KONTAN.CO.ID - Sejumlah wilayah di Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, sebanyak empat ZOM mulai memasuki musim kemarau pada Februari 2026.
Selanjutnya, tujuh ZOM memasuki musim kemarau pada Maret 2026.
Jumlah ini kemudian meningkat menjadi 114 ZOM pada April dan bertambah menjadi 184 ZOM pada Mei 2026.
“Sementara itu, sebanyak 163 ZOM (23,3 persen) diprediksi mulai mengalami musim kemarau pada bulan Juni 2026,” tulis BMKG dalam laporan Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia.
Meski demikian, kondisi di lapangan menunjukkan sejumlah wilayah yang telah memasuki musim kemarau justru masih mengalami hujan dengan intensitas tinggi, bahkan disertai angin kencang dan petir.
Fenomena ini juga memicu terjadinya banjir di beberapa daerah.
Diberitakan Kompas.com, banjir dilaporkan melanda 12 titik di Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Kamis (30/4/2026).
Penata Pelayanan Operasional Danton BPBD Tangerang Selatan, Dian Wiryawan, mengatakan ratusan kepala keluarga (KK) terdampak, dengan ketinggian air berkisar antara 10 hingga 40 sentimeter.
Selain banjir, pohon tumbang juga terjadi di Jalan Raya H. Rean Bendahara.
Baca Juga: 1 Mei 2026 Tanggal Merah, Catat Jadwal Libur Sekolah SD-SMA Jawa Tengah Bulan ini
Insiden tersebut bahkan sempat mengganggu lalu lintas.
“Kendaraan truk tertimpa, dan akses jalan raya terganggu. Korban jiwa nihil dan kondisi saat ini sudah clear,” ujar Dian.
Lantas, mengapa hujan lebat dan angin kencang masih terjadi meski sebagian wilayah sudah memasuki musim kemarau?
Hujan lebat dan angin kencang di musim kemarau
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agita Vivi menjelaskan bahwa saat ini sebagian besar wilayah Indonesia tengah berada pada masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
“Meskipun umumnya lebih kering, kondisi ini masih memungkinkan terjadinya hujan lebat, angin kencang, dan petir,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (30/4/2026).
Agita menuturkan, fenomena tersebut dipicu oleh sejumlah faktor dinamika atmosfer yang masih aktif, seperti Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuator, serta Madden-Julian Oscillation (MJO).
Aktivitas ini mampu membawa massa udara lembap yang meningkatkan peluang terbentuknya awan konvektif.
Selain itu, tingkat kelembapan udara yang masih relatif tinggi, ditambah dengan aktivitas konvektif yang cukup signifikan, juga turut memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di berbagai wilayah.
Dalam beberapa hari ke depan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia.
Namun, masyarakat juga perlu mewaspadai potensi peningkatan hujan menjadi sedang hingga lebat di sejumlah daerah berikut:
- Aceh
- Banten
- DKI Jakarta
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- DI Yogyakarta
- Jawa Timur
- Bali
- Nusa Tenggara Barat
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Timur
- Sulawesi Barat
- Maluku
- Papua Tengah
- Papua Pegunungan.
Tonton: Resmi! Outsourcing Kini Dibatasi, Hanya 6 Pekerjaan Ini yang Diizinkan!
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim ini, termasuk kemungkinan hujan lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir, serta dampaknya seperti banjir dan pohon tumbang.
(Alicia Diahwahyuningtyas, Resa Eka Ayu Sartika)
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/01/123000465/sudah-masuk-musim-kemarau-kok-masih-hujan-lebat-hingga-banjir-ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News