KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ekonomi DKI Jakarta masih menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan sebesar 5,52% pada kuartal II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.
Namun, di tengah pertumbuhan yang tetap kuat, Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta mengingatkan adanya risiko yang perlu diwaspadai terhadap perkembangan inflasi, khususnya dari sisi pasokan pangan.
Deputi Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta Bambang Arianto mengatakan, tekanan inflasi ke depan masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya potensi dampak puncak musim kemarau terhadap produksi pangan.
"Namun, kalau kita lihat harga pangan di tingkat petani yang masih relatif tinggi, serta potensi dari dampak puncak musim kemarau, ya tentu perlu kita waspadai terhadap produksi dari hortikultura dan juga produk-produk dari peternakan," ujar Bambang dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: Pemprov DKI Jakarta Pangkas Penggunaan Mobil Dinas
Menurut Bambang, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena Jakarta merupakan wilayah yang sangat bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain.
Apabila produksi di daerah sentra mengalami gangguan akibat kondisi cuaca, maka dapat berdampak terhadap ketersediaan dan harga pangan di Jakarta.
Komoditas pangan seperti cabai merah, bawang merah, cabai rawit, serta sejumlah produk hortikultura menjadi kelompok yang perlu dicermati karena memiliki tingkat sensitivitas tinggi terhadap perubahan cuaca dan pasokan.
Pada Juli 2026, inflasi tahunan Jakarta masih berada dalam kondisi terkendali di level 2,50% yoy atau lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,88% yoy, sementara secara bulanan justru mengalami deflasi sebesar 0,15% mtm.
Bambang menyebut inflasi tahunan terutama dipengaruhi oleh emas perhiasan, bensin, termasuk tarif angkutan udara, beras hingga minyak goreng.
Baca Juga: DKI Jakarta Sabet Penyelenggara Pemerintah Terbaik Tahun 2025
Sementara yang pangan yang menahan laju inflasi (deflasi) bulanan yakni komoditas makanan seperti cabai merah, bawang merah, cabai rawit, bawang putih, tomat, telur ayam ras.
Memasuki kuartal III 2026, risiko tekanan inflasi pangan diprediksi meningkat seiring berlangsungnya periode musim kemarau yang Gangguan produksi akibat berkurangnya pasokan air dapat memengaruhi produktivitas sektor pertanian, khususnya hortikultura.
Selain faktor cuaca, perkembangan harga pangan juga dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk dinamika harga energi global.
Pergerakan harga minyak dunia dapat berdampak terhadap biaya produksi, distribusi, dan logistik yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi harga barang.
Bambang menjelaskan, pengendalian inflasi membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, terutama dalam menjaga pasokan serta kelancaran distribusi.
Baca Juga: 7% Wilayah Indonesia Ini Sudah Memasuki Musim Kemarau
"Yang utama adalah sinergi kebijakan antara pusat dan daerah. Pemerintah pusat tentu berbagai kebijakan stabilisasi dari sisi pasokan dan harga-harga yang dikendalikan pemerintah. Kemudian dari sisi pemerintah daerah bersama BI juga memperkuat strategi untuk menjaga stabilitas, terutama pasokan dan distribusi," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News