KONTAN.CO.ID - Belakangan ini, sejumlah warga di berbagai daerah mengeluhkan suhu udara yang terasa lebih dingin dari biasanya.
Kondisi ini bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan tercermin dalam data pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terutama terkait dengan musim hujan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan, secara statistik memang terjadi penurunan suhu rata-rata udara jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya.
“Jika dibandingkan dengan minggu lalu, rata-rata suhu udara pada minggu ini memang terlihat lebih rendah,” ujar Ardhasena saat dikonfirmasi Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).
Sebagai gambaran, data pengamatan di Kantor BMKG Pusat menunjukkan rata-rata suhu udara pada minggu sebelumnya berada di angka 28,1 derajat Celsius.
Namun, pada minggu ini, angka tersebut turun menjadi 25,8 derajat Celsius.
Penurunan serupa juga tercatat di sejumlah wilayah lain. Di Tangerang, misalnya, hasil pengukuran Stasiun Klimatologi Banten mencatat suhu rata-rata mingguan yang semula 28,0 derajat Celsius kini turun menjadi 25,1 derajat Celsius.
“Kondisi serupa juga tercatat di Kantor BMKG Bogor, serta hampir seluruh stasiun BMKG di Pulau Jawa dan sebagian besar wilayah Bali hingga Nusa Tenggara,” kata Ardhasena.
Baca Juga: Erupsi Ribuan Kali, Status Gunung Ile Lewotolok Naik Menjadi Siaga pada Minggu (18/1)
Temuan ini memperkuat bahwa penurunan suhu terjadi secara luas dan konsisten, bukan hanya bersifat lokal atau insidental.
ITCZ dan hujan intens jadi pemicu utama penurunan suhu
BMKG menjelaskan, faktor utama yang berperan dalam kondisi suhu dingin belakangan ini adalah adanya gangguan atmosfer berupa pertemuan massa udara di wilayah Indonesia bagian selatan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai Intertropical Convergence Zone (ITCZ).
“Pada minggu ini, terjadi gangguan cuaca berupa pertemuan massa udara di atas Pulau Jawa yang dikenal sebagai ITCZ,” ujar Ardhasena.
Fenomena ini merupakan pola iklim yang lazim muncul pada periode Desember hingga Februari.
Menurutnya, ITCZ berperan penting dalam meningkatkan curah hujan, khususnya di wilayah selatan Indonesia.
“Fenomena ini memang umum terjadi pada Desember–Januari–Februari dan menjadi penanda meningkatnya intensitas hujan, sekaligus menandai puncak musim hujan,” jelasnya.
Akibat keberadaan ITCZ, hujan dengan durasi panjang terjadi hampir setiap hari di sejumlah daerah.
Baca Juga: Korban Penumpang Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Jurang Gunung Bulusaraung