Sejarah Gunung Anak Krakatau yang Naik Status Siaga Level 3

Selasa, 26 April 2022 | 11:55 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
Sejarah Gunung Anak Krakatau yang Naik Status Siaga Level 3

ILUSTRASI. Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kalianda, Lampung Selatan, Kamis (19/7).  REUTERS/Stringer TPX IMAGES OF THE DAY


KONTAN.CO.ID -Jakarta. Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Becana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari sebelumnya Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) terhitung sejak tanggal 24 April 2022, pukul 18.00 WIB. 

Dikutip Kontan.co.id (25/4/2022), masyarakat diminta untuk menyesuaikan peningkatan status ini dengan tidak beraktivitas dalam radius 5 Kilo meter (km) dari kawah aktif. 

"Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) terhitung sejak tanggal 24 April 2022, pukul 18.00 WIB. Peningkatan status ini dilakukan setelah melihat hasil pemantauan visual dan instrumental Gunung Anak Krakatau menunjukkan adanya kenaikan aktivitas yang semakin signifikan," ujar Kepala Badan Geologi, Eko Budi Lelono dalam keterangan resmi, Senin (25/4).

Sehubungan dengan peningkatan aktivitas tersebut, Eko meminta agar masyarakat, pengunjung, wisatawan maupun pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 km dari Kawah Aktif.

Baca Juga: Siaga Meletus, BMKG Ingatkan Bahaya Tsunami Akibat Gunung Anak Krakatau

Sejarah Gunung Anak Krakatau

Sejarah Gunung Anak Krakatau bermula dari letusan besar gunung berapi Krakatau di Indonesia pada 1883. Letusan pada 1883 tersebut menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling mematikan yang pernah terjadi.

Dirangkum dari laman Britannica, letusan ini begitu hebat sehingga memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 orang.

Gunung Krakatau adalah bagian dari Cincin Api, atau lingkaran api Pasifik, daerah yang sering mengalami gempa Bumo dan letusan gunung berapi. Krakatau terletak di Selat Sunda, perairan antara pulau Jawa dan Sumatra di Indonesia.

Aktivitas di Krakatau pertama kali terdeteksi pada 20 Mei 1883. Aktivitas ini berkurang hingga 19 Juni.

Baca Juga: Status Gunung Anak Krakatau Naik Menjadi Siaga

Gunung berapi itu kemudian menjadi semakin ganas. Pada tanggal 26 Agustus serangkaian letusan terjadi, dan awan abu hitam naik 17 mil (27 kilometer) di atas Krakatau. 

Keesokan harinya, sebuah letusan menghancurkan sebagian besar pulau. Hal itu bisa terdengar sejauh 2.200 mil atau 3.500 kilometer di Australia. 

Letusan Gunung Krakatau ini tetap menjadi suara paling keras dalam sejarah yang tercatat. Sementara, abu Gunung Krakatau terlempar setinggi 50 mil (80 kilometer) ke udara. Pada pagi hari tanggal 28 Agustus 1883 aktivitas di Gunung Krakatau mulai mereda.

Debit material letusan dari Krakatau begitu besar sehingga abu jatuh di area seluas sekitar 300.000 mil persegi (800.000 kilometer persegi). 

Massa batu apung (batu vulkanik) yang mengambang di laut sangat besar sehingga mempengaruhi lalu lintas kapal. Abu di udara begitu tebal sehingga wilayah di sekitar gunung berapi itu gelap selama dua setengah hari.

Baca Juga: Gunung Ruang Waspada Meletus, Cek Status Gunung Berapi di Indonesia

Sebenarnya, letusan Gunung Krakatau tidak menimbulkan banyak korban. Namun, letusan ini menyebabkan serangkaian tsunami, tercatat sejauh Amerika Selatan dan Hawaii. 

Tsunami terbesar menghancurkan 300 kota dan desa dan menewaskan 36.000 orang. Pada 1927 letusan baru dimulai di bawah laut di kaldera Krakatau (lubang yang terbentuk oleh runtuhnya gunung berapi). 

Pada 1928, sebuah kerucut naik ke permukaan laut. Pada 1930, telah terbentuk pulau kecil yang disebut Anak Krakatau. 

Gunung Anak Krakatau telah aktif secara sporadis sejak saat itu, dan kerucut terus tumbuh hingga ketinggian sekitar 1.000 kaki (300 meter) di atas permukaan laut. Nah, itulah sejarah mengenai Gunung Anak Krakatau yang naik level menjadi siaga 3. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Virdita Ratriani

Terbaru