KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Polusi udara masih menjadi salah satu persoalan lingkungan dan kesehatan yang paling serius di Jakarta. Emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, hingga pembakaran sampah terbuka menyebabkan kualitas udara ibu kota kerap berada pada kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Jakarta menjadi salah satu kota dengan tingkat pencemaran udara tertinggi di Asia Tenggara.
Sumber polusi yang beragam menyebabkan persoalan ini sulit diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah. Pengendalian emisi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat yang berada di tingkat komunitas.
Partisipasi warga memiliki peran penting dalam upaya mengurangi polusi udara. Melalui perubahan perilaku, pengelolaan lingkungan, hingga pengawasan di tingkat lokal, masyarakat dapat membantu menekan sumber pencemaran yang selama ini terjadi di kawasan permukiman.
Kepala Subkelompok Pemantauan Kualitas Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rahmawat mengatakan, inisiatif masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan udara bersih di Jakarta.
Baca Juga: PLN Boja Umumkan Pemadaman Listrik 6 Jam di Semarang, Rabu (24/6), Cek Wilayahnya
“Apa yang komunitas lakukan ini bukan hanya melengkapi program pemerintah. Ini yang seharusnya menjadi fondasi kebijakan udara bersih kita ke depan,” ujarnya.
Penggerak masyarakat dan penyuluh kesehatan dari Kebayoran Lama Selatan, Ajie, menilai keterlibatan warga menjadi kunci dalam membangun kesadaran terhadap dampak polusi udara.
Menurutnya, ruang diskusi antarwarga dapat mendorong pertukaran pengalaman dan solusi yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing. “Harapannya, nanti semakin banyak anak muda yang ikut terlibat,” katanya.
Salah satu contoh inisiatif masyarakat di RW 004 Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Kawasan tersebut berbatasan langsung dengan sejumlah titik bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok yang setiap hari dilalui kendaraan berat berbahan bakar diesel.
Paparan emisi dari aktivitas tersebut menyebabkan kualitas udara di lingkungan permukiman memburuk dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama gangguan pernapasan.
Selain emisi kendaraan, pembakaran sampah terbuka juga menjadi salah satu sumber pencemaran yang masih sering ditemukan di kawasan padat penduduk. Praktik tersebut menghasilkan partikel halus PM2.5 yang dapat membahayakan kesehatan, khususnya bagi anak-anak dan lansia.
Penggerak Bank Sampah Kenanga RW 004, Nur Fiyah, mengatakan upaya pengelolaan sampah yang dilakukan warga bertujuan mengurangi praktik pembakaran sampah sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan.
“Kami tidak hanya ingin sampah tidak dibakar. Kami ingin warga sadar kalau kita berdaya mengurangi sumber polusi, dan itu juga memberi manfaat bagi warga sendiri,” ujarnya.
Sejak 2017, Bank Sampah Kenanga telah berkembang hingga melayani lebih dari 600 nasabah aktif. Hasil pengelolaan sampah dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pendidikan, persalinan, dan modal usaha warga.
Di lingkungan tersebut, pengendalian pembakaran sampah dilakukan melalui kesepakatan bersama masyarakat. Pendekatan berbasis komunitas dinilai efektif dalam mendorong perubahan perilaku warga.
Selain pengelolaan sampah, masyarakat juga mengembangkan ruang terbuka hijau sebagai upaya meningkatkan kualitas lingkungan. Bekas lahan parkir kontainer di kawasan tersebut berhasil diubah menjadi taman yang dapat dimanfaatkan warga.
Saat ini, masyarakat bersama pemerintah setempat juga tengah membangun waduk untuk melengkapi ruang terbuka hijau di lingkungan mereka.
“Kami mau anak-anak kami punya tempat bermain yang layak dan udara yang bisa dihirup dengan tenang,” kata Nur Fiyah.
Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa upaya mengatasi polusi udara tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Keterlibatan masyarakat melalui aksi-aksi sederhana di tingkat lingkungan menjadi bagian penting dalam menciptakan udara yang lebih bersih dan lingkungan yang lebih sehat bagi warga Jakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News