KONTAN.CO.ID - Bogor. Kunjungan pasien rawat jalan di sejumlah rumah sakit Kota Bogor, Jawa Barat, meningkat pada September 2026. Kenaikan tersebut terjadi di tengah peningkatan sejumlah penyakit yang dipantau Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor.
Kepala Dinkes Kota Bogor Erna Nuraena mengatakan, rata-rata kunjungan rawat jalan meningkat sekitar 7% dibandingkan Agustus 2026.
Pihaknya masih memantau pelayanan kesehatan di 22 rumah sakit untuk mengantisipasi dampak peningkatan kunjungan pasien.
" Dengan demikian, rata-rata kunjungan harian meningkat sebanyak 309 pasien atau sekitar 7 persen," kata Erna saat dihubungi Kompas.com, Rabu (16/9/2026).
Kunjungan rawat jalan rumah sakit di Bogor
Berdasarkan data Dinkes Kota Bogor, jumlah kunjungan rawat jalan pada Agustus 2026 mencapai sekitar 131.100 kunjungan. Angka tersebut setara dengan rata-rata 4.370 pasien per hari.
Sementara itu, selama periode 1-10 September 2026, tercatat 46.790 kunjungan rawat jalan. Dengan demikian, rata-rata kunjungan harian mencapai 4.679 pasien.
Berikut perbandingan kunjungan rawat jalan:
| Periode | Total kunjungan | Rata-rata per hari |
|---|---|---|
| Agustus 2026 | 131.100 | 4.370 |
| 1-10 September 2026 | 46.790 | 4.679 |
Rata-rata kunjungan harian tersebut meningkat 309 pasien atau sekitar 7,1%.
Baca Juga: Awas! Jembatan Boulevard Gading Raya Jakarta Utara Hampir Ambruk, Sudah Tahunan Rusak
Lima rumah sakit dengan kunjungan terbanyak
Pada Agustus 2026, RS Hermina menjadi rumah sakit dengan jumlah kunjungan rawat jalan terbanyak di Kota Bogor.
Berikut lima rumah sakit dengan kunjungan rawat jalan tertinggi pada Agustus 2026:
1. RS Hermina: 25.227 pasien.
2. RSUD Kota Bogor: 21.055 pasien.
3. RS Melania: 18.314 pasien.
4. RS Marzoeki Mahdi: 9.805 pasien.
5. RS UMMI: 9.246 pasien.
Sementara itu, selama periode 1-10 September 2026, kunjungan rawat jalan tertinggi tercatat di:
1. RS Hermina: 8.852 pasien.
2. RS Melania: 6.947 pasien.
3. RSUD Kota Bogor: 6.728 pasien.
4. RS Marzoeki Mahdi: 4.391 pasien.
5. RS PMI: 3.223 pasien.
Tonton: Greenpeace Desak Pemerintah Buka SK Pencabutan Tambang Raja Ampat
Kunjungan rawat jalan RS Salak melonjak 246%
Selain kenaikan jumlah pasien, sejumlah rumah sakit juga mencatat peningkatan persentase kunjungan rawat jalan pada periode Agustus-September 2026.
RS Salak mencatat kenaikan tertinggi sebesar 246%. Berikut rumah sakit dengan peningkatan kunjungan rawat jalan terbesar:
| Rumah sakit | Kenaikan |
|---|---|
| RS Salak | 246% |
| RS Juliana | 43% |
| RS Marzoeki Mahdi | 39% |
| RS Melania | 18% |
| RS Hermina | 9% |
Baca Juga: Analisis Data Satelit Cuaca: Jakarta dan Bogor Diprediksi Kering, Udara Pengap
Kunjungan IGD rumah sakit di Bogor juga meningkat
Peningkatan kunjungan pasien juga terjadi pada layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di sejumlah rumah sakit Kota Bogor.
Pada Agustus 2026, lima rumah sakit dengan jumlah kunjungan IGD terbanyak yakni:
* RSUD Kota Bogor: 6.376 pasien.
* RS Hermina: 3.760 pasien.
* RS UMMI: 2.861 pasien.
* RS PMI: 2.772 pasien.
* RS Islam: 2.030 pasien.
Sementara itu, pada periode 1-10 September 2026, jumlah kunjungan IGD tercatat sebagai berikut:
* RSUD Kota Bogor: 2.646 pasien.
* RS Hermina: 1.375 pasien.
* RS UMMI: 990 pasien.
* RS PMI: 963 pasien.
* RS Islam: 863 pasien.
Erna mengatakan, sejumlah rumah sakit juga mengalami peningkatan persentase kunjungan IGD pada periode Agustus-September 2026.
"Pada periode Agustus–September 2026, sejumlah rumah sakit juga mengalami peningkatan kunjungan IGD, antara lain RS Bhayangkara sebesar 73 persen, RS UMMI 65 persen, RS PMI 65 persen, RS Hermina 63 persen, dan RS Mayapada 63 persen," ujarnya.
Tonton: Prabowo Resmikan LRT Kelapa Gading–Manggarai: 12,2 Km, 11 Stasiun, Rp 12,1 Triliun
Tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit meningkat
Selain kunjungan pasien, peningkatan juga terlihat pada tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR).
Dinkes Kota Bogor mencatat kenaikan BOR pada periode Juli-Agustus 2026 di sejumlah rumah sakit.
Berikut rumah sakit dengan peningkatan BOR tertinggi:
| Rumah sakit | Kenaikan BOR |
|---|---|
| RS Salak | 21% |
| RS Hermina | 11% |
| RS Pasutri | 10% |
| RS Nuraida | 8% |
| RS Melania | 5% |
Baca Juga: Penumpang KRL Jabodetabek Naik 3x Lipat, Botol Plastik Bisa untuk Bayar Tiket KMT
Pasien didominasi warga ber-KTP Kota Bogor
Erna mengatakan, pasien yang berkunjung ke rumah sakit di Kota Bogor didominasi oleh warga yang memiliki KTP Kota Bogor.
Berdasarkan data kunjungan IGD pada Agustus dan September 2026, proporsi pasien asal Kota Bogor masih lebih besar dibandingkan pasien dari luar wilayah tersebut.
Pada Agustus 2026, sekitar 57% pasien memiliki KTP Kota Bogor. Sementara itu, 43% lainnya berasal dari luar Kota Bogor.
Adapun pada September 2026, sekitar 54% pasien memiliki KTP Kota Bogor dan 45% berasal dari luar Kota Bogor.
"Kota Bogor kan memang selama ini mengampu pasien dari luar kota Bogor. Dan untuk layanan kesehatan tidak bisa membatasi wilayah administratif," ungkap Erna.
Kasus ISPA di Bogor capai 1.181
Peningkatan kunjungan rumah sakit terjadi bersamaan dengan meningkatnya sejumlah penyakit yang dipantau melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) se-Kota Bogor.
Pada periode 6-12 September 2026 atau Minggu Epidemiologi ke-36, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak dilaporkan.
Jumlah kasus ISPA mencapai 1.181 kasus, meningkat dari 1.019 kasus pada Minggu Epidemiologi ke-35. Kenaikan tersebut setara dengan 15,9%.
"Kasus yang paling banyak dilaporkan adalah ISPA sebanyak 1.181 kasus, meningkat dari 1.019 kasus pada Minggu Epidemiologi ke-35 atau sebesar 15,9 persen," kata Erna.
Selain ISPA, sejumlah penyakit lainnya juga mengalami peningkatan. Berikut rincian kasus pada Minggu Epidemiologi ke-36:
| Penyakit | Minggu ke-35 | Minggu ke-36 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| ISPA | 1.019 | 1.181 | +15,9% |
| Pneumonia | 204 | 251 | +23% |
| Suspek dengue | 141 | 144 | +2,1% |
| Suspek demam tifoid | 101 | 112 | +10,9% |
| Suspek campak | 28 | 39 | +39,3% |
| Sindrom jaundice akut | 7 | 15 | +114,3% |
Erna menjelaskan, peningkatan sejumlah penyakit tersebut umumnya dipengaruhi faktor musiman dan lingkungan.
Menurut dia, kenaikan kasus ISPA dan pneumonia sejalan dengan pola nasional yang memasuki musim kemarau. Kondisi udara yang lebih kering membuat partikel debu lebih mudah terbawa masuk ke saluran pernapasan.
"Terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Cakupan vaksinasi influenza yang belum merata turut menjadi faktor risiko tambahan," ucapnya.
Baca Juga: Kasus Keracunan MBG di Karo, Akademisi USU Soroti Tata Kelola Program
Faktor lingkungan turut memengaruhi peningkatan penyakit
Erna mengatakan, peningkatan kasus dengue, demam tifoid, dan campak juga dipengaruhi faktor lingkungan serta kondisi kesehatan masyarakat.
Suspek dengue, misalnya, dipengaruhi oleh kepadatan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh genangan air di lingkungan permukiman, kepadatan penduduk, dan mobilitas masyarakat.
Sementara itu, suspek demam tifoid berkaitan dengan kualitas sanitasi lingkungan serta akses terhadap air bersih dan pangan yang higienis.
"Peningkatan kasus campak umumnya berkaitan dengan tingkat cakupan imunisasi di suatu wilayah dengan cakupan imunisasi campak yang belum optimal berisiko lebih tinggi mengalami peningkatan kasus," kata Erna.
Kendati demikian, Erna menegaskan bahwa diperlukan verifikasi dan penelusuran epidemiologis lebih lanjut untuk memastikan faktor penyebab spesifik peningkatan kasus di Kota Bogor.
Dinkes pantau pelayanan kesehatan dan sistem rujukan
Dinkes Kota Bogor bersama seluruh rumah sakit terus melakukan pemantauan terhadap kunjungan pasien, keterisian layanan, dan perkembangan penyakit.
Koordinasi juga dilakukan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan sistem rujukan.
"Dinas Kesehatan Kota Bogor bersama seluruh rumah sakit terus melakukan pemantauan terhadap kunjungan pasien, keterisian layanan, dan perkembangan penyakit, serta melakukan koordinasi dalam penyelenggaraan pelayanan dan sistem rujukan untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kondisi medis dan kapasitas pelayanan yang tersedia," tandasnya.
Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2026/09/16/17592481/pasien-di-sejumlah-rumah-sakit-di-bogor-melonjak-ini-penyebabnya?page=all#page2.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News