Keuskupan Agung Merauke mendukung PSN dan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang dituding merusak hutan Papua Selatan.
Ia juga membantah kesan bahwa gereja menerima dana atau suap dari perusahaan sawit maupun pihak lain yang terlibat dalam proyek tersebut.
Menurut dia, pembuat film seharusnya meminta penjelasan langsung kepada pihak gereja agar informasi yang disampaikan lebih berimbang. Ia mengaku sedih karena narasi dalam film dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, namun memilih untuk tidak menanggapi secara emosional.
Baca Juga: Soal Film Pesta Babi, Menko Yusril: Tidak Ada Larangan dari Pemerintah
Mandagi menegaskan bahwa Papua Selatan tidak hanya memiliki persoalan konflik dan kerusakan lingkungan, tetapi juga perkembangan pembangunan dan kehidupan persaudaraan masyarakat yang dinilai perlu mendapat perhatian.
Film Pesta Babi sendiri menjadi sorotan nasional setelah diputar melalui sejumlah acara nonton bareng di berbagai daerah. Film tersebut mengangkat dampak PSN terhadap kehidupan masyarakat adat Papua dan memicu perdebatan publik mengenai pembangunan, lingkungan, hingga hak masyarakat adat.
Sementara itu, Dandhy Laksono menepis anggapan bahwa dirinya mendapat “beking” dalam produksi film-film dokumenternya. Dalam sebuah siniar bersama pengamat komunikasi politik Hendri Satrio, Dandhy mengatakan kekuatan utama dalam kerja jurnalistiknya adalah akurasi data dan independensi.
Ia menyebut seluruh proses produksi Pesta Babi dilakukan secara terbuka dan identitas pihak-pihak yang terlibat juga jelas.
Menurut Dandhy, dukungan publik menjadi bentuk perlindungan utama bagi kerja jurnalistik investigatif yang kerap menghadapi tekanan maupun laporan hukum, termasuk terkait Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Baca Juga: Bos Kopi Kenangan Angkat Bicara Soal Peluang IPO
Sebelumnya, Dandhy dan timnya juga sempat menjadi sorotan lewat film dokumenter Sexy Killers dan Dirty Vote yang memicu perdebatan publik.
Kini, Pesta Babi telah resmi tersedia di sejumlah kanal YouTube setelah sebelumnya hanya diputar melalui agenda nonton bareng di berbagai daerah.
Sumber: https://www.tribunnews.com/nasional/7834151/viral-pesta-babi-ini-tanggapan-keuskupan-agung-merauke?page=all&s=paging_new
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News