KONTAN.CO.ID. Nyeri sendi yang tak kunjung mereda kerap menjadi tanda osteoartritis. Berdasarkan data The Lancet Rheumatology, osteoartritis dialami hampir 600 juta orang di seluruh dunia.
Kondisi degeneratif ini membatasi pergerakan dan mendorong meningkatnya kebutuhan akan operasi penggantian sendi (arthroplasty), khususnya prosedur total knee replacement (TKR).
Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS), tingkat keberhasilan TKR konvensional mencapai 90–95 persen. Meski tergolong tinggi, sebagian pasien masih merasakan ketidaknyamanan pascaoperasi.
Baca Juga: Banjir Terjang jalan Tol Bandara Soetta, Ini Rute Alternatif untuk Pengendara
Seiring perkembangan teknologi, prosedur TKR kini memasuki era baru melalui pemanfaatan sistem robotik yang menawarkan tingkat presisi, keamanan, dan hasil klinis yang lebih optimal.
Siloam Hospitals Surabaya menghadirkan inovasi ini melalui penggunaan CUVIS Joint, teknologi robotik mutakhir untuk operasi penggantian sendi lutut. Dr. dr. Kukuh Dwiputra Hernugrahanto, Sp.OT, Subsp.P.L(K), dokter spesialis ortopedi dan traumatologi subspesialis panggul dan lutut di Siloam Hospitals Surabaya, menjelaskan bahwa teknologi robotik memberikan pendekatan yang lebih personal sesuai karakteristik anatomi setiap pasien.
Perbedaan Total Knee Replacement Konvensional dan Robotik
Selama ini, TKR konvensional menjadi standar penanganan osteoartritis lutut derajat 4, yakni kondisi paling berat ketika lapisan tulang rawan hampir sepenuhnya rusak.
Namun, sekitar 5–10 persen pasien masih melaporkan rasa tidak nyaman setelah operasi.
“Setiap lutut memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari bentuk maupun derajat kemiringannya. Pada TKR konvensional, implan dipasang dengan sudut yang relatif seragam sehingga tidak selalu sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien,” ujar dr. Kukuh dalam keterangan resminya Selasa (13/1/2026).
Baca Juga: Pemkot Solo Terapkan WFA ASN Januari, Pegawai Dilarang Keluar Kota
Dengan bantuan sistem robotik, perencanaan dan pemasangan implan dapat dilakukan secara individual dan presisi hingga 0,1 derajat atau 0,1 milimeter.
Selain itu, proses pemotongan tulang pada TKR konvensional umumnya memerlukan pemasangan cetakan yang difiksasi dengan paku.
“Pada TKR robotik, pemasangan paku pada tulang tidak diperlukan. Hal ini membantu mengurangi rasa nyeri, meminimalkan cedera jaringan, serta memperpendek durasi prosedur,” jelas dr. Kukuh. Dampaknya, proses pemulihan pasien pun menjadi lebih cepat.
Tata Laksana Prosedur Robotic Total Knee Replacement
Sebelum menjalani prosedur, pasien akan melalui rangkaian skrining komprehensif, meliputi pemeriksaan darah, jantung, serta CT scan 3D.
Data CT scan tersebut digunakan untuk merancang ukuran dan posisi implan yang akurat sesuai anatomi lutut pasien.
Edukasi mengenai proses operasi, pemulihan, dan pentingnya fisioterapi pascaoperasi juga menjadi bagian dari persiapan.
Baca Juga: Kenapa 13 Januari Penting? Ini Sejarah Hari Peringatan Penyiaran Radio Publik
Prosedur robotic total knee replacement diawali dengan sayatan untuk mengakses sendi lutut. Selanjutnya dilakukan proses registrasi, yakni pencocokan data CT scan dengan kondisi aktual di ruang operasi.
Seluruh data kemudian diolah menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence) guna membantu dokter menentukan penempatan implan yang paling optimal.
CUVIS Joint merupakan sistem robot full-active atau fully automated, di mana lengan robot melakukan pemotongan tulang sesuai perencanaan dengan supervisi dokter.
Sistem ini dilengkapi fitur pengamanan yang secara otomatis menghentikan gerakan lengan robot apabila terdeteksi pergerakan mendadak lebih dari 1 milimeter.
Dengan tingkat akurasi yang tinggi, keamanan dan kenyamanan pasien dapat lebih terjaga. Setelah tindakan, pasien umumnya hanya memerlukan perawatan inap selama 3–4 hari, sekitar 50 persen lebih singkat dibandingkan prosedur konvensional.
Selama masa pemulihan, pasien dianjurkan segera melakukan latihan gerak aktif dan fisioterapi untuk mengembalikan fungsi lutut secara optimal.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya dan Wilayah Jawa Timur Hari Ini Selasa (13/1/2026)
Robotic Total Knee Replacement di Siloam Hospitals Surabaya
Pemanfaatan sistem robotik dalam dunia medis terus berkembang di Indonesia. CUVIS Joint kini telah digunakan di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk Siloam Hospitals Surabaya.
“Dalam pendidikan dokter spesialis ortopedi subspesialis panggul dan lutut, memang terdapat pelatihan teknologi minimal invasif, termasuk robotik. Namun, untuk mengoperasikan CUVIS Joint diperlukan pelatihan lanjutan serta sertifikasi khusus,” kata dr. Kukuh.
Ia menambahkan, Siloam Hospitals Surabaya menjadi rumah sakit pertama di Jawa Timur yang memiliki sistem robotik full-active untuk operasi penggantian sendi lutut.
Dengan teknologi ini, rasa nyeri dan ketidaknyamanan pascaoperasi dapat diminimalkan, sehingga pasien berpeluang pulih lebih cepat dengan hasil yang lebih optimal.
Selanjutnya: Trump Ancam Tarif 25% untuk Negara yang Berbisnis dengan Iran
Menarik Dibaca: Promo Hypermart Beli Banyak Lebih Hemat 9-15 Januari 2026, Detergent Beli 1 Gratis 1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News