Nusantara

Data Satelit Cuaca Terbaru: Sejumlah Wilayah Ini Masih Berpotensi Hujan Lebat

Selasa, 15 September 2026 | 04:20 WIB
Diperbarui Selasa, 15 September 2026 | 04:21 WIB
Data Satelit Cuaca Terbaru: Sejumlah Wilayah Ini Masih Berpotensi Hujan Lebat

ILUSTRASI. Analisis data satelit terbaru, sejumlah wilayah di Sumatra Utara, Kalimantan Utara, dan Papua diprediksi masih diguyur hujan lebat. (Sumber foto citra satelit: BMKG)


Reporter: Hasbi Maulana  | Editor: Hasbi Maulana

KONTAN.CO.ID - Di tengah dominasi cuaca kering ekstrem yang mengunci Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, sejumlah wilayah di Indonesia diprediksi masih akan diguyur hujan intensitas sedang hingga lebat.

Fenomena anomali cuaca di tengah musim kemarau ini terdeteksi dari hasil pemantauan data atmosfer terbaru.

Berdasarkan analisis mandiri terhadap data fisik sumber citra satelit dari BMKG melalui pancaran satelit Himawari-9 dan GK2A per Selasa (15/9) pukul 03.40 WIB, pasokan uap air melimpah dan awan konvektif tebal masih terkonsentrasi di beberapa zona Indonesia bagian utara dan timur.

Baca Juga: Analisis Data Satelit Cuaca: Jakarta dan Bogor Diprediksi Kering, Udara Pengap

Sumatra Utara dan Aceh Rawan Hujan

Pantauan visual dari data Water Vapor Enhanced (WE) menunjukkan zona biru tua pekat (Wet) masih bertahan kuat di belahan bumi utara Khatulistiwa. Hal ini mengonfirmasi adanya kandungan uap air yang sangat tinggi di atas langit Sumatra bagian utara.

Melalui citra Himawari-9 EH (Enhanced) dan indikator Rainfall Potential, gumpalan awan tebal berketinggian tinggi dengan warna hijau hingga jingga terpantau aktif di sekitar Aceh, Sumatra Utara, Riau, serta pesisir barat Sumatra Barat. Kawasan-kawasan ini diprediksi berpotensi mengalami hujan lebat yang dapat disertai kilat lokal sepanjang hari ini.

Baca Juga: Dikepung Angin Monsun Australia, Jakarta-Bogor Berpotensi Gerah Tanpa Hujan Malam Ini

Kalimantan Utara dan Papua Turut Diguyur Hujan

Selain Sumatra, wilayah Kalimantan Utara dan sebagian perbatasan Kalimantan Barat juga menunjukkan aktivitas atmosfer yang basah. Peta Cloud Type (Jenis Awan) mendeteksi adanya pergerakan High Cloud dan awan padat (Dense) yang merembet dari Laut China Selatan menuju daratan Kalimantan Utara.

Sementara itu, di wilayah Indonesia timur, potensi hujan terkonsentrasi di pulau Papua, khususnya Papua Barat dan kawasan pegunungan Papua Tengah. Berdasarkan indikator Cloud Top Height, puncak awan konvektif di wilayah tersebut terukur mencapai 10 hingga 12 kilometer. Ketinggian ini secara ilmiah menjadi syarat mutlak terbentuknya hujan lokal berdurasi singkat namun dengan intensitas tinggi pada siang menjelang sore hari.

Baca Juga: Kalender Lunar China 14-20 September 2026: Catat Aktivitas Baik Anda Pekan Ini

Kontras dengan Jawa dan Sulawesi

Kondisi di tiga pulau tersebut sangat kontras dengan situasi di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku yang dipastikan bersih total dari awan hujan (Clear). Wilayah-wilayah selatan ini sedang dikepung oleh aliran angin Monsun Australia yang kering, ditandai dengan warna cokelat pekat pada radar satelit uap air.

Bagi pelaku usaha di sektor logistik, penerbangan, dan pelayaran komoditas, peta sebaran hujan ini penting untuk mengantisipasi potensi hambatan distribusi di wilayah Sumatra utara dan jalur laut sekitarnya. Sebaliknya, wilayah Jawa dan Sulawesi dapat memaksimalkan mobilitas luar ruangan secara penuh berkat cuaca kering yang stabil.

Baca Juga: Kalender Jawa 14-20 September 2026: Cek Aktivitas Baik dan Perlu Dihindari

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru