Jabodetabek

Sempat Menumpuk, Rano Karno Sebut Pengelolaan Sampah di Jakarta Sudah Tuntas

Senin, 20 April 2026 | 13:36 WIB
Sempat Menumpuk, Rano Karno Sebut Pengelolaan Sampah di Jakarta Sudah Tuntas

ILUSTRASI. Rano Karno (TRIBUNNEWS/JEPRIMA)


Reporter: kompas.com  | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengeklaim pengelolaan sampah di Jakarta mencapai 100 persen. 

Hal ini disampaikan Rano Karno, dalam rapat paripurna penyampaian pidato gubernur terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun 2025 di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (20/4/2026). 

“Meningkatnya pengelolaan persampahan dengan 100 persen sampah terkelola,” ujar Rano, Senin. 

Rano menjelaskan, capaian tersebut terdiri dari 30 persen pengurangan sampah dan 70 persen penanganan sampah.

Baca Juga: Kehadiran Mobil Pintar Didorong Jadi Solusi Peningkatan Literasi di Daerah

Ia juga menyebut kapasitas sistem penanganan sampah di Jakarta saat ini mencapai 5.280 ton per hari.

“100 persen itu terdiri atas 30 persen pengurangan sampah dan 70 penanganan sampah dengan kapasitas sistem penanganan mencapai 5.280 ton per hari,” lanjut Rano. 

Namun di tengah klaim tersebut, pada awal 2026 Jakarta sempat mengalami permasalahan penumpukan sampah di sejumlah titik, terutama sejak Maret hingga awal April 2026. 

Penumpukan terjadi mulai dari tempat penampungan sementara (TPS) lingkungan, kawasan pasar, hingga permukiman warga. 

Di TPS Waduk Cincin, Papanggo, Jakarta Utara, sampah bahkan meluber hingga ke akses jalan masuk. 

Tumpukan sampah disebut mencapai sekitar dua meter dan menghambat pergerakan truk pengangkut. 

“lya ini truknya kalau mau ke sana ya lewat sini. Cuma karena menumpuk sampahnya ditaruh di sini,” kata Anto (30), warga setempat, Senin (6/4/2026). 

Kondisi serupa terjadi di Rusunawa Tambora, Jakarta Barat. 

Sampah menumpuk hingga lantai enam karena saluran pembuangan (trash chute) tersumbat. 

Di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, gunungan sampah juga kembali muncul dengan ketinggian mencapai enam meter.

Sementara di TPS Rawadas, Duren Sawit, sampah menumpuk hingga dua sampai empat meter karena tidak diangkut.

Petugas kebersihan pun terdampak. Mereka harus antre lama saat membuang sampah. 

“Kadang-kadang pukul 03.00 berangkat dan keluar siang, karena antre,” ujar Ali (40), petugas kebersihan. 

Permasalahan ini diketahui berakar dari gangguan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Longsor yang terjadi pada 8 Maret 2026 di zona 4A menyebabkan terganggunya sistem pembuangan akhir sampah Jakarta.

Akibat kejadian tersebut, kuota truk yang dapat membuang sampah ke Bantargebang mengalami penurunan signifikan, dari sekitar 308 truk per hari menjadi hanya 190 truk.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung sempat mengeklaim tumpukan sampah yang sempat menggunung kini mulai berangsur diangkut kembali. 

“Dari tiga sampai empat hari ini termasuk tadi malam sampai dengan tengah malam termasuk yang di Kramat Jati yang menumpuk cukup besar, sekarang ini sudah mulai diangkutin kembali ke Bantargebang,” ucap Pramono di Balai Kota Jakarta, Kamis (2/4/2026). 

Pramono menjelaskan, penumpukan sampah yang terjadi di berbagai titik merupakan dampak dari tidak beroperasinya zona 4A di TPST Bantargebang selama sekitar 10 hingga 12 hari. 

Menurut dia, kondisi tersebut dipicu oleh longsor yang terjadi di zona tersebut, sehingga aktivitas pengolahan sampah sempat terganggu. 

Di lain sisi, untuk mengurangi beban Bantargebang, Pemprov DKI juga menyiapkan fasilitas pengolahan sampah melalui RDF Plant Rorotan. 

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta memastikan kesiapan fasilitas tersebut terus ditingkatkan. 

“Kami fokus untuk double check terkait kesiapan RDF Plant Rorotan untuk mengolah sampah. Selain itu, kami juga memantau pengendalian dan penguatan sistem kontrol untuk memastikan kualitas output RDF tetap terjaga,” kata Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto dalam pernyataan tertulis yang diterima Kompas.com (9/4/2026). 

DLH Jakarta juga berkomitmen menjaga aspek lingkungan melalui penguatan sistem pengendalian bau. 

Upaya ini dilakukan melalui optimalisasi sistem deodorizer dan manajemen emisi pada flue gas treatment (FGT).

“Di luar itu, kami juga menjaga koordinasi dengan Tim Kerja Pemantau Kegiatan Pengelolaan RDF Plant Rorotan. Saya berharap tim tersebut terus memberikan masukan agar pengelolaan fasilitas ini semakin baik,” ujar Asep. 

Selain itu, DLH Jakarta akan memperkuat koordinasi lintas unit untuk memastikan integrasi pengelolaan di hulu (sumber sampah), tengah (RDF Plant Rorotan dan Bantargebang), serta hilir (TPST Bantargebang) berjalan lebih efektif.

Baca Juga: Pemprov DKI Siapkan Skema Pajak Kendaraan Listrik yang Lebih Berkeadilan

Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2026/04/20/13185751/sempat-menumpuk-rano-karno-klaim-pengelolaan-sampah-jakarta-sudah-tuntas?page=2.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru