Peristiwa

Ketahanan Pangan Daerah Diperkuat, Polisi Dorong Warga Produksi Pangan Mandiri

Selasa, 03 November 2026 | 18:57 WIB
Ketahanan Pangan Daerah Diperkuat, Polisi Dorong Warga Produksi Pangan Mandiri

ILUSTRASI. Drone pertanian (KONTAN/Daniel Prabowo)


Sumber: TribunNews.com  | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepolisian daerah turut mengambil peran dalam menjaga ketahanan pangan dengan mendorong masyarakat memproduksi bahan pangan secara mandiri.

Salah satunya dilakukan Polres Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, melalui program Sawah Mini Mina Padi IP-500 Berbasis Biosaka.

Program ini menyasar setiap kepala keluarga agar mampu memanfaatkan lahan terbatas, termasuk pekarangan rumah, untuk membudidayakan padi dan ikan lele sekaligus.

Selain memenuhi kebutuhan pangan keluarga, budidaya tersebut diharapkan menjadi sumber pendapatan tambahan masyarakat.

Kapolres Tubaba AKBP Himmawan Setiawan mengatakan, program ini merupakan salah satu upaya kepolisian membantu masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, keterbatasan lapangan pekerjaan, hingga ancaman perubahan iklim yang dapat mengganggu produksi pangan.

Baca Juga: BI DKI Jakarta Waspadai Risiko Musim Kemarau Terhadap Tekanan Inflasi Pangan

"Ini sangat efektif dan efisien untuk mendukung kedaulatan pangan mandiri keluarga," kata Himmawan di Polres Tubaba, Selasa (3/11/2026).

Melalui program ini, Polres Tubaba mengembangkan sistem mina padi dalam kolam terpal berukuran minimal 5 x 7 meter. Dalam satu kolam, masyarakat dapat menanam sekitar 400–500 polibag padi sekaligus membudidayakan 3.000–4.000 ekor lele.

Padi dapat dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga, sedangkan lele memiliki nilai jual sebagai tambahan penghasilan.

Model budidaya ini juga dinilai lebih fleksibel karena tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan lahan persawahan maupun irigasi konvensional.

Himmawan memperkirakan, pembangunan satu unit sawah mini membutuhkan modal sekitar Rp 2 juta, termasuk terpal dan media tanam.

Dengan siklus pemeliharaan sekitar 60–65 hari, penjualan lele berpotensi menghasilkan omzet hingga Rp 8 juta per siklus panen. Jika target tersebut tercapai, pendapatan kotor setara sekitar Rp 4 juta per bulan.

Untuk memperluas penerapannya, Polres Tubaba akan mengintegrasikan program tersebut dengan Polisi Peduli Pengangguran (Poliran), salah satu program prioritas Kapolri.

Melalui pendekatan ini, kepolisian tidak hanya membantu masyarakat memperoleh akses pekerjaan, tetapi juga memberikan keterampilan produktif di bidang pertanian dan perikanan.

Baca Juga: Keuskupan Agung Merauke Angkat Bicara Soal Film Pesta Babi

Pelaksanaan program akan melibatkan pemerintah daerah, perusahaan, dan berbagai elemen masyarakat. Dukungan tanggung jawab sosial perusahaan  juga diharapkan membantu penyediaan sarana produksi, terutama terpal dan polibag bagi keluarga yang membutuhkan.

Polres Tubaba menyiapkan pelatihan secara berjenjang melalui jajaran Polsek dan Bhabinkamtibmas. Para Bhabinkamtibmas akan dibekali kemampuan teknis agar bisa mendampingi warga secara langsung di desa masing-masing.

Pelatihan selanjutnya diperluas dengan melibatkan kelompok tani, karang taruna, organisasi perempuan, komunitas keagamaan, organisasi adat, hingga perguruan silat. Himmawan menargetkan setiap kepala keluarga di Tubaba memiliki minimal satu kolam mina padi.

"Target kami setiap kepala keluarga minimal memiliki satu kolam. Ilmunya akan kami bagikan semua, tidak ada yang ditutup-tutupi," tegasnya.

Salah satu warga yang mulai menerapkan metode tersebut adalah Wayan Sudirne, relawan Poliran sekaligus petani singkong. Ia tertarik mengembangkan sawah mini setelah melihat praktik budidaya berbasis Biosaka melalui media sosial TikTok.

Wayan menilai budidaya padi dan lele dapat menjadi kegiatan produktif tambahan di sela masa tunggu panen singkong yang membutuhkan waktu sedikitnya tujuh bulan.

Setelah membangun kolam dan mulai menebarkan benih lele, ia berencana memperluas usaha tersebut secara bertahap menggunakan hasil panen singkong.

Sementara itu, pencetus Sawah Mini Mina Padi IP-500, Yayan Juherman, menjelaskan bahwa metode tersebut menggabungkan budidaya padi dan ikan dalam kolam terpal dengan dukungan teknologi Biosaka.

Media tanam menggunakan polibag yang berisi campuran tanah, kotoran hewan yang telah diproses menggunakan Biosaka Jilid 3, serta sekam bakar. Benih padi ditanam langsung di polibag dan dipelihara selama 20 hari sebelum dipindahkan ke kolam terpal.

Baca Juga: Pemprov Jabar Dorong Sektor Horeka Pangkas Sisa Pangan demi Efisiensi Bisnis

Di dalam kolam, tanaman padi dan lele dibudidayakan secara bersamaan. Ketinggian air dijaga sekitar 25–35 sentimeter agar ikan dapat bergerak di bawah rakitan polibag yang ditempatkan pada penyangga.

Yayan menyebut metode ini dirancang agar masyarakat dapat melakukan lima kali panen padi dan lima kali panen ikan dalam setahun. Karena itu, sistem tersebut dinamakan IP-500.

Budidaya ini juga mengandalkan lima komponen utama, yakni Biosaka Basic, rendaman rumput, parfum urin untuk mengusir hama, nutrisi fase generatif atau MKP ala Biosaka, serta Biosaka Jilid 3 untuk mengolah kotoran hewan menjadi pupuk organik.

Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, metode ini diharapkan dapat menekan biaya produksi dan mengurangi ketergantungan terhadap produk kimia.

Sumber: https://www.tribunnews.com/regional/7906073/bikin-sawah-mini-di-pekarangan-rumah-cara-polres-tulang-bawang-barat-perkuat-ketahanan-pangan?page=all&s=paging_new. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru