KONTAN.CO.ID - Jakarta. Kasus dugaan perburuan liar dan konsumsi penyu oleh seorang warga negara asing (WNA) asal China di perairan Piaynemo, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, kembali menyoroti pentingnya perlindungan satwa laut di Indonesia.
WNA berinisial WS tersebut ditangkap pada Senin (14/9/2026) setelah diduga melakukan perburuan liar hingga mengonsumsi penyu.
Penyu merupakan salah satu satwa yang menghadapi berbagai ancaman, mulai dari perburuan, perdagangan ilegal, hingga kerusakan habitat. Selain berdampak terhadap kelestarian ekosistem, konsumsi daging penyu juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia.
Lantas, mengapa penyu dilarang diburu dan dikonsumsi?
Penyu merupakan satwa yang dilindungi
Raja Ampat dikenal sebagai salah satu kawasan wisata bahari unggulan di Indonesia. Wilayah ini juga menjadi habitat penting bagi berbagai spesies penyu laut.
Dalam keterangannya pada Selasa (15/9/2026), Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menegaskan bahwa setiap orang dilarang merusak ekosistem Raja Ampat.
Wisatawan tetap dapat menikmati keindahan alam Raja Ampat, tetapi tidak diperbolehkan melakukan aktivitas yang mengancam kelestarian lingkungan. Larangan tersebut mencakup perburuan satwa dilindungi, pengambilan, pelukaan, atau pembunuhan biota laut yang dilindungi.
“Raja Ampat adalah kekayaan alam Indonesia yang mendapat pengakuan dunia. Kawasan ini harus dilindungi, bukan dieksploitasi atau dirusak oleh siapa pun,” demikian keterangan Kemenpar.
Status penyu sebagai satwa yang dilindungi membuat perburuan dan pemanfaatannya harus mengikuti ketentuan hukum yang berlaku.
Tonton: Kejagung Sita 38 Aset Senilai Rp846 Miliar dalam Kasus Febrie Adriansyah
Mengapa makan penyu dilarang?
Selain alasan konservasi, konsumsi daging penyu juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan.
Dilansir dari Antara, Rabu (16/9/2026), pakar gizi Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Dr Masrul, mengatakan daging penyu berpotensi terkontaminasi sejumlah zat berbahaya, termasuk logam berat.
Kontaminasi tersebut dapat meningkatkan risiko keracunan bagi orang yang mengonsumsinya.
“Di laut, penyu hidup berpindah-pindah dan berumur panjang sampai ratusan tahun sehingga berpotensi kontak dengan perairan yang tercemar dalam jangka waktu yang lama sehingga makanan yang dikonsumsi penyu juga tercemar,” kata Masrul.
Menurut dia, penyu dapat terpapar pencemaran laut dalam jangka panjang. Kondisi tersebut berpotensi membuat zat pencemar terakumulasi dalam tubuh satwa.
Meski demikian, Masrul menjelaskan bahwa tidak semua penyu secara otomatis menimbulkan masalah kesehatan. Risiko bergantung pada kondisi satwa dan zat yang terkandung di dalamnya.
“Demi kesehatan, lebih baik masyarakat tidak mengonsumsi penyu,” sarannya.
Baca Juga: Membludak, Banyak RS Di Bogor Dipenuhi Pasien Rawat Jalan, Ini Penjelasan Dinkes
Risiko kesehatan dari konsumsi daging penyu
Pakar gizi tersebut mengingatkan bahwa sejumlah penyu berpotensi mengandung zat yang dapat membahayakan manusia.
Salah satu perhatian utama adalah logam berat yang dapat masuk ke ekosistem laut melalui pencemaran. Penyu yang hidup dan mencari makanan di lingkungan laut berpotensi terpapar zat pencemar tersebut.
Apabila daging penyu yang terkontaminasi dikonsumsi, terdapat risiko gangguan kesehatan, termasuk keracunan.
Namun, risiko kesehatan tidak dapat disamaratakan untuk seluruh penyu. Kandungan zat pencemar perlu diketahui melalui pemeriksaan yang sesuai.
Karena itu, masyarakat disarankan tidak menjadikan penyu sebagai sumber pangan, terlebih ketika asal-usul dan kondisi satwa tidak diketahui.
Baca Juga: Selamat HUT Ke-81 Tahun PMI, Ini 30 Ucapan Penuh Semangat Ajak Peduli Sesama
Perburuan penyu mengancam kelestarian laut
Penyu memiliki peran penting dalam ekosistem laut. Keberadaannya berkaitan dengan keseimbangan lingkungan dan rantai makanan di laut.
Perburuan dan perdagangan penyu dapat mengurangi populasi satwa tersebut. Ancaman ini semakin besar ketika habitat penyu juga mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia.
Kasus dugaan perburuan penyu di Raja Ampat menjadi pengingat bahwa aktivitas wisata harus tetap memperhatikan perlindungan satwa dan lingkungan.
Wisatawan yang berkunjung ke kawasan konservasi perlu menghindari tindakan menangkap, melukai, membunuh, atau mengonsumsi satwa dilindungi.
Dengan menjaga penyu dan habitatnya, kelestarian ekosistem laut dapat terus dipertahankan untuk generasi mendatang.
Sumber: https://travel.kompas.com/read/2026/09/17/090800027/wna-diduga-makan-penyu-di-raja-ampat-kenapa-dilarang-konsumsi-penyu-?source=nowtrending_artikel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News