KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Selatan, mulai memukul aktivitas pelaku usaha, terutama peternak ayam.
Selain menghadapi risiko kematian ternak akibat terganggunya sistem ventilasi kandang, peternak juga harus menanggung lonjakan biaya operasional hingga jutaan rupiah per hari untuk mengoperasikan genset sebagai sumber listrik cadangan.
Di sisi lain, PLN menyatakan pemadaman dipicu gangguan pada tiga pembangkit listrik besar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Salah satu peternak ayam di Palangka Raya, Arif (41), mengaku pemadaman listrik yang berlangsung hingga sekitar enam jam setiap hari membuat biaya operasional usahanya melonjak drastis.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Palangka Raya Hari Ini & Waktu Subuh 22 Februari 2026
Untuk menjaga pasokan listrik di kandang, ia harus mengandalkan genset yang menghabiskan solar senilai sekitar Rp3 juta per hari.
"Setiap hari kami harus mengeluarkan sekitar Rp3 juta hanya untuk membeli solar genset," kata Arif saat mengikuti aksi Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) di depan Kantor PLN UP3 Palangka Raya seperti dikutip dari Tribunnews, Senin (3/8/2026).
Menurut Arif, beban peternak tidak hanya berasal dari tambahan biaya bahan bakar, tetapi juga sulitnya memperoleh solar non-subsidi. Pembelian di SPBU dibatasi sehingga peternak harus mencari berbagai cara agar kebutuhan bahan bakar genset tetap terpenuhi.
Kondisi itu dinilai semakin memberatkan karena listrik yang padam membuat peternak bergantung penuh pada genset. Ketika pasokan bahan bakar sulit diperoleh, operasional kandang ikut terancam.
Kerugian juga muncul akibat kematian ayam sejak awal pemadaman bergilir berlangsung. Situasi memburuk ketika genset mengalami kendala setelah digunakan terus-menerus selama berjam-jam.
Baca Juga: Jadwal Buka Puasa Palangka Raya Sabtu 21 Februari 2026 Resmi Kemenag RI
Arif menjelaskan, masalah bukan terjadi pada mesin genset, melainkan selang bahan bakar yang mengalami panas berlebih sehingga harus diperbaiki.
Saat aliran listrik terputus dan ventilasi kandang berhenti bekerja, kadar amonia meningkat sehingga banyak ayam mati karena menghirup gas tersebut. Sebagian ternak masih dapat diselamatkan dengan dipindahkan ke area terbuka.
Selain mendesak agar pemadaman segera dihentikan, Arif juga meminta manajemen PLN bertanggung jawab atas kerugian yang dialami masyarakat dan pelaku usaha. Ia bahkan menuntut General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah mundur dari jabatannya.
Sementara itu, aksi protes terhadap pemadaman listrik di Palangka Raya memasuki hari ketiga pada Kamis (30/7/2026) lalu.
Massa yang tergabung dalam Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) sempat berunjuk rasa di Kantor PLN UP3 Palangka Raya sebelum akhirnya bergeser ke Istana Isen Mulang untuk bertemu Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran dan General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono.
Dalam pertemuan tersebut, Iwan menjelaskan pemadaman bergilir terjadi akibat gangguan pada tiga pembangkit listrik berkapasitas besar, yakni PT SKS di Gunung Mas, PT TPI di Tabalong, serta PLTU Asam-Asam.
Baca Juga: Apakah Magrib Lebih Cepat? Cek Jadwal Buka Puasa Palangka Raya Minggu (22/2)
Gangguan tersebut menyebabkan sistem kelistrikan kehilangan pasokan sekitar 300 megawatt (MW), sehingga masyarakat harus mengalami pemadaman selama tiga hingga delapan jam.
"Gangguan ini murni berasal dari pembangkit, bukan karena pasokan batu bara," ujar Iwan.
Ia mengatakan kondisi sistem kelistrikan mulai membaik setelah pembangkit PT TPI di Tabalong kembali beroperasi dengan kapasitas sekitar 100 MW. Dampaknya, durasi pemadaman yang sebelumnya mencapai enam hingga tujuh jam kini berkurang menjadi sekitar tiga jam.
PLN menargetkan pembangkit PT SKS di Gunung Mas dapat kembali beroperasi pada 5 Agustus 2026. Untuk mempercepat proses tersebut, PLN mengerahkan tambahan personel membantu perbaikan di pembangkit swasta tersebut.
Sementara itu, proses pemulihan dua unit di PLTU Asam-Asam diperkirakan selesai pada 25 Agustus dan 29 Agustus 2026. Meski demikian, Iwan menegaskan pemadaman bergilir tidak akan berlangsung hingga akhir proses tersebut.
Baca Juga: Cuaca Kalteng Rabu (1/4): Palangka Raya & Gunung Mas Berpotensi Hujan Petir
PLN berharap kondisi sistem kelistrikan sudah kembali normal setelah pembangkit PT SKS masuk ke jaringan pada awal Agustus dan akan terus memantau perkembangan pasokan listrik serta melaporkannya kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News