Jabodetabek

Mogok 3 Hari, Pedagang Daging Sapi Keluhkan Untung Anjlok 50% akibat Harga Melonjak

Kamis, 22 Januari 2026 | 16:15 WIB
Mogok 3 Hari, Pedagang Daging Sapi Keluhkan Untung Anjlok 50% akibat Harga Melonjak

ILUSTRASI. Pedagang daging sapi Pasar Palmerah mengeluh untung anjlok 50% akibat harga sapi hidup melonjak. Rencana mogok berjualan siap dijalankan. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)


Sumber: Kompas TV  | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pedagang daging sapi di Pasar Palmerah, Jakarta, mengeluhkan tingginya harga timbang sapi hidup yang menimbulkan kenaikan harga jual ke konsumen.

Perwakilan pedagang daging sapi Pasar Palmerah, Zaenudin menyebut keuntungan pedagang turun hingga 50 persen akibat kenaikan harga terus-menerus.

Zaenudin menyebut pedagang tidak bisa menaikkan harga jual terus-menerus karena daya beli masyarakat melemah. Pemerintah pun diharapkan turun tangan untuk mengendalikan kenaikan harga sapi hidup.

"Daya beli masyarakatnya kan semakin lemah, semakin menurun. Karena kalau kita lihat aja yang biasanya tadinya kemampuannya motongnya dua ekor, jadi turun satu ekor, karena harganya terlalu tinggi," kata Zaenudin dilaporkan tim liputan KompasTV, Kamis (22/1/2026).

"Terlalu tinggi harganya. Yang jelas hampir, penurunannya (keuntungan) 50 persen, (turun) 50 persen lah keuntungannya itu."

Baca Juga: BUMD Jakarta Akan Mengimpor 7.500 Sapi Australia untuk Persiapan Lebaran 2026

Zaenudin menyatakan pedagang daging di Pasar Palmerah sepakat mengikuti arahan Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) untuk mogok berjualan. Mogok berjualan ini rencananya berlangsung mulai Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026) untuk memprotes lonjakan harga.

Sebelumnya, APDI menyatakan telah bertemu dengan pemerintah untuk menyampaikan permasalahan kenaikan harga daging sapi. Namun, APDI menyatakan belum ada tindak lanjut berarti dari pemerintah.

Zaenudin pun meminta pemerintah menjelaskan asal-muasal kenaikan harga sapi yang disebutnya telah berlangsung beberapa bulan.

"Dari kita pribadi ingin mengetahui sebenarnya kenaikan ini ada dari mana? Apakah dari Pitwater, apakah dari Gapuspindo (Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia), apakah dari pihak RPH (Rumah Potong Hewan)?" kata Zaenudin.

"Yang paling kita khawatirkan adalah yang kita takutkan adalah sebuah rantai distribusi pihak-pihak lain yang katakanlah dia sebagai perantara ataupun adanya sebuah spekulan pasar yang mengambil keuntungan."

Selanjutnya: JATAM Sebut Pencabutan 28 Izin Korporasi di Sumatra Tebang Pilih & Lindungi Oligarki

Menarik Dibaca: Katalog Promo Hypermart Dua Mingguan sampai 28 Januari 2026, Aneka Telur Diskon 10%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Video Terkait


Terbaru