Bandara Ditutup Usai 4 Gunung Erupsi, Ini Cara Abu Vulkanik Merusak Mesin Pesawat

Senin, 07 September 2026 | 11:23 WIB
Bandara Ditutup Usai 4 Gunung Erupsi, Ini Cara Abu Vulkanik Merusak Mesin Pesawat

ILUSTRASI. Jumlah Kunjungan Wisman (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Pemerintah menutup delapan bandara di Indonesia, termasuk Bandara International Soekarno-Hatta pasca erupsi gunung Anak Krakatau. Penutupan tersebut untuk keselamatan penumpang pesawat agar tidak terdampak abu vulkanik.

Bagi penerbangan, material yang terkandung dalam abu vulkanik merupakan salah satu ancaman serius karena dapat merusak berbagai komponen pesawat, terutama mesin jet.

Abu vulkanik terbentuk dari partikel sangat kecil berupa pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik. Partikel tersebut bersifat keras dan abrasif sehingga berbeda dengan abu dari pembakaran kayu atau bahan bakar.

Bagi pesawat, partikel abu yang masuk melalui saluran udara mesin dapat mengalami perubahan akibat temperatur yang sangat tinggi di dalam mesin.

Menurut U.S. Geological Survey (USGS), material silikat seperti kaca vulkanik dalam abu memiliki titik leleh yang lebih rendah dibandingkan temperatur pembakaran di mesin jet modern.

Akibatnya, abu dapat meleleh di bagian panas mesin kemudian membeku kembali sebagai endapan di bagian yang lebih dingin. Kondisi ini dapat mengganggu kinerja mesin hingga menyebabkan compressor stall atau terganggunya aliran udara dan hilangnya daya dorong.

Baca Juga: Daftar 69 Gunung Api Indonesia dan Statusnya: 5 Gunung di Level Siaga

Bagaimana Abu Vulkanik Bisa Merusak Mesin Pesawat?

Secara sederhana, proses kerusakannya dapat terjadi seperti berikut:

1. Abu tersedot ke dalam mesin

Ketika pesawat terbang melewati awan abu, partikel vulkanik masuk melalui saluran udara menuju kompresor mesin.

2. Partikel masuk ke bagian mesin yang sangat panas

Di dalam mesin jet terdapat bagian yang bekerja pada temperatur sangat tinggi. Temperatur pembakaran ini dapat melampaui titik leleh material kaca silikat yang terdapat dalam abu vulkanik.

3. Abu meleleh

Partikel abu yang masuk dapat meleleh ketika melewati bagian panas mesin.

4. Material menempel di bagian yang lebih dingin

Ketika material tersebut bergerak ke bagian mesin yang temperaturnya lebih rendah, abu yang telah meleleh dapat membeku kembali dan membentuk endapan keras.

USGS menjelaskan endapan tersebut dapat terbentuk pada komponen penting di bagian turbin dan mengganggu aliran udara di dalam mesin.

5. Kinerja mesin menurun

Penumpukan material dapat mengurangi area aliran udara, mengganggu kerja kompresor dan turbin, serta mengurangi kemampuan mesin menghasilkan daya dorong.

Dalam kondisi berat, gangguan tersebut dapat menyebabkan compressor stall, engine flameout atau matinya nyala api dalam mesin, hingga kehilangan thrust atau dorongan.

Partikel tersebut dapat berubah menjadi material yang meleleh, menempel, lalu mengganggu komponen penting mesin jet.

Baca Juga: Jangan Asal Pakai, Ini Masker yang Tepat untuk Cegah Paparan Abu Vulkanik

Mesin Pesawat Bahkan Bisa Mati Total

USGS mendokumentasikan 79 kejadian kerusakan pesawat akibat pertemuan dengan awan abu vulkanik pada periode 1953-2009.

Sebanyak 26 kejadian masuk kategori kerusakan signifikan hingga sangat berat pada mesin dan/atau badan pesawat. Dalam sembilan kejadian, mesin mengalami shutdown alias mati total ketika pesawat sedang terbang.

Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat juga memperingatkan bahwa pesawat yang masuk awan abu vulkanik dapat mengalami kehilangan daya yang sangat serius.

Setidaknya dua Boeing 747 tercatat pernah kehilangan tenaga pada keempat mesinnya setelah memasuki awan abu vulkanik.

Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Meluas, Tangsel hingga Bogor Terapkan PJJ

Kasus Gunung Galunggung di Indonesia

Pada 1982, dua Boeing 747-200 mengalami insiden setelah memasuki awan abu dari erupsi Gunung Galunggung, Jawa Barat.

Dalam salah satu kejadian pada 24 Juni 1982, sebuah Boeing 747 dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Perth kehilangan daya pada keempat mesinnya setelah memasuki awan abu pada ketinggian sekitar 37.000 kaki.

Mengutip laporan International Civil Aviation Organization (ICAO), pesawat kemudian turun tanpa tenaga selama sekitar 16 menit. Setelah mencapai ketinggian sekitar 12.000 kaki, awak pesawat berhasil menyalakan kembali tiga mesin dan melakukan pendaratan darurat di Jakarta.

Beberapa minggu kemudian, Boeing 747 lainnya juga mengalami masalah setelah terkena abu Galunggung. Pesawat tersebut kehilangan tenaga pada tiga mesin dan harus melakukan pendaratan darurat.

Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau, Ini Cara Aman Melindungi Diri dari Abu Vulkanik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru