Umum

Tanggul Krueng Aceh Dinilai Bisa Jadi Model Mitigasi Banjir

Minggu, 08 November 2026 | 17:37 WIB
Tanggul Krueng Aceh Dinilai Bisa Jadi Model Mitigasi Banjir

ILUSTRASI. Pembangunan infrastruktur pascabencana di Nagan Raya (ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk  | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tanggul dan kanal pengalih banjir (floodway) di sepanjang Sungai Krueng Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dinilai dapat menjadi percontohan mitigasi banjir bagi daerah lain. Infrastruktur ini berfungsi mengurangi risiko luapan sungai ke kawasan permukiman.

Hal tersebut menjadi perhatian Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Wilayah Aceh saat meninjau sistem pengendali banjir di Aceh Besar.

Eko Subekti, Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengatakan, sistem tersebut dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam memperkuat mitigasi bencana.

"Pengerjaan tanggul yang sudah dilakukan di Kabupaten Aceh Besar ini nantinya merupakan bahan percontohan untuk kabupaten lain dalam rangka mitigasi bencana banjir," ujar Eko dalam keterangannya, Minggu (8/11/2026).

Baca Juga: BI Uji Tanam Bawang Merah di Lahan Bekas Banjir Aceh, Hasilnya 10,3 Ton per Ha

Kepala Bidang Irigasi, Sungai, Rawa, dan Pantai Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Aceh Besar, Mukhtaruddin, menjelaskan, kawasan sekitar Krueng Aceh sebelumnya kerap dilanda banjir hingga tiga kali dalam setahun. Pemerintah kemudian membangun kanal pengalih banjir yang mulai dirancang pada 1986 dan rampung pada 1993.

Sistem tersebut memiliki kapasitas pengendalian sekitar 1.300 meter kubik per detik. Sebanyak 400 meter kubik per detik dialirkan melalui sungai utama, sedangkan 900 meter kubik per detik dialihkan melalui kanal floodway. Mukhtaruddin menyebut infrastruktur tersebut telah beberapa kali menghadapi banjir dan membantu melindungi permukiman dari genangan.

Selain kanal pengalih, tanggul setinggi 2–3 meter berfungsi menahan luapan air agar tidak menggenangi permukiman. Namun, sedimentasi yang terbawa saat banjir dapat membentuk delta dan mengurangi kapasitas aliran sungai. 

Baca Juga: Infrastruktur Jalan Nagan Raya Aceh Ditargetkan Rampung November

Oleh karena itu, pemeliharaan berkala dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I. "Kalau sudah beberapa kali banjir, dia tetap bawa sedimen sehingga menimbulkan delta, dan ada pemeliharaan dari pihak BWS," kata Mukhtaruddin.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus mengantisipasi cuaca ekstrem, termasuk menangani saluran irigasi dan akses jalan yang terdampak longsor maupun hujan lebat.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Besar, Ridwan Jamil, mengatakan dukungan peralatan dari Kementerian Dalam Negeri membantu penanganan infrastruktur pascabencana. Pemkab juga memperkuat antisipasi menjelang musim hujan agar dampak hujan deras dapat diminimalkan.

Peninjauan Satgas PRR Wilayah Aceh ini diharapkan menjadi momentum penguatan mitigasi banjir melalui pembangunan infrastruktur, pemeliharaan berkala, dan koordinasi antarlembaga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Video Terkait


Terbaru