KONTAN.CO.ID - Mayoritas wilayah di bagian selatan Indonesia diprediksi akan terus mengalami cuaca kering ekstrem tanpa potensi hujan pada Rabu (16/9).
Data terbaru dari pemantauan satelit menunjukkan bahwa rekor hari tanpa hujan di wilayah padat penduduk masih terus bertambah.
Berdasarkan analisis mandiri terhadap data indikator fisik sumber citra satelit dari BMKG (GK2A dan JMA) terupdate pukul 20.20 UTC (03.20 WIB dini hari tadi), terdapat kontras cuaca yang sangat tajam antara wilayah Indonesia bagian utara yang basah dan bagian selatan yang gersang.
Baca Juga: Data Satelit Cuaca Terbaru: Sejumlah Wilayah Ini Masih Berpotensi Hujan Lebat
Jawa-Nusa Tenggara Cetak Rekor Hari Kering
Berdasarkan data visual Consecutive Dry Days (CDD) atau jumlah hari kering berurutan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Sulawesi Selatan kini didominasi oleh warna cokelat tua hingga marun pekat. Warna ini secara ilmiah menunjukkan wilayah tersebut telah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut dalam rentang 30 hingga lebih dari 60 hari.
Hal ini diperkuat oleh citra Cloud Type dan GK2A EH yang memperlihatkan langit di atas Pulau Jawa berada dalam kondisi "Clear" atau hitam pekat bebas awan konvektif. Kondisi atmosfer bawah yang sangat kering ini membuat potensi hujan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bogor mendekati angka 0%.
Baca Juga: Analisis Data Satelit Cuaca: Jakarta dan Bogor Diprediksi Kering, Udara Pengap
Sapuan Muson Australia Masih Dominan
Melalui citra satelit uap air GK2A Water Vapor Enhanced (WE), penyebab utama kekeringan panjang ini terlihat jelas dari hamparan warna cokelat tua hingga jingga menyala (Dry) yang menutupi separuh wilayah Indonesia. Zona kering ini merupakan penanda kuat masih aktifnya aliran angin Monsun kering dari Benua Australia yang menyapu habis kelembapan udara.
Tekanan udara kering dari lapisan atas atmosfer ini juga bertindak bagaikan katup penutup yang menjebak suhu panas di permukaan bumi, memicu fenomena udara gerah (sumuk) berkepanjangan yang dikeluhkan masyarakat urban belakangan ini.
Baca Juga: Dikepung Angin Monsun Australia, Jakarta-Bogor Berpotensi Gerah Tanpa Hujan Malam Ini
Anomali Hujan Masih Terjadi di Kalimantan Utara dan Sumatra
Berbanding terbalik dengan wilayah Jawa, potensi hujan hari ini justru terkonsentrasi di belahan bumi utara. Peta curah hujan per jam (GSMaP Now - Hourly Precipitation) mendeteksi adanya intensitas curah hujan tinggi yang ditandai dengan titik merah dan kuning di wilayah Kalimantan Utara dan perbatasan Malaysia.
Selain itu, wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan bagian tengah Papua juga terpantau memiliki indikasi hujan lokal. Citra GK2A EH menunjukkan adanya pertumbuhan awan tebal dengan suhu puncak awan yang dingin di wilayah tersebut, menandakan pasokan uap air masih melimpah.
Bagi pelaku usaha sektor perkebunan dan logistik, peta kering CDD ini menjadi sinyal kuat untuk terus mewaspadai potensi krisis air bersih serta risiko kebakaran lahan di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Sebaliknya, wilayah Kalimantan Utara perlu mengantisipasi potensi hambatan operasional luar ruangan akibat guyuran hujan lebat.
Baca Juga: Kalender Lunar China 14-20 September 2026: Catat Aktivitas Baik Anda Pekan Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News