KONTAN.CO.ID - Mari cermati cara menjaga kualitas air kolam ikan nila agar tetap bersih, sehat, dan tidak mudah menyebabkan kematian.
Kualitas air menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan selama budidaya ikan nila. Kondisi air yang buruk dapat mengganggu pertumbuhan dan kesehatan ikan.
Anda perlu memahami bahwa air kolam tidak cukup hanya diisi sebelum benih ditebar. Anda sebagai pembudidaya juga perlu memantau kondisinya secara rutin selama ikan dipelihara.
Perubahan warna air, bau tidak sedap, ikan sering muncul ke permukaan, atau ikan menjadi kurang aktif dapat menjadi tanda bahwa kondisi kolam perlu diperiksa.
Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam merawat air kolam budidaya ikan nila.
Baca Juga: Cara Menyiapkan Kolam Ikan Nila Sebelum Benih Ditebar, Catat Tahapannya
Periksa Kondisi pH Air dan Oksigen Secara Rutin
Beberapa parameter yang perlu diperhatikan antara lain suhu, pH, dan oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO).
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng menyebut kisaran pH sekitar 6,5-8,5 sesuai untuk budidaya ikan nila.
Dinas tersebut juga mencatat kebutuhan oksigen terlarut minimal sekitar 5 mg/L untuk mendukung pertumbuhan optimal ikan nila.
Jika kadar oksigen terlalu rendah, ikan dapat mengalami gangguan pertumbuhan dan menunjukkan perubahan perilaku.
Kondisi tersebut terlihat dalam pembinaan budidaya nila di Buleleng pada 2026. Hasil pemeriksaan menunjukkan DO hanya sekitar 2,53-4,71 mg/L dan dinilai masih rendah untuk pertumbuhan optimal.
Baca Juga: Tips Budidaya Ikan Nila: Cara Menentukan Ukuran Kolam yang Ideal
Jangan Biarkan Sisa Pakan Menumpuk
Pakan yang tidak habis dapat mengendap dan menjadi bagian dari bahan organik di dalam kolam. Jika dibiarkan, kondisi air dapat memburuk.
Karena itu, pemberian pakan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan ikan.
Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur dalam panduan budidaya nila sistem bioflok juga menganjurkan pemberian pakan sedikit demi sedikit dan memperhatikan apakah pakan dapat dihabiskan ikan.
Jika pakan sering tersisa, Anda perlu menghitung kembali jumlah yang diberikan.
Kotoran ikan dan sisa pakan dapat mengendap di dasar kolam. Jika jumlahnya terlalu banyak, endapan tersebut perlu dikeluarkan agar tidak terus menumpuk.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah penyifonan atau penyedotan kotoran dari dasar kolam.
Baca Juga: Jumlah Ikan Nila dalam Kolam yang Ideal Berdasarkan Luasnya
Perhatikan Warna dan Bau Air
Air yang berubah warna secara drastis, terlalu pekat, berbusa secara berlebihan, atau mengeluarkan bau tidak sedap perlu diperiksa lebih lanjut.
Tapi perlu dipahami juga bahwa air yang terlihat jernih belum tentu memiliki kualitas yang baik jika pH atau kadar oksigennya bermasalah.
Karena itu, pengamatan secara langsung sebaiknya tetap disertai pemeriksaan parameter air menggunakan alat ukur jika tersedia.
Baca Juga: Kapan Ikan Nila Bisa Dipanen? Pahami Umur dan Ukuran Idealnya
Jangan Sembarangan Mengganti Air
Penggantian air sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi kolam dan sistem budidaya yang digunakan.
Pada sistem bioflok, misalnya, pengelolaan air dilakukan dengan mempertahankan kondisi flok sehingga tidak sama dengan sistem kolam konvensional.
Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur bahkan mencatat sistem bioflok dapat menghemat penggunaan air karena tidak membutuhkan penggantian air setiap hari. Dinas Perikanan Kab. Kotim
Jadi, sebelum mengganti air, Anda perlu mengetahui sistem budidaya yang digunakan dan penyebab kondisi air memburuk.
Baca Juga: Ukuran Kandang Ayam yang Ideal, Ini Patokan yang Perlu Diketahui
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News