Politik

Media asing kritisi Pilkada 2020 yang semakin menonjolkan politik dinasti

Kamis, 10 Desember 2020 | 12:10 WIB Sumber: Kompas.com
Media asing kritisi Pilkada 2020 yang semakin menonjolkan politik dinasti

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Media internasional menyoroti pelaksanaan Pilkada 2020 yang berlangsung di tengah pandemi corona. Media internasional juga menyoroti Pilkada 2020 yang diikuti anak dan mantu Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Indonesia pada Rabu (9/12/2020) melangsungkan pemilihan kepala daerah (Pilkada) dengan lebih dari 100 juta orang berhak memilih pemimpin politik di 270 wilayah. Dalam Pilkada ini menentukan gubernur di 9 dari 34 provinsi, bupati di 224 dari 416 kabupaten, dan wali kota di 37 dari 98 kota.

Putra pertama Jokowi, Gibran Rakabuming Raka mencalonkan diri sebagai wali kota di Solo. Gibran nampaknya mengikuti jejak sang ayah yang mengawali karir pemerintahan sebagai wali kota Solo pada 2005, sebelum menjabat 2 periode sebagai presiden Indonesia. Sedangkan, menantu laki-laki Jokowi, Bobby Nasution mencalonkan diri sebagai wali kota di Medan.

Penghitungan cepat yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei lokal menunjukkan Gibran memperoleh hampir 90 persen suara dalam pemilihan pada Rabu. Meskipun tidak semua suara telah dihitung, keunggulannya cukup lebar untuk menjamin kemenangannya, seperti yang dilansir dari Nikkei Asia pada Rabu.  Hasil resmi akan dirilis pada 15 Desember. Jika dikonfirmasi menang, maka Gibran akan menjadi wali kota Solo pada Februari mendatang.

Baca juga: Brosur promo Tupperware Desember 2020, produk piring dan mangkok harga murah

Beberapa media asing menyoroti Pilkada di Indonesia tahun ini sebagai politik dinasti baru yang akan lahir. Baik Gibran maupun Bobby, keduanya adalah pendatang baru di dunia politik Indonesia. Namun, mereka telah mendapat dukungan partai politik besar, dimana Jokowi berada, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), sekalipun melawan kader-kader menjanjikan lainnya yang telah berkiprah di PDIP lebih lama.

“Jika mereka hanya warga negara atau politikus biasa, mereka tidak akan mendapatkan tiket itu dengan mudah,” kata Abdil Mughis Mudhoffir, seorang peneliti post-doktoral di Institut Asia Universitas Melbourne, seperti yang dilansir dari Bloomberg pada Selasa (8/12/2020).

“Keluarga Jokowi akan bergabung dengan klub dinasti politik lain yang ada dalam perebutan kekuasaan dan sumber daya," lanjut Mudhoffir.

"Politik Indonesia akan tetap sama, atau bahkan memburuk karena dinasti dan nepotisme akan menjadi normal baru,” terangnya.

Para kritikus kini mempertanyakan apakah Jokowi sedang mencoba membangun dinasti politiknya sendiri, seperti yang dilansir dari Nikkei Asia pada Rabu (9/12/2020). Sementara, dinasti politik adalah sebuah gagasan yang ingin Jokowi hindari dengan menjauhkan diri dari ambisi politik putra dan menantunya, melalui penyangkalan klaim apa pun tentang dinasti politik keluarganya itu.

“Saya tidak pernah memaksa anak-anak saya mengikuti saya atau terjun ke politik, tidak ada hal seperti itu,” kata Jokowi dalam wawancara dengan Kompas TV, November lalu, seperti yang dikutip dari Bloomberg.

“Itu hanyalah hak politik setiap warga negara, termasuk anak-anak saya,” lanjutnya.

Panggilan ke juru bicara presiden untuk meminta komentar tidak segera dijawab. Melansir Bloomberg, Gibran sempat menanggapi isu soal dinasti yang sedang tumbuh, dengan mengatakan dia tidak menjamin kemenangan pemilihan. “Ini kontes, bukan janji,” katanya setelah pencalonannya diumumkan pada Juli.

Editor: Adi Wikanto
Terbaru