Nusantara

Pemulihan Pascabencana Sumut Tak Cukup Bangun Rumah, Ekonomi Warga Harus Hidup Lagi

Senin, 07 September 2026 | 17:18 WIB
Pemulihan Pascabencana Sumut Tak Cukup Bangun Rumah, Ekonomi Warga Harus Hidup Lagi

ILUSTRASI. Kondisi Desa Lubuk Ampolu, Badiri, Tapteng setelah diterjang banjir (Istimewa/Dok)


Sumber: Kompas.com  | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - MEDAN. Pemulihan pascabencana di Sumatera Utara dinilai tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan infrastruktur yang rusak.

Akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) Wahyu Ario Pratomo mengatakan, pemerintah juga perlu memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal setelah bencana.

Baca Juga: Usai Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ini Cara Mencegah Bayi Terpapar Abu Vulkanik

“Ukuran keberhasilan pemulihan tidak boleh berhenti pada berapa rumah yang selesai dibangun atau berapa kilometer jalan yang telah diperbaiki," ujar Wahyu dilansir dari Antara, Senin (7/9/2026).

Hal itu disampaikan Wahyu menyikapi kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke sejumlah titik pemulihan pascabencana di Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Dalam kunjungan tersebut, Gibran meninjau sejumlah hunian warga, sekolah, jembatan, hingga infrastruktur pengendalian bencana.

Wahyu menilai, perhatian pemerintah terhadap persoalan hunian dan layanan dasar penting untuk memastikan proses pemulihan berjalan menyeluruh.

Di Aek Parombunan, misalnya, sebagian hunian tetap telah diserahterimakan kepada warga, sementara pembangunan unit lainnya masih berlangsung.

Sementara di Tapanuli Selatan, pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan hunian permanen bagi masyarakat yang masih berada dalam masa transisi.

Baca Juga: Bandara Ditutup Usai 4 Gunung Erupsi, Ini Cara Abu Vulkanik Merusak Mesin Pesawat

Pemulihan Harus Pulihkan Kehidupan Warga

Menurut Wahyu, hunian baru harus dibarengi dengan tersedianya layanan dasar dan sumber penghidupan warga.

Layanan tersebut meliputi air bersih, sanitasi, listrik, sekolah, fasilitas kesehatan, transportasi, pekerjaan, hingga pusat kegiatan ekonomi.

“Kalau rumah selesai tetapi warga kehilangan sumber penghidupan, maka secara substantif proses pemulihan belum selesai,” ucap dia.

Karena itu, Wahyu menyebut kunjungan Gibran perlu menjadi momentum untuk memastikan rekonstruksi tidak hanya mengembalikan kondisi sebelum bencana, tetapi juga membuat masyarakat lebih aman dan tangguh menghadapi risiko berikutnya.

Baca Juga: Jangan Asal Pakai, Ini Masker yang Tepat untuk Cegah Paparan Abu Vulkanik

Gibran Minta Pemda Turun Langsung

Dalam kunjungan tersebut, Gibran juga mendorong penguatan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah untuk mempercepat pemulihan pascabencana banjir dan longsor di Sumatera Utara.

"Pejabat daerah adalah ujung tombak pelaksanaan di lapangan. Turun langsung ke lapangan, cek apa yang masih kurang, cek kondisi warga," kata Gibran.

Ia meminta jajaran forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) memastikan berbagai kebutuhan dan kendala masyarakat selama masa transisi ditangani langsung di lapangan.

Kebutuhan tersebut mencakup kebutuhan dasar dan hunian, akses serta layanan publik, hingga pemulihan aktivitas dan mata pencaharian masyarakat.

Gibran juga meminta pemerintah daerah tidak membiarkan masyarakat menunggu terlalu lama ketika menghadapi kendala selama proses pemulihan.

Menurut dia, setiap persoalan perlu segera diidentifikasi dan dikoordinasikan dengan pemerintah pusat untuk mendapatkan penyelesaian.

Sumber: https://medan.kompas.com/read/2026/09/07/150613978/akademisi-usu-pemulihan-pascabencana-tak-cukup-hanya-bangun-rumah-dan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru