Peristiwa

Dampak El Nino: Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, BMKG Minta Masyarakat Siaga

Senin, 30 Maret 2026 | 04:12 WIB
Dampak El Nino: Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, BMKG Minta Masyarakat Siaga

ILUSTRASI. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau 2026 di Indonesia bakal berlangsung lebih panjang. (Dok/BMKG.go.id)


Sumber: Kompas.com  | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau 2026 di Indonesia bakal berlangsung lebih panjang. Hal ini diungkap oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani.

“Durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,” kata dia, dilansir dari laman resmi BMKG.

Kondisi ini terjadi karena musim kemarau di Indonesia diperikrakan maju, atau terjadi lebih cepat dari biasanya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan merinci,awal kemarau di 325 ZOM (46,5 persen) bakal terjadi lebih cepat dari biasanya.

Sementara itu, 173 ZOM (24,7 persen) mengalami musim kemarau dengan durasi sama seperti tahun sebelumnya.

Dan hanya 72 ZOM (10,3 persen) di Indonesia yang mengalami musim kemarau mundur.

“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” ujarnya.

Lantas, benarkah musim kemarau 2026 di Indonesia mulai terjadi pada April 2026?

Baca Juga: Sumatera Hari Ini (29 Maret 2026): Cek Cuaca 4 Provinsi, Hindari Terjebak Hujan!

Musim kemarau 2026 di Indonesia

BMKG memprediksi bahwa musim kemarau 2026 di Indonesia terjadi lebih cepat, yakni mulai April 2026.

Data menunjukkan, sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.

Wilayah yang dimaksud meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.

Faisal mengatakan, kondisi ini terjadi karena dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina Lemah pada Februari 2026 yang bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun.

Dia menjelaskan, berdasarkan pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 (Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026.

Kendati demikian, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Niño kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60 persen mulai semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian.

“Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,” kata Faisal.

Selanjutnya, sekitar 184 ZOM (26,3 persen) menyusul memasuki musim kemarau pada Mei 2026, dan 63 ZOM (23,3 persen) pada Juni 2026.

Baca Juga: Info Cuaca Maluku 29 Maret: Ambon dan Maluku Tengah Diguyur Hujan

Sebaran wilayah yang merasakan musim kemarau 2026 lebih dulu

Merujuk data perkiraan BMKG, berikut ini wilayah di Indonesia yang mengalami musim kemarau 2026 lebih awal:

April 2026

  • Pesisir utara Jawa Barat
  • Jawa bagian barat
  • Sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur
  • Sebagian kecil Bali
  • Sebagian besar Nusa Tenggara Barat
  • Sebagian besar Nusa Tenggara Timur
  • Sebagian kecil Kalimantan Selatan
  • Sebagian kecil Sulawesi Selatan.

Mei 2026

  • Sebagian Sumatera
  • Jawa bagian barat
  • Sebagian kecil Jawa Tengah hingga Jawa Timur
  • Bali
  • Sebagian kecil Nusa Tenggara Barat
  • Kalimantan bagian selatan
  • Sebagian kecil Sulawesi
  • Sebagian kecil Maluku
  • Sebagian Pulau Papua.

April 2026

  • Sebagian besar Sumatera
  • Sebagian kecil Jawa
  • Sebagian besar Kalimantan
  • Sebagian Sulawesi
  • Sebagian Maluku
  • Sebagian kecil Pulau Papua.

Berdasarkan data di atas, sebanyak 46,5 persen dari keseluruhan zona musim atau 325 zona musim mengalami musim kemarau yang datangnya lebih maju dari biasanya.

 

Puncak musim kemarau 2026 di Indonesia

Berdasarkan hasil analisis BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026, yakni mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia.

Sementara wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen).

Adapun wilayah yang memasuki puncak musim kemarau pada Juli, meliputi sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta merambah ke sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua.

Memasuki bulan Agustus, cakupan wilayah yang mengalami puncak kemarau semakin meluas secara signifikan.

Kondisi ini akan dialami oleh sebagian besar wilayah Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Pulau Papua.

Lalu pada bulan September 2026, puncak musim kemarau masih dialami di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, dan sebagian besar NTT.

Selain itu, puncaknya juga akan dirasakan di wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian kecil Pulau Papua.

Lebih lanjut, BMKG memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 secara umum akan bersifat Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM (64,5 persen( dan Normal di 245 ZOM (35,1 persen).

Sebaliknya, hanya terdapat 3 ZOM (0,4 persen) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah.

“Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,” tutur Faisal.

Tonton: Ribuan Warga AS Turun ke Jalan, Protes Kebijakan Trump dengan Tajuk No Kings

Imbauan BMKG

Menindaklanjuti potensi musim kemarau 2026 yang terjadi lebih panjang dari sebelumnya, Faisal mengimbau kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga seluruh lapisan masyarakat untuk mencegah risiko yang terjadi.

Di sektor pangan misalnya, para petani perlu segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat.

“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” kata Faisal.

Selain manajemen air, kewaspadaan terhadap dampak lingkungan juga menjadi prioritas utama.

Pemerintah daerah perlu menyiapkan mekanisme respons cepat untuk menghadapi penurunan kualitas udara dan meningkatkan kesiapsiagaan di sektor kehutanan guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

(Alinda Hardiantoro, Tri Indriawati)

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/29/120000265/musim-kemarau-2026-bakal-lebih-panjang-dimulai-april-?page=all#page1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 Tampilkan Semua

Terbaru