KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Wilayah Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, menjadi salah satu lokasi yang cukup parah terdampak banjir bandang yang melanda kawasan Sibolga–Tapteng pada 25–27 November 2025.
Hingga Minggu (30/11), banjir memang mulai surut, namun warga Barus masih menghadapi situasi krisis, dimana rumah warga rusak parah dan penuh lumpur, akses jalan terputus, listrik padam total, dan persediaan makanan mulai menipis.
Ratusan rumah warga di Barus dilaporkan rusak parah, bahkan sebagian hanyut terseret arus banjir terutama yang dekat dengan bantaran sungai dan bendungan. Material lumpur tebal dan gelondongan kayu masih menumpuk di jalan utama maupun halaman rumah warga. Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat lumpuh selama empat hari terakhir.
Baca Juga: 30 November Memperingati Hari Ruang Pribadi Nasional, ini Penjelasan dan Sejarahnya
Sebagai informasi, Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki tujuh kecamatan terdampak banjir bandang, yakni Pandan, Sarudik, Badiri, Barus, Kolang, Tukka, dan Lumut. Banjir dipicu hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah sejak 17-22 November lalu.
Barus sendiri memiliki 11 desa dan dua kelurahan yang seluruhnya terdampak banjir bandang. Namun diperkirakan tidak ada korban jiwa dalam banjir bandang ini.
Bantuan Belum Masuk, Warga Mulai Kehabisan Bahan Pangan
Dedi Rizki Simanullang, warga Barus yang terdampak banjir, mengaku belum ada bantuan yang masuk ke wilayahnya, baik dari pemerintah daerah maupun pusat. Kondisi ini diperparah oleh akses jalan yang rusak parah akibat longsor dan terjangan arus banjir.
“Banyak rumah rusak parah, bahkan ada yang hanyut. Bahan bakar dan pangan sudah mulai langka, tapi belum ada bantuan yang sampai ke Barus,” ujar Dedi kepada Kontan, Minggu (30/11).
Dedi mengatakan warga mulai mengandalkan jaringan darurat berbasis Wifi Starlink dengan sumber listrik dari aki mobil untuk bisa berkomunikasi keluar daerah.
Ia memperkirakan pemulihan aliran listrik PLN akan memakan waktu cukup lama.
“Kemungkinan kami selama dua minggu ini akan tetap tanpa arus listrik PLN. Makanan makin menipis, air bersih dan minyak juga langka,” ungkapnya.
Listrik Padam Total, Sinyal Terputus
Krisis juga dirasakan warga lain, Novi Fazria Simamora. Ia menyebut aliran listrik PLN padam total, sementara sinyal komunikasi terputus sejak banjir terjadi.
“Aliran listrik PLN mati dan sinyal internet terputus total,” kata Novi kepada Kontan.
Ketiadaan listrik membuat warga kesulitan menyimpan bahan makanan, mengakses informasi, atau menghubungi keluarga di luar daerah lainnya.
"Barus juga bagian dari Tapteng yang terdampak, tapi belum ada bantuan apapun yang datang," ungkap Novi,
Hingga saat ini, bantuan pangan dari Pemerintah Provinsi Sumatra Utara yang didistribusikan melalui helikopter baru mendarat dan menyentuh di wilayah Kecamatan Tukka, Tapteng. Wilayah Kecamatan Barus belum tersentuh bantuan.
Kondisi ini membuat situasi logistik di Barus makin kritis, dengan warga mulai mengandalkan stok makanan darurat dan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.
melansir dari akun Facebook, Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, menyampaikan bahwa akses utama ke Barus dari Medan saat ini hanya dapat ditempuh melalui jalur alternatif. Rute yang disarankan adalah:
Sidikalang – Pinggir Kota Sibulussalam – Lipatkajang – Saraguh – Manduamas – Barus – Sorkam – Kolang – Sibolga – Pandan.
Dalam keterangannya yang disampaikan melalui akun Facebook, Masinton juga membagikan nomor Posko Bencana Tapanuli Tengah untuk warga yang membutuhkan informasi lebih lanjut: 0812-9090-2222.
Dengan minimnya bantuan, akses terhambat, serta stok pangan yang kian menipis, warga Barus berharap pemerintah segera mempercepat distribusi logistik dan pemulihan infrastruktur dasar.
Baca Juga: Update Dampak Banjir dan Longsor Sumut, 176 Orang Meninggal Dunia
Selanjutnya: Jurus LEPAS Indonesia Hindari Perang Harga di Pasar Otomotif
Menarik Dibaca: Hasil Syed Modi India International 2025, Indonesia Bawa Pulang Juara Ganda Campuran
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News