Nusantara

Bakti Lingkungan Djarum Foundation Kurangi Emisi 40 Juta Ton CO2 via Penanaman Pohon

Rabu, 23 November 2022 | 15:53 WIB   Reporter: Filemon Agung
Bakti Lingkungan Djarum Foundation Kurangi Emisi 40 Juta Ton CO2 via Penanaman Pohon

ILUSTRASI. Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) mendorong peningkatan pengurangan emisi karbon mencapai 40 juta ton CO2 lewat program penanaman pohon.


KONTAN.CO.ID - KUDUS. Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) mendorong peningkatan pengurangan emisi karbon mencapai 40 juta ton CO2 lewat program penanaman pohon.

Program Associate BLDF Abdurrachman Aldilla mengatakan, secara khusus lewat penanaman pohon trembesi, Djarum Foundation berpotensi mendorong pengurangan emisi hingga 40 juta ton CO2 per tahun.

"Satu pohon trembesi dengan tajuk maksimal bisa menyerap 28,5 ton CO2 per tahun. Dengan kita kurang lebih menanam 150.000 pohon maka ke depan potensinya mencapai 4 juta ton CO2 diusia maksimal trembesi," kata Aldilla ditemui di Kudus, Rabu (23/11).

Vice President Director Djarum Foundation F.X. Supanji menambahkan, BLDF rutin melakukan kegiatan pelestarian lingkungan melalui program Djarum Trees for Life (DTFL).

"Rata-rata, setiap tahunnya DTFL menanam 60.000 aneka ragam bibit tanaman di berbagai lokasi di Indonesia. Bibit-bibit tanaman ini diproses dan disemai di PPT, yang hingga hari ini kami sudah mengoleksi 360 jenis bibit tanaman, termasuk diantaranya 22 jenis tanaman langka," kata Supanji.

Baca Juga: Djarum Foundation Akan Tambah Wilayah Program Penanaman Pohon

Menurut Ketua Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia Mahawan Karuniasa, perlu ada edukasi kepada masyarakat mengenai jenis-jenis pohon yang dapat menyerap banyak emisi.

"Sehingga tidak hanya banyaknya aksi penanaman pohon saja yang diperlukan, tetapi memahami bibit berkualitas dan proses pemeliharaannya juga merupakan hal yang penting dalam upaya penanganan dampak perubahan iklim," kata Mahawan.

Sementara, Direktur Climate Reality Project Indonesia Amanda Katili Niode bilang, isu perubahan iklim merupakan masalah global sehingga semua pemangku kepentingan harus mengambil peran.

Menurutnya, ada sejumlah persoalan terkait lingkungan di Indonesia. Selain, penggunaan bahan bakar fosil, perubahan tata guna lahan juga menjadi salah satu isu penting.

"Solusi berbasis alam intinya bukan cuma menanam pohon, tapi apa saja manfaatnya bagi manusia," kata Amanda. Sehingga, perlu ada pengelolaan secara berkelanjutan. Pemulihan ekosistem pun harus dilakukan secara efektif dan adaptif.

Baca Juga: Kinerja Mendaki, Saham Emiten Milik Konglomerat ini Layak Koleksi

Selanjutnya: Tren Penurunan Pendapatan Premi Unitlink Asuransi Jiwa Terus Berlanjut

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru