Jabodetabek

Pemprov DKI Perpanjang OMC hingga Awal Februari, Andalkan Modifikasi Cuaca

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:06 WIB
Pemprov DKI Perpanjang OMC hingga Awal Februari, Andalkan Modifikasi Cuaca

ILUSTRASI. Pemerintah DKI Jakarta memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga 1 Februari 2026


Reporter: Hervin Jumar  | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali menggantungkan upaya pengendalian banjir pada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), menyusul peringatan hujan ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Strategi tersebut diperpanjang hingga awal Februari 2026, seiring belum meredanya ancaman cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan OMC masih menjadi instrumen krusial untuk menekan risiko banjir di ibu kota. Menurutnya, tanpa intervensi modifikasi cuaca, kondisi hujan di Jakarta berpotensi jauh lebih intens dibandingkan cuaca relatif cerah yang terjadi pada Selasa (28/1/2026). 

Baca Juga: Link Download Logo HUT Kalimantan Barat (Kalbar) ke-69 Tahun Resmi dan Filosofinya

“Kalau pagi tadi OMC tidak dijalankan, cuacanya pasti berbeda. Artinya, potensi hujan lebat sangat besar,” ujar Pramono saat meninjau pengerukan Kali Cakung Lama, Jakarta Utara, Selasa (27/1/2026).

Awalnya, OMC direncanakan berhenti pada 23 Januari 2026. Namun, melihat dinamika cuaca yang belum stabil, Pemprov DKI memperpanjang operasinya hingga 27 Januari. Kini, Pramono kembali meminta agar OMC dilanjutkan sampai 1 Februari 2026, menyesuaikan prakiraan cuaca terbaru BMKG.

Pramono mengakui, keputusan memperpanjang OMC didasarkan pada potensi hujan lebat yang masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.

“BMKG melihat sampai 1 Februari masih ada kemungkinan hujan ekstrem, sehingga OMC perlu terus dilakukan,” kata dia.

Dari sisi pendanaan, Pemprov DKI bersama DPRD DKI Jakarta telah menyiapkan anggaran OMC untuk periode satu bulan penuh. Dengan alokasi tersebut, pemerintah daerah memiliki ruang fiskal untuk terus mengoperasikan OMC selama ancaman cuaca ekstrem belum mereda. 

“Anggarannya sudah kami siapkan. Jadi selama masih diperlukan, OMC akan tetap dijalankan,” ujarnya.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jakarta: Hujan Lebat Hantui Awal Februari, Waspada!

Menariknya, pelaksanaan OMC tidak lagi terbatas di wilayah administrasi DKI Jakarta. Operasi kini diperluas ke daerah penyangga seperti Tangerang, Tangerang Selatan, Bogor, dan Bekasi. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi curah hujan tinggi di wilayah hulu yang kerap memicu banjir kiriman ke Jakarta.

“Kalau hanya fokus di Jakarta, sementara daerah sekitarnya hujan lebat, kita tetap akan menerima kiriman air. Karena itu OMC juga dilakukan di wilayah perbatasan,” kata Pramono.

Di sisi lain, BMKG mengingatkan bahwa peningkatan intensitas hujan bukan lagi sekadar fenomena musiman.

Direktur Meteorologi Penerbangan BMKG, Achadi Subarkah Raharjo, menilai Indonesia kini telah memasuki fase krisis iklim yang ditandai dengan semakin seringnya cuaca ekstrem.

“Kenaikan suhu rata-rata bumi pasca-industrialisasi berdampak langsung pada peningkatan kejadian hujan ekstrem. Pola ini tidak bersifat sementara dan berpotensi terus berulang,” ujar Achadi dalam Forum Diskusi Denpasar 12, di pekan lalu.

Baca Juga: Cuaca Jateng 28 Januari 2026: Hujan Ringan Dominasi, Siapkah Rencana Anda?

BMKG juga mencatat, potensi cuaca ekstrem masih terbuka lebar pada periode Maret hingga April 2026. Salah satu faktor yang diwaspadai adalah kemunculan pusat tekanan rendah di perairan selatan Indonesia yang dapat memperkuat pembentukan awan hujan.

Sejak awal Januari 2026, pusat tekanan rendah tersebut mulai terpantau dan berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah. Kondisi ini menandakan bahwa tantangan pengendalian banjir Jakarta ke depan tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kemampuan pemerintah membaca dan merespons krisis iklim yang kian nyata.

Selanjutnya: Target Jaga Investasi, IMA Dorong Penilaian Adil Soal Tambang Agincourt Resources

Menarik Dibaca: Darurat Virus Nipah di India, Waspadai Gejala & Bahaya Kematian yang Mengintai

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru