KONTAN.CO.ID - Fenomena ikan nila yang mati mendadak jelas akan membuat pembudidaya khawatir, apalagi jika pembudidaya masih pemula.
Matinya ikan nila tidak selalu disebabkan oleh penyakit. Ada faktor lain seperti kualitas air, kekurangan oksigen, perubahan kondisi kolam, pakan, hingga kepadatan ikan.
Karena itu, Anda sebagai pembudidaya sebaiknya tidak langsung memberikan obat ketika ikan mulai mati.
Berikut beberapa penyebab ikan nila sering mati mendadak yang perlu diperhatikan.
Baca Juga: Tips Menjaga Kualitas Air Kolam Ikan Nila agar Tidak Mudah Mati
1. Kekurangan Oksigen
Salah satu penyebab yang perlu segera diperiksa ketika ikan nila mati mendadak adalah rendahnya kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO).
Ikan membutuhkan oksigen terlarut untuk bernapas. Jika jumlahnya terlalu rendah, ikan dapat mengalami stres, muncul ke permukaan untuk mencari oksigen, hingga mati.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjelaskan bahwa matinya aerasi dapat menyebabkan ikan nila kekurangan oksigen dan bahkan mengalami kematian massal dalam waktu singkat.
Pemeriksaan menunjukkan kadar DO sekitar 2,53-4,71 mg/L dan dinilai masih rendah untuk pertumbuhan optimal ikan nila.
Karena itu, periksa aerator atau sistem sirkulasi air jika ikan tiba-tiba banyak muncul di permukaan atau mati dalam waktu bersamaan.
Baca Juga: Cara Menyiapkan Kolam Ikan Nila Sebelum Benih Ditebar, Catat Tahapannya
2. Kualitas Air Buruk
Perubahan pH, suhu, kadar oksigen, hingga peningkatan amonia dapat membuat ikan mengalami stres dan meningkatkan risiko kematian.
Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui laman Digitani menjelaskan bahwa kualitas air yang buruk, termasuk kadar amonia, nitrit, nitrat, dan pH yang tidak sesuai, dapat memengaruhi kesehatan dan kelangsungan hidup ikan nila.
Kondisi air juga perlu diperiksa setelah hujan deras, pergantian air, atau ketika jumlah ikan dalam kolam meningkat.
3. Terjadi Perubahan Air Secara Drastis
KKP mengingatkan bahwa ikan dapat mengalami masalah setelah pergantian air jika air yang digunakan memiliki kondisi yang tidak sesuai.
Misalnya, air tiba-tiba mengandung klorin atau memiliki kadar oksigen dan pH yang berbeda.
Periksa terlebih dahulu sumber air yang digunakan. Jika menggunakan air dari sumber tertentu yang memiliki karakteristik berbeda dengan air kolam, lakukan penyesuaian secara bertahap.
Baca Juga: Tips Budidaya Ikan Nila: Cara Menentukan Ukuran Kolam yang Ideal
4. Jumlah Ikan Terlalu Padat
Semakin banyak ikan dalam satu kolam, semakin besar kebutuhan oksigen dan semakin banyak pula kotoran yang dihasilkan.
Jika tidak diimbangi dengan pengelolaan air dan aerasi yang baik, kondisi tersebut dapat membuat kualitas air menurun.
Anda perlu menyesuaikan jumlah ikan dengan ukuran kolam dan sistem budidaya yang digunakan.
5. Sisa Pakan dan Kotoran Menumpuk
Sisa pakan yang tidak dimakan ikan dapat menjadi bahan organik di dalam kolam. Begitu pula dengan kotoran ikan yang terus menumpuk.
Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat menyebabkan kualitas air memburuk dan meningkatkan senyawa yang berbahaya bagi ikan.
Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang, misalnya, menyebut pengelolaan kualitas air perlu disertai pengurangan limbah organik dan penggantian air secara parsial sesuai kondisi kolam.
Baca Juga: Jumlah Ikan Nila dalam Kolam yang Ideal Berdasarkan Luasnya
6. Ikan Sakit
Penyakit juga dapat menjadi penyebab ikan nila mati mendadak, terutama jika kematian disertai perubahan kondisi fisik atau perilaku ikan.
Sebelum mati, ikan mungkin terlihat lemas, kehilangan nafsu makan, berenang tidak normal, atau menunjukkan perubahan pada tubuh.
Namun, Anda sebaiknya tidak langsung menyimpulkan ikan terkena penyakit hanya berdasarkan kematian.
Periksa lebih dulu faktor-faktor lain yang dibahas sebelum ini.
Jika kematian terus terjadi meski kondisi air sudah diperbaiki, Anda dapat meminta bantuan penyuluh perikanan atau tenaga kesehatan ikan untuk mengetahui penyebabnya.
Baca Juga: Kapan Ikan Nila Bisa Dipanen? Pahami Umur dan Ukuran Idealnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News