KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL) menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui Galeri Mina Tenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Program ini mengintegrasikan penguatan ekonomi perempuan penenun, pengembangan produk tenun, serta pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung akses air bersih bagi masyarakat.
Program Mina Tenun berangkat dari tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat Desa Sukarara. Sebagian purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kembali ke kampung halaman menghadapi keterbatasan akses terhadap pekerjaan dan sumber penghasilan yang layak.
Di sisi lain, menenun yang menjadi salah satu mata pencaharian keluarga masih menghadapi persoalan nilai jual produk, keterbatasan modal, serta ketergantungan pada pengepul.
Baca Juga: Kukuhkan Pengurus di 13 Wilayah, Peradi Profesional Tekankan Integritas Advokat
VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati mengatakan bahwa pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan dengan menjawab kebutuhan nyata sekaligus memperkuat potensi ekonomi lokal.
Melalui Galeri Mina Tenun, pihaknya berupaya membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun, sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui inovasi yang mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan.
"Kami ingin perempuan penenun memiliki peluang untuk meningkatkan penghasilan dan membangun kemandirian ekonomi, sementara masyarakat juga dapat merasakan manfaat program dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui dukungan akses air bersih,” ujar Dian dalam keterangannya, Sabtu (10/10).
Sebelum program berjalan, para penenun di Desa Sukarara menghadapi keterbatasan modal dan posisi tawar dalam menjual hasil produksinya. Sebagian penenun hanya menerima upah sekitar Rp 25.000 per lembar kain. Penjualan melalui pengepul juga membuat pembayaran bergantung pada waktu produk terjual, sehingga perputaran modal untuk membeli bahan baku berikutnya menjadi terbatas.
Baca Juga: Anak Krakatau Catat 26 Gempa Letusan dalam 24 Jam, Radius Bahaya 5 Km
Melalui Galeri Mina Tenun, para penenun memperoleh akses terhadap bahan baku, motif, dan alat tenun gedogan untuk mendukung proses produksi. Galeri juga membantu pemasaran dan mempercepat penjualan produk, sekaligus memberikan kepastian pembayaran setelah kain selesai diproduksi tanpa harus menunggu produk terjual kepada konsumen akhir.
Dengan skema tersebut, penghasilan yang diterima penenun kini dapat mencapai minimal sekitar Rp7 50.000 per lembar setelah memperhitungkan modal kain. Perubahan ini diharapkan dapat memperkuat pendapatan keluarga, meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan, serta membuka peluang usaha bagi masyarakat yang membutuhkan alternatif mata pencaharian.
Tidak berhenti pada pemberdayaan ekonomi, Pertamina Patra Niaga AFT BIL juga mengembangkan inovasi yang menghubungkan aktivitas menenun dengan kebutuhan dasar masyarakat, yaitu akses air bersih.
Kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Barat turut memengaruhi kehidupan masyarakat Desa Sukarara. Keterbatasan pasokan air membuat sebagian rumah tangga harus mencari sumber air alternatif atau membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk menjawab tantangan tersebut, program Mina Tenun mengembangkan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dimodifikasi agar gerakan mekanis selama proses menenun dapat menghasilkan energi listrik.
Energi yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung pengoperasian pompa air dan sistem filtrasi. Inovasi ini turut didukung oleh pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui bantuan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga.
"Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan,” tambah Dian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News