KONTAN.CO.ID - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung membuat masyarakat di sejumlah wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik, termasuk pada bayi. Sebaran abu vulkanik terdeteksi hingga Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat akibat terbawa angin.
Melalui laman Kemkes, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah selama tidak ada keperluan mendesak. Kelompok bayi dan anak-anak termasuk yang rentan terhadap dampak abu vulkanik karena sistem pernapasan mereka lebih sensitif dibandingkan orang dewasa.
Mengapa Bayi Lebih Rentan Terhadap Abu Vulkanik?
Abu vulkanik merupakan partikel sangat halus yang dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer dari sumber erupsi. Material tersebut dapat mengiritasi kulit, mata, dan saluran pernapasan.
Bayi memiliki risiko lebih tinggi karena bernapas lebih sering dan kerap bernapas melalui mulut. Kondisi tersebut membuat proses penyaringan partikel polutan di saluran pernapasan menjadi kurang optimal.
Paparan abu vulkanik pada bayi dapat menimbulkan beberapa gangguan kesehatan, seperti:
- Saluran pernapasan: bersin, pilek, batuk, sakit tenggorokan, mengi, sakit dada, hingga sesak napas.
- Mata: mata merah, gatal, berair, iritasi hingga gangguan pada kornea.
- Kulit: gatal, iritasi, hingga infeksi.
Risiko gangguan pernapasan juga dapat lebih berat pada bayi yang memiliki riwayat alergi saluran napas, bronkitis, asma, kelainan paru, atau penyakit jantung bawaan.
Baca Juga: Jangan Asal Pakai, Ini Masker yang Tepat untuk Cegah Paparan Abu Vulkanik
Cara Mencegah Bayi Terpapar Abu Vulkanik
Perlindungan bayi perlu dilakukan dengan mengurangi paparan abu sebanyak mungkin. Menyadur dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia, berikut beberapa cara mencegah bayi terpapar abu vulkanik yang dapat dilakukan orang tua:
- Jauhkan bayi dari wilayah yang terdampak abu vulkanik. Jika kondisi mengharuskan evakuasi, utamakan keselamatan bayi dan ikuti arahan pemerintah setempat.
- Tetap berada di dalam rumah dan pastikan pintu serta jendela tertutup rapat.
- Jauhkan bayi saat membersihkan abu vulkanik agar tidak menghirup partikel yang kembali beterbangan.
- Matikan alat yang memasukkan udara dari luar, seperti AC, atau gunakan mode sirkulasi udara dalam ruangan jika tersedia.
- Kenakan pakaian tertutup pada bayi untuk mengurangi paparan abu secara langsung pada kulit.
- Jauhkan bayi dari asap rokok dan sumber polusi udara lainnya di dalam rumah.
- Pastikan bayi mendapat cukup cairan untuk membantu mencegah dehidrasi.
- Jika bayi memiliki obat rutin untuk kondisi tertentu, pastikan obat tersebut tersedia sesuai anjuran tenaga kesehatan.
- Segera hubungi fasilitas kesehatan apabila bayi menunjukkan gejala gangguan kesehatan setelah terpapar abu vulkanik.
Menkes Budi juga mengingatkan masyarakat yang harus keluar rumah untuk menggunakan masker dan kacamata. Setelah kembali dari luar, masyarakat dianjurkan segera membersihkan tubuh dan pakaian karena partikel abu vulkanik dapat menempel dan bersifat tajam.
Kementerian Kesehatan telah menyiagakan puskesmas dan rumah sakit di wilayah terdampak serta menyediakan sejumlah logistik medis, termasuk masker medis dan N95, oksigen, nebulizer, obat untuk ISPA, serta obat tetes dan salep untuk mata dan kulit.
Dalam kondisi sebaran abu vulkanik, orang tua perlu lebih memperhatikan kondisi pernapasan bayi. Jika muncul batuk, pilek, mengi, sesak napas, atau keluhan lain setelah terpapar abu, segera bawa bayi ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Masyarakat juga diimbau tetap tenang dan hanya mengikuti informasi resmi dari pemerintah, termasuk BMKG, PVMBG, BNPB, BPBD, serta dinas kesehatan setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News