KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Struktur ekonomi provinsi DKI Jakarta mengalami perubahan. Jika sebelumnya pertumbuhan ekonomi banyak didorong sektor industri pengolahan, kini sektor jasa semakin mengambil peran besar sebagai penggerak ekonomi ibu kota.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta Bambang Arianto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Jakarta saat ini menunjukkan adanya pergeseran struktur dari ekonomi berbasis manufaktur menuju ekonomi berbasis jasa, kreativitas, dan inovasi.
"Kalau kita lihat lebih dalam, untuk Jakarta sudah terlihat ada pergeseran. Industri pengolahan kontribusinya semakin turun, sementara sektor jasa semakin meningkat," ujar Bambang dalam konferensi pers, Jumat (7/8/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor jasa terhadap perekonomian Jakarta meningkat dari 53,95% pada 2019 menjadi 55,87% pada akhir 2025. Sementara itu, kontribusi industri pengolahan menurun dari sekitar 12% pada 2019 menjadi 10,58% pada akhir 2025.
Baca Juga: Ekonomi DKI Jakarta Tumbuh 5,52% pada Kuartal II-2026, Ini Faktor Penopangnya
Menurut Bambang, perubahan tersebut sejalan dengan karakter ekonomi Jakarta yang semakin kuat sebagai pusat perdagangan, jasa, keuangan, teknologi informasi, dan ekonomi kreatif.
Ekonomi Kreatif Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
Bambang menilai ekonomi kreatif memiliki potensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru Jakarta karena dampaknya tidak hanya terbatas pada pelaku usaha kreatif, tetapi mampu menciptakan efek berganda ke berbagai sektor ekonomi lain.
Menurutnya, sebuah aktivitas ekonomi kreatif seperti konser atau acara besar tidak hanya memberikan dampak kepada industri hiburan, tetapi juga menggerakkan sektor lain seperti makanan dan minuman, fesyen, transportasi, hingga perdagangan.
"Kalau kita bicara ekonomi kreatif, yang bergerak bukan hanya ekonomi kreatifnya saja, tetapi sektor ekonomi lainnya juga ikut bergerak," kata Bambang.
Ia memberikan contoh penyelenggaraan konser. Aktivitas tersebut tidak hanya menghasilkan pendapatan dari penjualan tiket, tetapi juga mendorong konsumsi masyarakat terhadap berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari makanan, minuman, pakaian, aksesori, hingga transportasi.
"Kalau ada event atau konser, apakah hanya konsernya saja yang bergerak? Tidak. Makanan, minuman, pakaian, aksesori, semuanya ikut terdorong," ujarnya.
Menurut Bambang, efek berganda tersebut menjadikan ekonomi kreatif sebagai sektor yang mampu menciptakan "percikan awal" bagi pertumbuhan sektor lainnya.
Baca Juga: Pengumuman! Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Sementara Akibat Kebakaran
Selain memberikan dampak ekonomi, Bambang mengatakan perkembangan ekonomi kreatif juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru.
Menurutnya, banyak aktivitas ekonomi kreatif yang pada awalnya berkembang dari sektor informal, seperti kreator konten atau usaha kreatif skala kecil. Namun, ketika berkembang, pelaku usaha tersebut akan masuk ke sektor formal melalui legalitas usaha, pengelolaan bisnis, dan akses pembiayaan.
"Kalau konten kreator mau berkembang, mereka pasti masuk ke area yang lebih formal, memiliki izin usaha, dan mengikuti aturan," katanya.
Bambang menjelaskan, transformasi tersebut menjadi peluang bagi penciptaan lapangan kerja, terutama pekerjaan yang berbasis kreativitas, inovasi, dan kemampuan digital. Menurutnya, jenis pekerjaan masa depan tidak hanya terbatas pada pekerjaan konvensional seperti bekerja di pabrik atau kantor, tetapi juga berkembang melalui sektor kreatif yang membutuhkan inovasi.
"Kalau bergeser ke sektor kreatif, dalam jangka panjang justru bisa menampung lebih banyak pelaku ekonomi kreatif," ujar Bambang.
Ia menambahkan, ruang ekonomi kreatif sangat luas karena batas perkembangannya bergantung pada inovasi dan kemampuan pelaku usaha menciptakan nilai tambah.
"Sepanjang punya inovasi dan bisa memberikan nilai tambah, sektor ini akan terus memiliki peluang untuk berkembang dan memberikan penghasilan," katanya.
Penguatan sektor jasa dan ekonomi kreatif juga tercermin dari kinerja sejumlah lapangan usaha utama Jakarta.
Baca Juga: Intip Prakiraan Cuaca Jawa Barat Hari Jumat (7/8): Udara Kabur Mendominasi!
Pada kuartal II-2026, sektor Perdagangan Besar dan Eceran tumbuh sebesar 6,83% yoy dan menjadi salah satu sumber pertumbuhan terbesar, yang mendorong ekonomi DKI Jakarta tumbuh 5,52% pada kuartal II-2026
Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh kuat sebesar 9,52% yoy, didorong meningkatnya aktivitas pariwisata, hotel, dan kuliner. Sementara sektor Informasi dan Komunikasi tumbuh sebesar 5,97% yoy, mencerminkan berkembangnya layanan digital, transaksi berbasis aplikasi, serta ekonomi berbasis konten.
Bambang mengatakan, berbagai kegiatan besar di Jakarta juga mulai menunjukkan dampak terhadap ekonomi daerah. Meski belum melakukan riset khusus terhadap seluruh konser atau event, BI melihat sejumlah kegiatan seperti Jakarta Marathon telah memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi.
Menurutnya, apabila pengembangan ekonomi berbasis event dan kreatif dilakukan secara lebih serius, dampaknya dapat semakin besar. Ia mencontohkan Singapura yang berhasil memanfaatkan industri event dan ekonomi kreatif sebagai bagian dari strategi meningkatkan aktivitas ekonomi.
"Kalau ini dikembangkan lebih serius dan Jakarta bisa mengambil posisi sebagai pemain utama di Asia Tenggara, dampaknya akan cukup besar bagi ekonomi," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News