Jabodetabek

Analisis Data Satelit Cuaca: Jakarta dan Bogor Diprediksi Kering, Udara Pengap

Selasa, 15 September 2026 | 04:07 WIB
Analisis Data Satelit Cuaca: Jakarta dan Bogor Diprediksi Kering, Udara Pengap

ILUSTRASI. Analisis data satelit pagi ini menunjukkan Jakarta dan Bogor bebas dari potensi hujan akibat sapuan angin Monsun Australia. Antisipasi udara gerah menyengat! (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Hasbi Maulana  | Editor: Hasbi Maulana

KONTAN.CO.ID - Wilayah DKI Jakarta dan Bogor diprediksi akan mengalami kondisi cuaca kering ekstrem serta bebas dari potensi hujan pada Selasa (15/9) sepanjang hari.

Berdasarkan analisis mandiri terhadap data visual sumber citra satelit dari BMKG melalui pancaran satelit Himawari-9 dan GK2A terbaru pukul 03.40 WIB, dinamika atmosfer di atas wilayah Jabodetabek menunjukkan tingkat kestabilan yang sangat tinggi akibat minimnya pasokan uap air.

Langit Bersih Tanpa Indikasi Hujan

Pantauan visual dari data Cloud Type (Jenis Awan) dan Convective Cloud Coverage menunjukkan seluruh area Jakarta dan Jawa Barat bagian barat berada dalam status "Clear" atau bersih total dengan persentase awan konvektif sebesar 0%.

Peta radar potensi hujan maupun akumulasi curah hujan (GSMaP Rainfall Accumulation) juga menampilkan warna krem polos di kawasan Jabodetabek.

Data visual ini menegaskan tidak adanya pembentukan awan tebal pembawa hujan (Cumulonimbus), termasuk potensi hujan orografis lokal yang biasanya kerap muncul di lereng pegunungan Bogor Barat.

Baca Juga: Dikepung Angin Monsun Australia, Jakarta-Bogor Berpotensi Gerah Tanpa Hujan Malam Ini

Efek Monsun Australia Menyapu Uap Air

Faktor utama penahan hujan ini didorong oleh pergerakan Vektor Angin (Wind Vector) di lapisan atmosfer bawah (850mb) yang bertiup kencang secara konsisten dari arah Timur-Tenggara.

Angin Monsun yang bersifat kering ini berembus dari Benua Australia dan secara efektif menyapu sisa-sisa kelembapan udara basah ke arah Samudra Hindia.

Melalui citra satelit Water Vapor Enhanced (WE) dari BMKG, Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara saat ini tampak dikepung oleh zona sirkulasi berwarna cokelat pekat hingga jingga (Dry), yang secara ilmiah mengonfirmasi gersangnya lapisan atmosfer atas dari pasokan air.

Baca Juga: Kalender Lunar China 14-20 September 2026: Catat Aktivitas Baik Anda Pekan Ini

Masyarakat Diimbau Antisipasi Udara Gerah

Meskipun mobilitas luar ruangan dipastikan aman dari guyuran air hujan, masyarakat di kawasan urban Jakarta dan Bogor diimbau untuk mengantisipasi fenomena udara pengap dan gerah (sumuk) yang cukup intens.

Tekanan udara kering di lapisan atas bertindak serupa "tutup wadah" yang memerangkap sisa suhu hangat radiasi matahari di dekat permukaan bumi. Di daerah padat bangunan dan aspal seperti Jakarta, proses pelepasan kalor dari permukaan tanah ke luar angkasa menjadi terhambat, sehingga memicu suasana gerah yang konstan hingga malam hari.

Bagi para komuter, cuaca ini sangat mendukung kelancaran transportasi. Namun, penggunaan pakaian berbahan tipis yang menyerap keringat serta pemenuhan konsumsi air minum secara berkala sangat disarankan guna menghindari dehidrasi akibat suhu udara yang menyengat siang nanti.

Baca Juga: Kalender Jawa 14-20 September 2026: Cek Aktivitas Baik dan Perlu Dihindari

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru