Kemudian, pada level 2 ada terowongan Service (listrik, air bersih, gas, telekomunikasi), level 3 saluran air limbah, level 4 kereta bawah tanah (subway, MRT, LRT). Selanjutnya, level 5 jalan penghubung antar Kawasan, dan terakhir level 6 untuk tampungan air.
Selanjutnya dari sisi hidrogeologi, Daru bilang perhatian akan pentingnya pengelolaan sumber air sebagai penopang kehidupan harus ditingkatkan. Seperti diketahui mayoritas penduduk dunia hidup di area “urban” yang rentan terpapar oleh perubahan iklim dan dinamika pengelolaan air perkotaan.
Adapun dampak akibat pengelolaan air tanah yang serampangan di kota-kota besar akan berakibat pada lingkungan termasuk lingkungan bawah permukaan.
Baca Juga: BMKG: Hari ini hujan lebat disertai petir bisa turun di Jabodetabek
Dampak tersebut di antaranya terkait dengan kualitas (pencemaran) air tanah, penurunan muka tanah karena penurapan air yang berlebih, banjir, dan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai air.
IAGI menyarankan berbagai data dan informasi kegeologian tersebut harus diintegrasikan dengan baik. Adaptasi revolusi teknologi 4.0, riset dasar dan terapan urban geologi hingga saat ini, dan aplikasinya untuk kota-kota besar termasuk Jakarta sudah sangat mungkin dilakukan.
Daru mengungkapkan saat ini riset-riset urban geologi telah berkembang semakin luas mencakup pemodelan geohazards, geosphere, biosphere, ekologi, geokimia, hidrogeologi, sampai perencanaan kota. "Sudah saatnya Jabodetabek melakukannya," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News