KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kopi tanah air kembali mencatatkan inovasi gemilang yang mampu memikat pasar global. Di tengah tantangan pengolahan tradisional yang sangat bergantung pada cuaca, pemanfaatan energi terbarukan hadir sebagai solusi anyar yang mendongkrak produktivitas sekaligus kualitas biji kopi nasional.
Langkah progresif ini dimotori oleh Canaya Geothermal Coffee Process yang berpusat di Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Berada di area pengembangan panas bumi tertua milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE, perusahaan ini memanfaatkan uap panas bumi untuk mengeringkan biji kopi secara higienis, lebih cepat, dan konsisten.
Managing Director Canaya Geothermal Coffee Process, Moh Ramdan Reza menjelaskan, model pengolahan pascapanen berbasis energi panas bumi ini dikembangkan untuk memecahkan masalah klasik yang selama ini membelenggu para petani kopi lokal.
Selama ini, kata dia, proses pengeringan konvensional sangat rentan terhadap kendala cuaca seperti hujan dan kabut, bahkan bisa memakan waktu hingga 45 hari.
"Pendekatan ini ditujukan untuk menjawab tantangan yang selama ini dihadapi petani kopi, terutama ketergantungan terhadap cuaca dalam proses pengeringan biji kopi," ujarnya beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Jangan Sampai Salah Pilih! 8 Tempat Kopi Bandung Ini Wajib Dicoba
Melalui fasilitas geothermal dry house berkapasitas 500 kilogram (kg) yang dibangun di Area Kamojang, inovasi yang dirintis sejak 2018 hingga akhirnya diterapkan secara komersial pada 2023 ini terbukti membawa berkah.
Sistem tersebut dirancang mampu menjaga suhu ruang pengeringan maksimal 50 derajat Celsius, beroperasi hingga 24 jam secara berkelanjutan, serta menghasilkan profil pemanasan yang menyerupai proses pengeringan alami tanpa risiko kontaminasi aroma.
Perjalanan bisnis yang dirintis sejak produksi perdana pada 2023 tersebut kini berbuah manis. Dengan kapasitas produksi maksimal yang mencapai 20 ton per musim panen, produk kopi spesialti seperti varian Natural Quick Dry, Geo-Honey Skin Contact, hingga Washed Specialty Coffee sukses memikat pencinta kopi di dalam maupun luar negeri.
Baca Juga: Liburan Bandung Tiba! 8 Kedai Kopi Ini Dijamin Bikin Betah Nongkrong
Ekspansi bisnis Canaya Geothermal Coffee Process kini bahkan telah merambah kancah internasional dengan mencatatkan volume pengiriman yang signifikan ke sejumlah negara. Tercatat, Jepang telah menerima pasokan sekitar 5 ton, sementara Jerman mengekor dengan pencapaian volume ekspor mencapai 10 ton.
Tidak berhenti di Benua Asia dan Eropa, ekspansi bisnis kopi Kamojang ini semakin luas seiring datangnya peluang permintaan baru dari kawasan Timur Tengah.
Ke depan, peluang ekspor baru disebut datang dari Riyadh di Arab Saudi dengan potensi permintaan mencapai 20 ton, serta Korea Selatan sekitar 10 ton. Selain itu, perusahaan juga menjajaki pasar Jeddah, Dubai, dan Abu Dhabi.
Di pasar domestik, produk dengan legalitas lengkap mulai dari sertifikasi halal hingga PIRT ini juga telah diserap oleh berbagai pelaku industri di Bandung, Cirebon, hingga Lampung.
Konsistensi mutu dan ramahnya proses produksi terhadap lingkungan turut mengantar inovasi ini menyabet berbagai penghargaan bergengsi, seperti ASEAN Renewable Energy Awards serta Annual Pertamina Quality Award.
Integrasi antara energi bersih panas bumi dan sektor hulu pertanian kopi terbukti mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Baca Juga: 8 Tempat Kopi Bandung Wajib Dikunjungi, Liburan Sekolah & Lebaran Auto Betah!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News