Jabodetabek

Proyek MRT Jakarta Fase 2 Capai 59%, Ini Target Penyelesaiannya

Jumat, 17 April 2026 | 17:28 WIB
Proyek MRT Jakarta Fase 2 Capai 59%, Ini Target Penyelesaiannya

ILUSTRASI. Mass Rapid Transit (MRT) (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Amalia Nur Fitri  | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT MRT Jakarta melaporkan per Maret 2026, pembangunan jalur ini Fase 2A dan 2B telah mencapai 59,19% dari target 57,52%.

MRT Jakarta menargetkan penyelesaian segmen satu Bundaran HI—Monas pada akhir 2027 dan segmen dua hingga Kota pada akhir 2029. Pada paket kontrak CP201, pembangunannya telah mencapai 92,3% dari target 91,99%.

MRT Jakarta menargetkan 95% pekerjaan konstruksi selesai pada akhir 2026 dan operasional segmen pertama ini pada akhir 2027.

Baca Juga: Trem Kota Tua Masih Dikaji, Pramono Prioritaskan Penyelesaian Proyek MRT

Kemajuan signifikan juga terjadi di paket kontrak CP202. Paket kontrak yang mencakup pembangunan terowongan dan stasiun Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar ini telah mencapai 64,13%.

Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat menyampaikan paket kontrak yang menjadi salah satu milestone konstruksi sipil di Indonesia dengan terowongan dan stasiun bertingkat empat di bawah tanah ini terus mempercepat penyelesaiannya.

Pada paket kontrak CP203, perkembangannya telah mencapai 83,72% dari target 82,78%. MRT Jakarta menargetkan penyelesaian dan operasional pada
akhir 2029 mendatang.

"Di luar pekerjaan sipil terowongan dan stasiun, paket kontrak CP205 juga menunjukkan perkembangan signifikan dengan 42,69% dari target 34,58%. Paket yang terdiri dari sistem perkeretaapian dan rel ini telah menyelesaikan pengelasan rel dengan metode flashbutt welding dan sudah memulai proses pengecoran track bed," paparnya dalam keterangan resmi yang diterima Kontan, Jumat (17/4/2026).

Lebih lanjut, per 25 Maret, pengecoran second track bed segmen Bundaran HI—Monas telah mencapai 769 meter. Sedangkan paket kontrak CP206 kereta, telah memasuki tahap inception design dan paket kontrak CP207 sedang dalam tahap proses pengadaan kontrak. Dengan demikian, total perkembangan konstruksi ditargetkan mencapai 65,03% pada akhir 2026.

Fase 2A Lin Utara-Selatan akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta hingga Kota sepanjang sekitar 5,8 kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota.

Baca Juga: Transjakarta Hingga MRT Cuman Rp 1 Saat Lebaran 2026, Cek Syarat dan Jadwalnya

Fase 2A tersebut dibagi menjadi dua segmen, yaitu segmen satu Bundaran HI—Harmoni yang ditargetkan selesai pada 2027, dan segmen dua Harmoni—Kota yang ditargetkan selesai pada 2029. Fase ini dibangun dengan biaya sekitar Rp25,3 triliun melalui dana pinjaman kerja sama antara
Pemerintah Indonesia dan Jepang.

Sedangkan Fase 2B yang rencananya melanjutkan dari Kota sampai dengan Depo Ancol Barat masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).

Berbeda dengan fase 1, fase 2A dibangun sekaligus dengan mengembangkan kawasan stasiun dengan konsep kawasan berorientasi transit (transit-oriented development).

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta (Perseroda) Weni Maulina menyampaikan pembangunan dengan konsep ini tidak hanya menyiapkan infrastruktur stasiun MRT Jakarta saja, namun juga kawasan sebagai paduan antara fungsi transit dan manusia, kegiatan, bangunan, dan ruang publik yang akan mengoptimalkan akses terhadap transportasi publik sehingga dapat menunjang daya angkut penumpang.

Adapun proses pengecoran track bed (lapisan dasar rel) terowongan northbound (arah utara) dari Bundaran HI hingga Stasiun Thamrin telah selesai dilakukan. Selanjutnya, tim MRT Jakarta dan kontraktor akan memulai pekerjaan pengecoran track bed terowongan southbound (arah selatan) Bundaran HI-Thamrin.

"Metode kerja ini dilakukan karena kami juga siap untuk mulai melakukan instalasi pintu tepi peron (platform screen door),” jelas Weni.

Pengecoran tersebut merupakan penanda telah tersambungnya rel fase 1 dan 2A. Weni melanjutkan, tim akan mengerjakan pengecoran track bed terowongan northbound (arah utara) Thamrin-Monas dan southbound (arah selatan) Thamrin-Monas.

Baca Juga: Catat, Naik MRT Hanya Rp 1 Selama Lebaran

Adapun rel yang digunakan pada fase 2A ini diproduksi oleh Nippon Steel, Fukuoka, Jepang. Struktur rel yang diterapkan menggunakan sistem direct fixation track with PC Sleeper (bantalan beton prategang).

Weni mengatakan, jenis struktur ini memiliki berbagai keunggulan, antara lain daya tahan tinggi hingga 50 tahun, ketahanan melintang yang baik (transverse resistance), kemudahan dalam konstruksi (constructability), serta kebutuhan perawatan yang rendah dan sederhana.

"Salah satu tipe bantalan rel yang digunakan adalah Synthetic Sleeper Material untuk bantalan rel, khususnya pada bagian wesel dan persilangan. Material ini dibuat dari hasil pemampatan serat kaca tunggal (single strands of glass fibre) yang dipadukan dengan busa poliuretan, kemudian diproses dengan alat pengepres bertekanan tinggi," imbuhnya.

Ia melanjutkan, beratnya setara dengan kayu, namun memiliki berbagai kelebihan seperti sifat mekanis yang unggul, daya tahan tinggi terhadap air dan bahan kimia (asam, air laut, dan zat alkali), isolasi listrik yang sangat baik dan ketahanan terhadap minyak (oil resistance).

Dibandingkan dengan bantalan beton prategang (PC Sleeper), material sintetis ini memiliki bobot yang lebih ringan sehingga mempercepat waktu konstruksi. Selain itu, perawatan dan perbaikan menjadi lebih mudah, serta frekuensi pemeliharaan dan penggantian material dapat ditekan.

Dari sisi penyambungan rel, proyek Fase 2A menggunakan metode Continuous Welded Rail (CWR) dengan teknik flash butt welding dan thermit welding.

Di antara keduanya, flash butt welding menawarkan berbagai keunggulan, seperti kekuatan sambungan yang hampir setara dengan material rel asli, ketahanan terhadap korosi dan keausan, serta kestabilan terhadap perubahan suhu ekstrem.

Baca Juga: Makin Jadi Andalan Warga! MRT Jakarta Catat 4,1 Juta Pelanggan pada Januari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru