Peristiwa

BI Uji Tanam Bawang Merah di Lahan Bekas Banjir Aceh, Hasilnya 10,3 Ton per Ha

Kamis, 05 November 2026 | 17:25 WIB
BI Uji Tanam Bawang Merah di Lahan Bekas Banjir Aceh, Hasilnya 10,3 Ton per Ha

ILUSTRASI. Jumlah lahan pertanian direhabilitasi pascabencana hidrometeorologi (ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA)


Reporter: Siti Masitoh  | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – SABANG. Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh melakukan uji coba penanaman komoditas pangan di lahan pertanian terdampak banjir dan tertutup lumpur. Hasilnya, penanaman bawang merah di lahan bekas banjir tersebut mampu menghasilkan produksi rata-rata 10,3 ton per hektare.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Aceh Agus Chusaini mengatakan, program tersebut merupakan salah satu upaya BI untuk membantu pemulihan ekonomi masyarakat, khususnya petani yang lahan pertaniannya terdampak bencana banjir hidrometeorologi.

Dalam program percontohan atau piloting tersebut, BI mencoba menanam tiga komoditas, yakni bawang merah, cabai, dan jagung di lahan yang masih tertutup lumpur akibat banjir.

Baca Juga: Bungkil Kedelai untuk Pakan Ayam: Kandungan dan Manfaatnya

Agus menjelaskan, sebelum melakukan penanaman, BI bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala (USK) di Banda Aceh, untuk melakukan penelitian terhadap kondisi tanah bekas banjir. Penelitian tersebut bertujuan mengetahui jenis tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan yang terdampak lumpur.

Dari hasil penelitian, ketiga komoditas tersebut dinilai cocok untuk dikembangkan di lahan terdampak bencana. BI kemudian melakukan uji coba penanaman bawang merah dan memperoleh hasil yang cukup positif.

"Alhamdulillah setelah kita melakukan piloting, di sana terjadi peningkatan produksi ternyata. Walaupun itu lumpur dari bencana, ternyata setelah melakukan piloting untuk nanam bawang merah, kita rata-rata mendapatkan 10,3 ton per hektare," ujar Agus dalam paparannya pada Agenda pelatihan Wartawan BI, Kamis (5/11/2026).

Agus menyebutkan, hasil panen bawang merah tersebut bervariasi di sejumlah lahan. Produksi tertinggi bahkan mencapai 14 ton per hektare, sementara hasil lainnya berada di kisaran 8 ton hingga 12,6 ton per hektare.

Menurutnya, program ini tidak hanya bertujuan mengoptimalkan lahan pertanian yang terdampak bencana, tetapi juga memberikan sumber penghasilan bagi petani selama menunggu proses rehabilitasi lahan selesai.

Dengan demikian, petani yang sawahnya terdampak banjir tetap memiliki kesempatan untuk bekerja dan memperoleh pendapatan meskipun lahan pertanian mereka belum sepenuhnya pulih.

Agus menambahkan, program percontohan tersebut telah direplikasi oleh Pemerintah Provinsi Aceh melalui penyaluran 4,5 ton bibit kepada petani.

BI juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, USK, serta kementerian dan lembaga terkait untuk memastikan program tersebut berjalan dengan baik.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini 5 November 2026, Jaksel Diguyur Hujan

"Kita pun tetap jaga kelompok tani yang dapat bantuan dari pemerintah jangan sampai gagal. Nanti kalau gagal, tidak diteruskan piloting-nya pemerintah, padahal kita berharap ini bisa direplikasi oleh pemerintah," katanya.

Ke depan, hasil uji coba tersebut juga akan dikomunikasikan kepada Satgas sebagai salah satu alternatif penanganan lahan pertanian terdampak bencana, terutama selama proses rehabilitasi dan pemulihan berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Video Terkait


Terbaru