Risiko Suhu Dingin Ekstrem: BMKG Ingatkan Dampak Buruk Hujan Tanpa Henti

Senin, 19 Januari 2026 | 03:27 WIB
Risiko Suhu Dingin Ekstrem: BMKG Ingatkan Dampak Buruk Hujan Tanpa Henti

ILUSTRASI. Merasa udara belakangan ini menusuk tulang? BMKG mengungkap ada mekanisme downdraft yang membawa udara dingin langsung ke permukaan. (Dok/BMKG.go.id)


Sumber: Kompas.com  | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Kondisi ini berdampak langsung pada suhu udara, karena hujan yang berlangsung terus-menerus menghambat proses pemanasan permukaan oleh sinar matahari.

Hujan berhari-hari, wilayah terdampak, dan perkiraan puncak musim hujan

Lebih lanjut, Ardhasena menjelaskan, curah hujan harian yang terjadi secara terus menerus turut berkontribusi terhadap turunnya suhu rata-rata suatu wilayah.

BMKG menjelaskan setidaknya ada dua mekanisme utama yang memengaruhi hal tersebut.

Pertama, berkurangnya radiasi matahari. Ketika hujan turun pada siang hari, awan tebal menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi secara optimal.

Akibatnya, pemanasan permukaan menjadi minim dan suhu udara siang hari cenderung lebih rendah.

Dalam jangka beberapa hari, kondisi ini membuat suhu rata-rata harian ikut menurun.

Kedua, masuknya udara dingin dari proses hujan atau downdraft. Air hujan terbentuk di lapisan atmosfer yang bersuhu lebih dingin.

Saat hujan turun, massa udara dingin tersebut ikut terbawa ke permukaan.

“Udara dingin dari awan hujan dapat menurunkan suhu udara di sekitarnya,” jelas Ardhasena.

Terkait wilayah terdampak, BMKG menegaskan bahwa tidak semua daerah Indonesia mengalami penurunan suhu yang sama.

Pada periode ini, wilayah yang paling merasakan hujan berhari-hari disertai suhu lebih dingin adalah kawasan selatan Indonesia.

“Wilayah selatan Indonesia meliputi Jawa, Bali, NTB, hingga NTT mengalami hujan berhari-hari yang berdampak pada penurunan suhu,” ungkapnya.

Tonton: Butuh Rp 74 Triliun Pulihkan Infrastruktur Sumatra, Menteri PU Siapkan Rencana Induk

Sementara itu, mengenai puncak musim hujan, BMKG mencatat Januari sebagai periode puncak hujan di sebagian besar wilayah Pulau Jawa.

Setelah itu, wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur diperkirakan akan mengalami puncak musim hujan pada Februari 2026.

Dengan demikian, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap dampak cuaca ekstrem, sekaligus memahami bahwa suhu dingin yang dirasakan saat ini merupakan bagian dari dinamika iklim musiman yang masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul"Benarkah Suhu Udara Belakangan Ini Terasa Lebih Dingin? Ini Penjelasan BMKG"

Selanjutnya: Jadwal Bulan Syaban 1447 H: Kapan Awal dan Malam Nisfu Syaban 2026?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru